Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Monday, 18 October 2010

Eat Pray Love

toto zurianto


Kadang-kadang, ketika kita secara sungguh-sungguh mencoba mengejar cita-cita kita sendiri (to help yourself), tiba-tiba, akhir dari pengejaran itu, ternyata, banyak sekali yang memberikan manfaat bagi orang lain (............ it end up helping tutti, everyone).

Film, Novel, Cerita Perjalanan, juga Cerita-cerita orang tua, atau Kisah-kisah kenabian, Cerita Spritual, juga cerita Kuliner, tetapi terutama Cerita Cinta, sering berperan seperti candu yang memabukkan. Membuat pembacanya terpesona, ingin mengalami peristiwanya, ingin merasakan kehangatan dan pelukan kekasihnya seperti cerita itu!

Kita pernah terpesona dengan Harry Porter, kita mengikuti terus ceritanya Andrea Hirata. Atau bagi generasi Pak Haidar Bagir, atau generasi “saya”, kitapun pernah menjadi tidak sabar mengharapkan kedatangan Marga T yang piawai meracuni kita dengan Karmilanya, atau kisah percintaan seputar mahasiswa dan kampus. Bahkan, siapa diantara kita yang tidak kenal Eddy D. Iskandar yang melahirkan Gita Cinta Dari SMA dan Berlalu Dalam Sunyi yang menghanyutkan dan membuat kita menangis!

Sama seperti ketika kita membaca buku ini, ya Elizabeth Gilbert, dan kemudian ketika kita menonton filmnya yang manampilkan Julia Robert, juga artis pengalaman kita Christine Hakim dalam Eat Love and Pray, sungguh membuat kita menjadi terpesona.

Tentu saja, terutama bagian III buku ini yang dimulai dari Chapter 73 yang kesemuanya berkisah mengenai Indonesia, tentang Bali, dan terutama romantika pedesaan, persawahan dan pegunungan di Ubud.

Semua kita menjadi lebih egois, bahkan banyak diantara kita yang meninggalkan Bagian I, kisah-kisah Elizabeth Gilbert di Itali, yang selama 4 bulan dia mengembara, sambil berusaha mempelajari bahasa Itali yang telah diidam-idamkannya sejak kecil.

Bagi kita, Italia menjadi kurang menarik, sama seperti kita mengikuti Bab II yang mengambil kisah perjalanan yang lebih spritual di India. Kebanyakan kita, saya terlebih-lebih, menjadi tidak sabar dan ingin segera menikmati perjalanan Elizabeth di Ubud!

Saya tidak tahu, tetapi saya berusaha lebih objektif, memang terasa, bagian I dan bagian II cerita ini, tidak pernah melahirkan peristiwa-peristiwa yang mengejutkan bagi pengarangnya. Tidak ada hal yang kuat yang bisa menempatkan peristiwa belajar bahasa (Itali) sebagai sebagai kejadian yang akan membekas di sanubari pengarangnya. Mungkin peristiwa di India sedikit lebih menarik, terutama memperhatikan kisah dan pesta perkawinan yang mau tidak mau bersinggungan dengan peristiwa yang dialami oleh Elizabeth Gilbert yang mendorongnya untuk melakukan perjalanan di 3 negara.