Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Thursday, 21 April 2011

Ekonomi Pertanian Kita; Kenapa (harus) mengimpor Buah?

toto zurianto


Salah satu fenomena ekonomi (kecil) yang ternyata telah mewarnai hampir setiap sudut perkotaan dan perkampungan di negeri kita adalah semakin banyaknya buah-buah impor yang terpaksa harus kita konsumsi dalam 10 - 20 tahun terakhir ini.
Sekitar tahun 90-an, buah impor, terutama jeruk (mandarin), anggur, apple (washington), pier, dan lain-lain, tidaklah mudah kita jumpai di sembarang tempat. Paling-paling kita hanya bisa menjumpainya di beberapa toko buah atau supermarket di kota-kota besar.
 
Tapi kini, semuanya berbeda. bahkan di kota kecamatan dan pedesaaan, tidak hanya di pulau Jawa, bahkan sampai ke pelosok Kalimantan dan Ternate, atau di pedalaman Irian, kitapun dengan mudah bisa membeli buah-buah impor. Setidaknya Apple Fuji (Cina) dan Jeruk Lokam atau Mandarin yang juga diimpor dari Cina. Kalau di Supermarket, bahkan buah Pisang, Duren, Mangga yang sangat Indonesia banget, kini sebagiannya adalah buah yang harus kita impor.
 
Kenapa ekonomi buah impor begitu besar porsinya saat ini dan bahkan telah mendominasi buah-buah lokal yang keadaannya menjadi semakin terdesak? Tidak lain adalah karena, pertama, harganya yang murah. Jelas konsumen buah kita yang sebelumnya tidak mampu untuk mengkonsumsi buah (lokal), dengan harga yang lebih murah, maka buah impor telah dijadikan sebagai pilihan penting yang akan dikonsumsi. Bandingkan harga antara apple Malang dengan Apple Fuji dari Cina, yang satu sekitar Rp25.000 per kilogram, sementara Apple Fuju bisa kita bayar hanya sekitar Rp15.000 saja. Begitu juga dengan Jeruk Mandarin yang bisa kita bayar Rp15.000 sekilo, sedangkan untuk jeruk lokal, seperti Jeruk Medan yang pasokannya tidak teratur, kita perlu membayarnya hingga Rp20.000 sekilo. Soal harga, tentunya persoalan besar yang membuat masyarakat kita mau tidak mau dan terpaksa, memandang sebelah mata kepada buah-buahan lokal. Tidak ada "nasionalisme" untuk pilihan seperti ini. Secara rasional, kita perlu efisien untuk memenuhi kebutuhan buah, dan pilihannya tentunya pada buah-buahan yang harganya jauh lebih murah.
 
Faktor kedua, ketersediaan buah impor yang dijamin ada sepanjang tahun. Ini masalah yang berhubungan dengan strategi ekonomi pertanian kita. Ini adalah masalah-masalah yang erat kaitannya dengan kemampuan pemerintah untuk merumuskan kebijakan sektor pertanian, khususnya pertanian buah-buahan. Dalam bahasa pengetahuan, ketersediaan pasokan sepanjang tahun adalah hal-hal yang berhubungan dengan kompetensi perbuahan dan perdagangan kita. Tentu saja sangat menjengkelkan apabila hal ini dikaitkan dengan persoalan musim, apakah musim hujan atau musim kemarau. Kondisi alam negeri kita yang relatif stabil sepanjang tahun, yaitu hanya terdapat 2 musim yang tidak ekstreem, yaitu musim penghujan (yang tidak selalu harus hujan setiap tahun), dan musim kemarau (yang sewaktu-waktu tetap ada hujannya), bukanlah kambing hitam yang baik. Kemampuan kita, melalui teknologi yang diyakini akhir-akhir ini sudah berkembang pesat, diperkirakan akan mampu mengatasi persoalan musim sehingga bisa menjamin ketersediaan buah sepanjang tahun secara lebih baik.
Kalau aspek supply ini tidak mampu kita kendalikan secara baik, maka, gejala harus selalu mengkonsumsi buah impor, tidak mungkin bisa kita hindari. Kita perlu secara serius memperhatikan situais ini, termasuk hubungannya dengan para pedagang politisi yang berusaha mendapatkan keuntungan dari pemanfaatan buah impor secara besar-besaran.
 
Hanya 2 inilah sebagai faktor utama yang menyebabkan kita dapat kehilangan devisa ratusan juta dollar sepanjang tahun hanya dari sektor perbuahan. Ini semuanya berhubungan dengan pengelolaan perekonomian yang paling basic, yaitu menyangkut ekonomi pertanian dan hubungannya dengan political economy kita. Apabila kita tidak menganggap situasi ini sebagai alert bagi ekonomi bangsa kita, maka lagu Kolam Susunya Koes Plus menjadi tidak relevan lagi untuk kita yakini kebenarannya. Tanah yang subur yang membuat setiap Tongkat Kayu dan Batu menjadi Tanaman (yang bermanfaat) menjadi semakin hilang. Masa kini dan masa depan adalah pertaruhan bagi negeri yang subur ini. Mari kita pikirkan bersama, data Kementerian Perdagangan kita, ekspor buah kita tahun lalu (2010) tercatat hanya US$297,9 juta. lalu berapa impor kita pada tahun yang sama? Jumlahnya mencapai US$655,4 juta.
 
Apabila kita tetap memperkirakan konsumsi buah akan semakin meningkat di tahun-tahun yang akan datang, terutama akibat semakin meningkatnya upaya masyarakat kita untuk menjalani hidup dengan cara yang lebih sehat, antara lain melalui buah-buahan, makan kebijakan ekonomi pertanian dan perdagangan harus memperhatikan fenomena ini. Mari menciptakan buah-buah lokal yang bisa diperoleh sepanjang tahun, dengan penampilan yang baik, dengan distribusi yang murah dan cepat, tentunya harganya bersaing!