Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Wednesday, 13 November 2013

Siapa Pemilik Masa Depan?

toto zurianto



Jaron Lanier,  adalah salah satu pemikir dan penulis yang karyanya akhir-akhir ini banyak dibaca dan dijadikan referensi bagi peminat teknologi informasi, kemanusiaan, dan kepemimpinan. Sebelumnya dia pernah menulis “You are Not a Gadget” yang seperti “Who Owns the Future”, juga menjadi best seller.
Sebagai pemikir dan ilmuwan di bidang teknologi informasi  dan computer scientist, ia juga seorang musisi. Tetapi, terutama yang paling penting, dia adalah seorang perintis (pioneer) dan innovator yang meramalkan terjadinya transformasi budaya teknologi (dansisteminformasi) dalam kehidupan masyarakat. Bukan hanya membangun efisiensi dan efektivitas organisasi, tetapi berperan dalam membentuk kultur dan hubungan diantara masyarakat dunia yang tidak lagi mampu melepaskan dirinya dari pengaruh gadget  yang sangat revolusioner.

Transformasi budaya yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan system informasi ini, antara lain terjadi karena kehidupan kita sehari-hari berada dalam dunia digital, atau berbasis teknologi digital.
Karena itu, dalam aspek kehidupan kita, termasuk yang paling penting dalam menetapkan atau memilih seorang pemimpin, maka persoalan teknologi informasi sangatlah besar pengharuhnya. Hampir tidak ada lagi sisi-sisi kehidupan kita yang tidak tersentuh dan tanpa dukungan teknologi digital. Lihat saja disekeliling kita, bahkan seorang pedagang sayurpun, kini selalu harus didukung oleh perangkat mobile phone untuk mengetahui pasokan yang paling baik dengan harga yang paling kompetitif.
Bagaimana kita bisa membayangkan sebuah negara seperti  Indonesia misalnya, lalu harus dipimpin oleh seorang yang tidak memahami dan tidak ikut dalam perkembangan teknologi dan sistem informasi.
Perusahaan photographi sehebat Kodak-pun terpaksa harus gulung tikar antara lain akibat respon pemimpinnya yang lamban dalam mengantisipasi perkembangan dunia digital. Kodak yang sempat mempekerjakan sekitar 140 ribu pegawai dan bernilai US$28 milyar, terpaksa bangkrut dan tidak mampu bangkit lagi. Padahal mereka termasuk pioneer dalam bidang camera digital yang kini menjadi pilihan utama peminat photographi (halaman 2).

Who Owns the Future adalah suatu gambaran yang memperlihatkan bagaimana jaringan perkembangan teknologi selalu menjadi factor penentu yang membuat kehidupan kita menjadi jatuhbangun, apakah menjadi baik ataupun mengalami resesi. Teknologi yang terus berevolusi dan membuat sisi kehidupan seperti menyatu dan lengket dengan teknologi itu sendiri, membuat langkah semua bangsa di dunia selalu harus mempertimbangkan perkembangan teknologi dan sistem informasi.
Tapi, Lanier percaya dan berharap, serta meyakini bahwa dunia digital, terutama melalui jaringan yang dikembangkannya memberikan nilai yang besar bagi kehidupan masyarakat dan bagi transaksi ekonomi masyarakat dunia. Dunia digital bukan membuat kita tenggelam, tetapi justru akan bangkit dan berkembang luas.
Buku setebal 396+xvi termasuk indeks ini cukup menarik dibaca, antara lain karena pengaruhnya yang besar bagi dunia ekonomi dan usaha, demokrasi, persaingan pasar internasional, nilai-nilai kemanusiaan, juga globalisasi dan kompleksitas pasar keuangan.
Bagian Pertama dari buku ini berkisah mengenai hal-hal yang membuat “manusia” melakukan tindakan tertentu untuk meningkatkan nilai tambah kehidupan, yaitu bagaimana membangun motivasi (dengan melakukan sesuatu). Banyak hal yang perlu diluruskan dan dimaksimalkan ketika kita berbicara melalui bahasa teknologi.

Kadang kita terlalu cepat untuk menyalahkan teknologi sebagai faktor penghambat dalam melakukan perubahan. Bahkan ketika kita tidak mampu bersaing, kita cenderung lebih tradisionil untuk memilih kehidupan yang lebih sederhana tanpa teknologi.
Padahal persoalan kita bukan teknologinya tetapi bagaimana  cara kita berpikir dan menggunakan teknologi yang sering (tidak tepat). The problem Is Not the Technology, but the Way we think about the Technology (halaman 15). Menurut Jaron, bahkan sampai akhir abad ini, kita tidak perlu khawatir dengan perkembangan teknologi yang akan membuat nilai kontribusi manusia menjadi semakin sedikit. Selalu teknologi memberikan harapan baru, juga menyebabkan terbukanya kesempatan kerja karena adanya kemajuan teknologi.

Buku ini sedikit berbeda. Dia bercerita tentang hebatnya perkembangan teknologi dan sistem informasi yang kini begitu besar memberikan pengaruh bagi cara-cara kita melakukan sesuatu, bahkan terutama dalam menjalankan pekerjaan. Tetapi dia juga bercerita mengenai terjadinya perubahan mengenai ilmu pengetahuan itu sendiri, mengenai cara-cara kita merespon kehidupan, soal kemanusiaan (humanisme), wisdom, dan bagaimana respon manusia tehadap lingkungan dan masa depannya. Bahkan tentang sikap kita kepada benda-benda mati, bumi, atau resources. Masih banyak persoalan (dunia) yang belum terjawab. Tetapi menjadikan sesuatu yang kompleks menjadi lebih mudah adalah tantangan kita saat ini ketika teknologi memainkan peran yang lebih luas dan menentukan. 

Buku ini perlu dibaca bagi para profesional, pemimpin, juga pejabat OJK. Pemahaman kita yang luas mengenai teknologi digital dan sistem informasi dan hubungannya dengan pengelolaan organisasi modern dan leadership sebagaimana yang diulas di buku ini, memberi peluang bagi kita untuk menaklukkan dunia modern secara efisien, efektif, dan bermanfaat. Tentu saja semua kita awali di internal organisasi kita, kemudian kita bermain pada level yang lebih tinggi, pada level nasional dan selanjutnya tidak terbatas, pentas duniapun mampu kita capai karena kita memanfaatkan pendekatan dunia digital. Dialah sang Pemilik Masa Depan itu.