Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Friday, 25 March 2011

Kehidupan yang tidak Efisien!

toto zurianto


Bagi kita yang kebetulan tinggal di kota besar, terutama Jakarta, apakah kita pernah menghitung, seberapa besar keborosan yang dikeluarkan masyarakat akibat pola hidup yang tidak efisien?


Ternyata besar juga jumlahnya. Tahun ini, Organda memperkirakan, kita harus mengelurkan biaya sekitar Rp37 triliun akibat kemacetan lalu lintas di kota Jakarta.
Ini suatu pengeluaran yang sia-sia yang sebenarnya bisa lebih dihemat. Kemacetan lalu lintas yang menjadi-jadi di musim penghujan membuat kita terpaksa harus mengeluarkan kantong yang lebih banyak, padahal seharusnya semuanya bisa kita hemat.

Ketidakjelasan dalam menetapkan kebijakan transportasi nasional, terutama untuk kota Jakarta, telah menghabiskan energi kita, dan membuat kita memiliki kemampuan terbatas karena semakin besar jumlah uang yang harus keluar untuk membeli sejumlah bensin.

Kita tidak tahu, kapan kita memiliki sistem transportasi yang baik sebagaimana hal itu telah lebih dulu muncul di Singapore, Bangkok, atau Kuala Lumpur. Ide dan isunya sih sudah lama, tetapi realitasnya, sepertinya tidak lah kunjung menjadi kenyataan.


Kenapa kita begitu lama harus menanti dan selalu menanti? Tidak tahu kita bagaimana jawabannya. Transportasi yang sudah ada saja tidak mampu kita perbaiki (improved). Memberikan ketertiban dan menyamanan terhadap kereta api, sepertinya masih belum menjadi hak bagi semua penumpang. Kitapun masih terlalu sering menyaksikan para pengguna kereta yang harus duduk di atap kereta. Padahal jawal kereta saja masih belum mampu kita kendalikan.

Program Busway kota Jakartapun tidak tahu masa depannya. Hampir setiap saat, jalan khusus (bus-way)yang dilalui Busway, ternyata harus diperbaiki akibat aspal/betonnya yang selalu hancur yang juga mempengaruhi jalan-jalan non busway di ruas jalan metropolitan.

Akibat kesemuanya itu, maka hidup kita sebenarnya secara individu menjadi semakin boros. Ekonomi Boros seharusnya bisa dihindari atau dikurangi, ketika sistem transportasi masal mampu kita hadirkan sampai ke pelosok-pelosokl

Kita menginginkan, adanya sistem transportasi yang bisa mengantar seseorang  dari Pamulang atau Bekasi ke pusat kota Jakarta tanpa harus membeli sepeda motor. Sistem transportasi terpadu yang integrated adalah jawaban dari masalah kemacetan dan pemborosan ekonomi kita. Sampai kapan kita hidup dengan cara yang tidak efisien seperti sekarang?