Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Friday, 7 June 2013

Mencari Pemimpin yang Humble

toto zurianto

Dua hal utama yang disebutkan Jim Collins (Good to Great) sebagai prasyarat seorang pemimpin level 5 (level Five Leadership), yaitu orang yang Professional will (sangat kompeten dan visioner) serta Humble, orang yang rendah hati, memberika kesejukan, membangun semangat, tetapi tidak ragu melakukan kritikan (atau bimbingan) untuk mencapai performance yang lebih hebat.


Pemimpin, pertama, karena kelahiran keputusan, atau secara formal, dia ditetapkan menjadi pemimpin setelah mengikuti rapat atau pertemuan pemangku kepentingan. Ini sebagai modal awal, tetapi, selanjutnya penting untuk mencapai tahap yang terbaik dalam karir dan kepemimpinannya.

Bagi Jim Collins, ini yang kedua penting, pemimpin itu selalu harus profesional dan visioner. Kita sering tidak nyaman ketika menyaksikan pemimpin hanya berkutat pada hal-hal kecil, hal-hal sederhana, dan cenderung mengulang-ulang apa yang sudah pernah dilakukan pada waktu sebelumnya. Pemimpin seperti ini, yang bekerja tanpa visi kuat, tetapi dengan gaya yang sedikit keras dan "rada tengil", banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi jangan heran, di zaman modern sekarang ini, banyak juga pemimpin yang percaya tahayul dan perdukunan. Ini sebenarnya pernah dicacat Mochtar Lubis di sekitar tahun 70-an yang disebutnya sebagai ciri manusia Indonesia yang tidak saja munafik (hipokrit), juga percaya tahyul.

Hati-hati, kalau di organisasi modern seperti Bank Indonesia, banyak juga orang yang percaya tahyul dan dukun, sehingga orang yang sebelumnya setengah intelektual (educated), tidak jarang terjerumus juga ke lembah praktek perdukunan seperti ini.

Jadi, sekali lagi, jangan lupa, pemimpin adalah orang yang memiliki kompetensi teruji, selalu menggunakan akal sehat, dan mempunyai visi ke depan yang luas (forward looking).
Terakhir, pemimpin modern, selalu menampilkan ketegasan dan kelembutan. Kita banyak melihat pemimpin yang memiliki visi kuat, tetapi kurang menghargai manusia. Ini sejelek-jeleknya pemimpin. Pemimpin adalah orang yang dihormati, dihargai, di-respek, karena kehebatannnya. Tetapi sekaligus dicintai dan dirindui karena penghargaannya yang tinggi kepada orang lain. Pemimpin, bukan orang yang berjarak puluhan atau ratusan kilometer dari orang yang dipimpin. Pemimpin, hanya berjarak satu meter, atau satu lembar kertas saja dengan orang yang dipimpin, atau anak buahnya. Karena itu, semuanya perlu memberikan respek kepada siapapun, apakah ke atasan, atau ke bawahan, kepada orang yang lebih tua, atau kepada seorang yang lebih muda. Hubungan-hubungan seperti ini yang akan membuat suatu organisasi menjadi hebat (great) dan saling trusted yang akhirnya bisa meningkatkan kinerja organisasi.

Kitapun mempunyai peran untuk membangun organisasi kita, apakah sebagai pemimpin, atau sebagai orang yang dipimpin. Bekerja, disamping memberikan kontribusi kepada lembaga atau organisasi, juga memberikan respek kepada siapa saja yang ada di sekitar kita. Itulah yang membuat diri kita menjadi terhormat dan dihargai.