Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Wednesday, 22 May 2013

Pedagang Cina Glodok

toto zurianto

5/20/2013


Kawasan Kota, termasuk wilayah Glodok, sejak zaman Belanda telah menjadi pusat usaha dan pemukiman pengusaha etnis Tionghoa di Jakarta. Saat ini lokasi utama pedagang Glodok meliputi; Glodok Jaya (Hayam Wuruk), Glodok Plaza (Harco), Pinangsia, dan Glodok City. Masing-masing lokasi, biasanya memiliki spesialisasi barang dagangan tersendiri, apakah elektronik, AC dan alat pendingin, Gen Set (generator electric), perlengkapan rumah tangga, mesin-mesin, dan lain-lain.
Kawasan ini sudah hadir sejak zaman Belanda dan dirintis oleh generasi pertama penguasa Tionghoa yang menjalankan usahanya secara sangat sederhana melalui kerja keras yang djalankan bertahun-tahun dalam ikatan kekeluargaan yang ketat.

Bisnis Cina Glodok, atau pengusaha etnis Tionghoa kawasan Glodok, bahkan sampai saat sekarang, yang kini mulai dijalankan oleh generasi Ketiga, atau cucu dari para pendiri, umumnya tetap sebagai usaha bisnis tradisionil, tetapi dengan omset yang bisa sangat besar. Beberapa ciri dasar yang bisa kita temui antara lain, masih sangat banyak diantara mereka yang bekerja atas dasar kepercayaan dan hubungan kekeluargaan yang tinggi. Sentuhan modern memang sudah biasa ditemui di kawasan Glodok, tetapi cara mereka bekerja sungguhnya sangatlah tradisionil. Dimulai dari toko-toko kecil yang dilayani oleh para anggota keluarga tidak banyak yang didukung oleh kaum profesional yang bukan keluarga.

Lalu secara umum, pebisnis kawasan ini umumnya mengandalkan aspek kekeluargaan dan kejujuran yang luar biasa. Tidak jarang, bahkan menjadi pemandangan sehari-hari yang mudah ditemui, bagaimana kegiatan pinjam-meminjam uang diantara mereka bisa berlangsung dalam hitungan detik atau menit untuk transaksi pinjaman yang mencapai nilai ratusan juta Rupiah. Tidak ada perjanjian hukum yang dibuat, apalagi alat analisis seperti yang dilakukan oleh pihak perbankan (modern), bahkan sering tanpa kejelasan dan dukungan barang jaminan. Semua perjanjian hanya ditulis tangan pada kertas bekas yang memperlihatkan jumlah uang yang dipinjam beserta tanda tangan peminjam. Tidak ada kata-kata janji atau bea materai, semuanya adalah kepercayaan yang diwujudkan dalam bentuk kemudahan yang luar biasa.

Kepercayaan adalah nilai utama yang berlaku umum di kawasan Glodok yang secara umum, seluruh pengusaha atau pedagang pada masing-masing kawasan, sudah saling mengenal satu sama lain, bahkan asal muasal orang tua dan kebiasaan-kebiasaan yang sering mereka lakukan. Tetapi bagi orang-orang yang dinilai telah melanggar aturan umum yang mereka jalankan, secara mudah, menjalankan hukuman sosial yang sangat berat sehingga terpaksa harus angkat kaki dari kawasan tersebut.

Dengan cara seperti itu, banyak konglomerat Indonesia yang ternyata awalnya memulai usahanya secara tradisionil dan kekeluargaan dari kawasan Glodok ini. Bahkan beberapa perusahaan modern Indonesia adalah orang-orang yang selama puluhan tahun menjalankan usaha secara kekeluargaan dan tradisionil, seperti yang kini mulai hadir sebagai supermarket bisnis keperluan rumah dan kantor secara modern, seperti; Ace Hardware, PT Kawan Lama, atau Kenari Jaya yang kini menjadi raja Kunci di Indonesia.

Beberapa keluarga ternama juga mengawali karirnya di kawasan ini, seperti Mochtar Riady, Liem Sioe Liong, termasuk keluarga Haji Achmad Bakrie. Kita tidak tahu bagaimana kawasan Glodok di masa akan datang. Hanya saja yang selalu dipertahankan oleh pebisnis Cina dari kawasan Glodok adalah untuk selalu bekerja keras dan mempertahankan kejujuran, serta sikap hidup hemat (efisien) yang selalu tidak ingin berlebih-lebihan.