Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Friday, 28 November 2014

Gelombang Dee Dewi Lestari

toto zurianto


Membaca buku sama seperti menonton sinetron, selalu tidak pernah berhenti. Muncul sesuatu yang baru, dan yang baru lagi. Da cerita baru, ada karakter baru, dan selalu seperti itu. Dulu ketika aku SMA, cerita Kho Ping Ho adalah bacaan wajib, menarik dan tidak pernah berhenti. Betahun-tahun, aku berusaha mengikuti berbagai seri Kho Ping Ho. Tetap saja nikmat dan dapat dinikmati.
Membaca Supernova-nya Dee mungkin begitu juga, terutama Gelombang yang belum lama terbit.  Dua minggu lalu aku mulai membaca Gelombang. Hanya beberapa jam, aku menyelesaikan sepertiga bagian Supernova. Terutama bagian di Amerika Selatan yang cukup menarik untuk diikuti. Lalu sempat berhenti beberapa hari. Kemudian, bagian paling menarik adalah ketika kita dibawa Dee untuk memahami cerita awal kehidupan masyarakat Batak dari daerah asalnya. Termasuk yang tidak banyak diketahui oleh bukan orang Batak, yaitu sejarah dan perkembangan agama asli suku Batak Parmalim.
Kisah si Ichon, atau si Thomas Alfa Edison, dari pinggir Danau Toba, petualang seru yang dialaminya, bahkan perjalanannya sampai ke Jakarta.

Awal cerita adalah tentang Gio, di sebuah tempat di kawasan belantara di Amerika Selatan, di Peru. Gio bersama Paulo an beberapa temannya masih berada di Taman Nasional Bahuaja-Sonene. Mereka sedang mencari Diva Anastasia yang hilang di kawsan itu, di lembah Amazon yang ganas. Sudah lebih 2 bulan, tanpa ada tanda-tanda ditemukan. Bagi Gio, yang berasal dari Jakarta, Diva adalah sangat sesuatu yang membuatnya tidak bisa berhenti untuk mencari dan menemukannya.

Lalu kisah Ichon, sejak peristiwa dahsyat di kampungnya, meningggalkan tanah Batak menuju Jakarta, dan kemudian ke New York. Dia sukses, tidak saja berubah dari seorang imigrant gelap, lalu jadi mahasiswa di Cornell. Kemudian, menjadi ahli keuangan yang hebat di sebuah lembaga keuangan di Manhattan New York.
Hanya Ichon tetap mengalami persoalan mimpi yang tidak berhenti dan berpotensi menghilangkan nyawanya, sejak di kampung, di Jakarta, bahkan sampai ke New York. Selanjutnya dia berusaha menyelesaikan masalah itu bahkan sampai ke Tibet dan berakhir disana. Kisahnya belum selesai tetapi memperlihatkan adanya perbaikan yang nantinya (mungkin) akan diselesaikan di Indonesia pada episode Inteligensi Embun Pagi. Kini Ichon sedang dalam perjalanan menuju Jakarta, mungkin kembali lagi ke kampungnya di tepi Danau Toba untuk menuntaskan semua yang diawalinya sejak kecil.
Mungkin kisah ini harus seperti ini. Belum bisa ditebak bagaimana akhirnya. Bukan seperti Perahu Kertas yang lebih romantis dan memberikan kesan percintaan yang dahsyat. Atau seperti Madre yang perjalanannya begitu indah untk dinikmati. Selamat menunggu akhirnya.