Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Monday, 27 April 2015

Perang antara Kebenaran dengan Kebatilan in Avenger; the Age of Ultron

toto zurianto

Sejak minggu lalu, bioskop Indonesia kembali ramai dikunjungi, terutama anak remaja dan para penggila thema-thema pertempuran dan animasi modern. The Avenger seri terbaru kembali menghampiri Indonesia dan dunia. Film ini menjadi sesuatu yang harus ditonton. Sejak Jumat, Sabtu dan Minggu, saya lihat puluhan dan bahkan ratusan orang berbaris seperti semut mengantri untuk mendapatkan tiket. Para orangtua bersama keluarga, terutama anak-anaknya, semua mau menonton pertempuran antara para pembela kebenaran yang antara lain terdiri dari Iron Man, Captain America, Thor, The Incredible Hulk, Black Widow, dan Hawkeye dan banyak lagi. Kali ini mereka mencoba melindungi bumi dari serangan Ultron yang mengancam kehidupan.

Sebenarnya para penghancur dunia (pasukan  Robot Ultron) sendiri awalnya diciptakan untuk tujuan baik. Tapi, karena kehebatannya, robot-robot inipun berubah, berpikir sendiri, dan menjadi sangat ganas.
Dunia memang selalu berisi peperangan, antara kelompok yang menyatakan dirinya "baik" dengan lawannya yang disebut "penjahat". Dan ini, seperti film-film Holywood yang lain, berhasil menyihir dunia, menyihir kita, terutama anak-anak kita untuk menyambut Film heboh ini. Sementara itu, Film-film nasional yang juga bagus, seperti Filosopi Kopi, Guru Bangsa Tjojroaminoto, atau Turis Romantis, menyingkir, mungkin hanya ditonton oleh orang tua dan hanya segelintir. Ya kini Ultron sedang menghancurkan kita, Film-film nasional kita. Kenapa ya menjadi seperti ini? Perlu ada strategi dan cara untuk mengatasi hal ini. Nonton Ultron jelas tidak dilarang, tapi nonton Filosopi Kopi dan Film Indonesia lain, mungkin harus kita galakkan juga.