Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Saturday, 6 June 2015

Kopi Aming at Pontianak

toto zurianto

Sore ini, aku ke Kopi Aming di Jalan Haji Abas. Ramai, semua tempat duduk penuh. Hampir semua laki-laki. Kedai kopi yang cukup luas, sekitar 3 pintu ruko besar, sampai ke bagian depan, memang menjadi salah satu pusat kongkow masyarakat kota Pontianak. Apalagi sore itu di layar besar televisi, ada siaran langsung pertandingan Bulutangkis Ganda Putra antara tim Indonesia melawan Tim Jepang.
Karena suasana Kedai Kopi yang terlihat sangat penuh, aku langsung mendatangi meja kasir, dan menanyakan apakah masih ada kursi. Hanya beberapa saat, setelah melihat ke layar monitor (screen CCTV), aku langsung dipersilahkan menuju salah satu tempat yang kebetulan memang kosong. Lumayan hebat, sang manajer (mungkin keluarga pemilik), dengan screen CCTV sederhana bisa langsung menunjuk tempat yang kosong. Lumayan, tidak perlu menunggu lama.

Tujuanku hanya satu, segelas kopi hitam pekat tanpa susu yang menjadi ciri khas Kedai Kopi Aming seperti gambar ini yang disajikan dalam gelas khusus Kedai Kopi Aming.





Hanya beberapa menit, Kopi Kental Hitam yang kupesan tiba di meja.  Gelasnya bagus, sayang menggunakan sendok bebek untuk makan bubur (ayam). Tapi tidak mengapa, rasanya enak. Di atas sedang, hitam dan kental dengan aroma kopi Robusta sedikit dicampur kopi Arabika. Aku tidak tahu asal kopi ini. Tapi sepertinya di wilayah Kalimantan Barat tidak ada tanaman kopi Arabika. Tapi yang penting, rasanya cukup okay. Sedikit mirip sajian Kopi Sedap dari Pematang Siantar.

Di Kedai Kopi Aming, minum kopi, bisa ditemani makanan (agak) berat, seperti nasi goreng, kweetiau, atau bakso. Tapi sore ini belum waktu yang pas untuk makanan seperti itu. Jadi aku hanya memesan Roti kecil yang tengahnya diisi selai, atau serikaya. Rasanya biasa, bahkan serikayanya tidak seperti Serikaya Poenam (Makassar) atau Serikaya Kopi Sedap (Siantar) yang dahsyat.

Menurut cerita seorang teman, Kopi Aming tidak pernah sepi sepanjang hari mulai pagi sampai malam. Sore itu, sekitar jam setengah enam, kurasa ada 100 orang yang sedang kongkow menikmati kopi sambil nonton siaran langsung bulutangkis. Kopi Aming memang beda. Tapi seperti Kedai Kopi lain yang ada di Kota Pontianak, suasananya selalu ramai, sempit, tidak terlalu (bersih). Kopi Aming adalah tempat minum kopi, kongkow, relax, dan pergaualan ala kota Pontianak.







Post a Comment