Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Monday, 7 June 2010

Band Lokal Indonesia Tahun 70-an

toto zurianto

Kalau sekarang, musik Indonesia berkembang dengan sangat pesat, terutama group musik, sebenarnya tahun 70-an sampai 80-an juga menunjukkan graphik yang mirip. Indonesia pernah mengalami era Band-band (group musik) yang diawali oleh munculnya Koes Plus (Koes Bersaudara) sejak sebelum tahun 1970. Mereka, dengan mengambil gaya bermusik seperti the Beatle dengan lirik dan melodi yang sederhana, berhasil selama lebih dari 10 tahun merajai pentas musik Indonesia, termasuk keberhasilannya menciptakan lagu-lagu terkenal dan menjualnya ke seluruh Indonesia. Di Jakarta, ketika itu, yang muncul tidak hanya Koes Plus, tetapi juga diikuti oleh band-band lain yang cukup beken, antara lain Panjaitan Bersaudara (Panbers) yang merilis album Akhir Cinta sebagai best album yang masih tetap diminati sampai sekarang.

Band-band ibukota lain yang tidak mau kalah, misalnya; D'Lloyd's, Rasella dan Ivo's Group. Tetapi secara bersamaan, Group Musik lokal juga tidak kalah hebat, bahkan mampu mengembangkan sayapnya secara nasional. Dari Bandung yang paling terkenal adalah Trio Bimbo, Group Bimbo (Trio Bimbo + Iin Parlina). Ratusan lagu sempat dikeluarkan oleh Group Bimbo yang dimotori oleh Sam, Acil, dan Jaka. Bandung-pun selanjutnya menjadi kiblat musik Indonesia disamping Jakarta, misalnya melalui The Rollies yang juga berpengalaman bermain di luar negeri dan sempat menerbitkan album di Singapore. Rollies yang bermetamorfosis melalui berbagai formasi, termasuk The New Rollies di tahun 80-an, adalah salah satu group musik yang banyak memainkan musik-musik brass ala James Brown. Group Musik dan Musisi Bandung lain yang mewarnai blantika musik Indonesia antara lain, Freedom (Freedom of Rhapsodia), Giant Step, Harry Rusli Group, dan Super Kids.

Di Surabaya, kitapun pernah mendengarkan sebuah kelompok Underground yang paling terkenal, AKA Group. Group Rock yang dimotori Ucok Harahap ini, tercatat sebagai salah satu band paling terkenal, tidak hanya melalui aksi panggungnya, tetapi beberapa albumnya sempat bertengger di tangga radio di seluruh Indonesia. Pemuda tahun 70-an umumnya tidak bisa melupakan beberapa nomor AKA yang paling terkenal, seperti Badai Bulan Desember, Dunia Buram, dan Grazy Joe! Tetapi Surabaya bukan hanya AKA. Ada sebuah Group manis yang lebih banyak membawakan lagu-lagu pop, dialah the Gembell's, anak-anak Unair dan ITS, antara lain Victor Nasution yang bertindak sebagai vocalistnya. Gembell's sendiri akronim dari Gemar Belajar, menunjukkan bahwa, meskipun menjadi anak band, mereka tetap concern belajar sebagai mahasiswa. Beberapa lagu top yang dihasilkan the Gembell's antara lain; Kota Pahlawan, Sura dan Buaya.

Di beberapa kota lain, masih ada band lokal yang memiliki banyak penggemar, tetapi kurang dikenal di daerah lain, misalnya di Medan kita bisa menemukan band The Rhythm Kings, the Great Session, dan the Minstrel's. Padang melahirkan Band Lime Stone yang dimiliki oleh PT Semen Padang, dan Mariani's Band milik Hotel Mariani's Padang. Di Palembang terkenal dengan band The Golden Wing yang melahirkan lagu Mutiara Palembang.

Kini, semua band-band tersebut bisa dikatakan sudah 90% hilang, ada yang bubar, ada yang jarang main, tentu saja, banyak juga musisinya yang sudah cukup tua dan tidak lagi bermain musik (sekitar 60-70 tahun). Bahkan beberapa sudah meninggal dunia. Hanya saja, bagi generasi 70-an, mendengarkan dan memainkan lagu-lagu mereka adalah obat kerinduan yang selalu menaik untuk dinikmati.
Post a Comment