Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Thursday, 3 June 2010

Garuda Kembali ke Eropa!

toto zurianto

1 Juni 2010 adalah hari bersejarah bagi Garuda, maskapai negara (carrier flag) yang dalam tahun-tahun terakhir tidak mampu dan juga dilarang untuk terbang ke benua biru itu. Sebagai anak bangsa kita bolehlah berbangga, kini setidak-tidaknya pesawat kita (wakil Indonesia) sudah bisa kita saksikan di lapangan udara Schipol, Amsterdam dan Dubai, Uni Emirat Arab sebagai pelabuhan transit.

Untuk hidup dan bersaing dalam dunia penerbangan modern, bukan mudah, dan tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas dari pemerintah. Garuda, sama seperti penerbangan kelas dunia lain, dituntut untuk mampu profesional dan mengandalkan kemampuannya sendiri. Garuda harus bisa mencari pesawat sendiri, beli tunai atau kredit (leasing), atau pinjam pesawat. Garuda juga tidak bisa mengandalkan pelanggan negara, seperti adanya kewajiban kepada pegawai negeri untuk menggunakan pesawat Garuda apabila bepergian di dalam dan ke luar negeri. Garuda pada dasarnya sama dengan maskapai nasional lain yang perlu "berjuang" untuk mendapatkan pelanggan, perlu bersaing untuk mendapatkan pesawat yang murah, dan diharuskan membayar hutangnya seperti penghutang lain tanpa ada fasilitas negara.

Perubahan cara pandang (paradigma) dalam mengelola bisnis penerbangan, khususnya dalam mengelola penerbangan Garuda, merupakan keharusan. Manajemen perlu diberikan kebebasan dalam memilih option-option terbaik yang akan dilakukan, sehingga bisa memberikan hasil yang lebih baik.

Garuda harus bisa berdiri sejajar dengan maskapai penerbangan internasional lain, bahkan dengan Singapore Airline. Tentu saja kita tidak perlu menunggu hingga memiliki pesawat Airbis A380 untuk mampu bersaing dengan Singapore. Garuda, saya meyakini akan mampu bersaing dan memberikan pelayanan yang sama baiknya dengan yang diberikan Singapore Airline, bahkan saya yakin bisa lebih baik dari itu. Kini dengan armada Airbus 330-200 yang baru, meskipun lebih kecil dibandingkan dengan B747 atau A380, Garuda tetap mempunyai peluang untuk merebut pasar internasional yang sudah terlalu lama ditinggalkan. Apalagi Garuda sudah berencana akan mendatangi 10 pesawat B777 300 ER terbaru yang mulai masuk tahun 2011.

Momen kembali ke Eropa adalah pertanda untuk tidak lagi mundur dan selalu maju. Situasi ini terutama harus didukung oleh manajemen dan SDM yang profesional! Pendekatan lama yang cenderung lebih kekeluargaan, perlu dihilangkan sesegera mungkin. Garuda bukan milik pejabat atau orang-orang tertentu. Garuda adalah milik dari para pembayar yang mempunyai hal untuk mendapatkan pelayanan terbaik tanpa pilih kasih.