Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Wednesday, 28 March 2012

IKEA hadir di Indonesia

toto zurianto


Berita koran kemaren (26 Maret 2012), IKEA perusahaan dan toko atau supermarket furniture terkenal asal Swedia, segera membuka gerainya di Indonesia. Bergandengan dengan Hero Tbk, maka dalam waktu dekat masyarakat Indonesia sudah bisa mendapatkan barang-barang IKEA tanpa harus ke luar negeri.
Barang IKEA memang yahud, not the best, but affordable, very usefulness dan mudah perakitannya. Ini juga kesempatan bagi industri furniture Indonesia, mana tahu ada peluang kerjasama untuk memasarkan produk Indonesia tidak hanya di IKEA Indonesia, juga bagi konsumen manca negara.
Sebagai perusahaan Tbk, berita ini berpengaruh cukup positip pada harga saham Hero yang meningkat sekitar 8% kemaren, naik 1500 point menjadi Rp19.400 per saham.
Di samping itu, persaingan bisnis furniture, kebutuhan kantor dan rumah, juga semakin ketat. Terutama akibat masuknya berbagai perusahaan asing pada 5 tahun terakhir ini, sebut saja Ace Hardware dan Informa, serta Pongs. Tetapi tetap menjadi peluang bagi perusahaan lokal untuk merebut pasar supermarket furniture sepanjang memiliki keunggulan kualitas dan harga yang kompetitif. Apalagi masyarakat "berada" Indonesia tidak perlu pergi jauh-jauh hanya untuk membeli furniture yang memuaskan keinginannya.
Pertanyaan selanjutnya
Apakah dengan demikian, perekonomian "kita" menjadi lebih didominasi oleh modal asing? Bagi Hero sendiri, sebagian besar gerai Supermarketnya yang pernah sangat terkenal di tahun 90-an, kini semakin sulit untuk ditemui. Di pelosok Jakarta dan kota besar lain, hampir semuanya sudah menjelma menjadi Giant yang besar dan raksasa itu.
Ini juga terjadi di bidang yang lain, tidak hanya di sektor retail yang kini dikuasai oleh retailer asing.
Ini sebuah sinyal yang perlu kita hitung untung ruginya, termasuk dalam membuka kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat miskin, dan kekuatan perekonomian nasional terhadap tekanan dan atau pengaruh eksternal.
Bukan anti asing, tetapi koridornya perlu kita bangun sehingga ada kesamaan pandangan bagi masyarakat Indonesia untuk memahami gejala global ini. Bagaimanapun besar manfaatnya, kita perlu melihat dampak negatifnya secara jernih dan meminimalisir risiko yang mungkin terjadi.