Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Wednesday, 28 March 2012

Swedia - Menuju Less Cash Society

toto zurianto


Ketika kita hidup pada era teknologi dan sistem informasi tinggi yang serba digital dewasa ini, penggunaan koin dan bill tentu saja menjadi sangat frustrasi. Sesuatunya menjadi serba lambat, tidak praktis, menimbulkan risiko, bahkan mendukung semakin banyaknya korupsi karena transaksinya menjadi lebih sulit untuk dilacak.
Kini di Swedia, kitapun perlu belajar ke sana, semakin banyak fasilitas umum yang sama sekali tidak mau menerima uang kas. Di banyak kota, sistem transportasi semakin banyak yang tidak menerima pembayaran tunai. Semua hal yang berhubungan dengan pembayaran, apakah pembelian karcis atau tiket, kedai kopi dan majalah, parkir, harus melalui non cash yang dilakukan secara mudah. Tidak hanya uang electronic, tetapi termasuk juga transaksi dengan bantuan cell phone message (SMS). Banyak bank yang tidak lagi menerima pembayaran/setoran dalam bentuk tunai.
Orang-orang yang biasanya sangat mencintai transaksi tunai semakin terdesak. Bahkan lembaga sosial semacam panti asuhan atau lembaga pendidikan, semakin banyak yang menyediakan fasilitas sumbangan secara non tunai. Penumbang atau penerima sumbangan sama-sama menyediakan fasilitas pembayaran non tunai. Jadi, di gereja, misalnya yang terjadi di Carl Gustaf Chuch Karlshamn, sebelah selatan Swedia, baru-baru ini mereka telah meng-instal pelayanan card reader yang akan memudahkan jamaah (worshippers) untuk memberikan sumbangan.
Menurut BIS, kini penggunaan uang kertas dan koin hanya sekitar 3 persen dari seluruh transaksi perekonomian di Swedia, bandingkan dengan  rata-rata Eropa sekitar 9 persen dan 7 persen di Amerika. Mereka terus berusaha untuk mengecilkan angka itu, menjadi sekitar 1 persen saja.
Hemat dan Semakin Praktis
Sebuah perusahaan internet Swedia iZettel saat ini sedang mengembangkan sebuah perangkat teknologi sederhana bagi pengguna transaksi nilai kecil. Mirip dengan Square yang sudah dikembangkan di Amerika Serikat, alat ini akan mudah digunakan, sambungkan saja (just plug) ke iPhone atau mobile phone lain, dia akan sangat mudah untuk berfungsi sama seperti terminal kartu kredit yang ada di merchant saat ini. Nanti hal ini akan memudahkan siapa saja untuk melakukan transaksi uang secara mudah secara real time melalui mobile phone (HP).
Mungkin tidak perlu harus menghilangkan coin atau bill sama sekali, tetapi perannya menjadi sangat kecil dengan perkembangan teknologi ke depan.
Mantan Gubernur Bank Sentral Swedia, Lars Nyberg bebrapa waktu yang lalu mengatakan, “uang kertas atau uang logam tentu saja tetap bisa bertahan (survive), tetapi, sama seperti buaya yang nantinya hanya bisa kita lihat di tempat-tempat tertentu pada habitatnya”.
Sebuah fasilitas olah raga bowling di sana, sejak beberapa waktu yang lalu menutuskan untuk tidak menerima pembayaran cash, baik koin maupun kertas. Andrea Wramfelt, pemilik sarana bowling itu percaya, hanya dalam 20 tahun ke depan, koin dan uang kertas akan hilang di Swedia.
Semakin mengecilnya jumlah uang kertas dan koin yang beredar, juga secara siknifikan berpengaruh kepada angka kriminal yang semakin menurun. Perampokan bank yang cukup hebat di sana sepanjang tahun 2008 yang mencapai 110 kasus, tahun lalu (2011), turun hingga hanya 16 kasus. Termasuk semakin sedikitnya transaksi ekonomi ilegal, penyembunyian pajak, dan praktek korupsi yang biasanya lebih banyak didukung oleh uang kertas dan koin untuk menghilangkan jejak (trail) money laundring.
Itali, negara yang banyak menjalankan praktek penyembunyian pajak melalui transaksi cash, juga mulai membatasi transaksi pembayaran tunai menjadi sekitar 1,000 euro saja, sebelumnya bisa mencapai 2,500 euro.
Kapan Indonesia
Kita belum tahu kapan Indonesia kick off menuju less cash country. Bank Indonesia sendiri belum  memperlihatkan minat yang kuat untuk menjalankan dan menuju less cash policy. Secara kultur, lingkungan kita sendiri masih terlalu suka dan menikmati harumnya uang kertas baru yang puluhan tahun secara ekslusif bisa dinikmati pegawai Bank Indonesia secara istimewa.
Kalau saja 50, atau 25 persen dari kegiatan pencetakan uang sekarang bisa kita kurangi, luar biasa pengaruhnya, tidak saja bagi Bank Indonesia, tetapi tentunya bagi masyarakat Indonesia. Di luar sana, luar biasa pengaruhnya bagi bangsa kita ketika kita memulai carahidup yang lebih cash less.