Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Friday, 5 September 2014

Mencari Pemimpin

toto zurianto

Sebenarnya pemimpin tidak usah dicari. Situasinya selalu sebagai sesuatu yang harus diterima. Kita pada akhirnya hanya menerima seseorang yang kebetulan senior dan menjadi atasan kita. Kadang-kadang kita mendapatkan atasan yang hebat luar biasa dan sesuai dengan jabatannya sebagai pemimpin "kita". Bukan saja lebih memotivasi dan mampu menjadi pemimpin, tetapi sekaligus memiliki pribadi mumpuni, visioner dan tidak menyulitkan. Bahkan mampu membuka hati anak buah untuk menjadi lebih baik. Inilah pemimpin yang membuat semuanya menjadi mudah. Ketika kita kurang hebat, dia datang dan membuat segalanya menjadi mudah. Bahkan kita menjadi lebih tergerak untuk mencari dan mencari berbagai alternatif yang lebih baik.

Inilah yang kita butuhkan. Bukan atasan atau pemimpin yang terlalu suka dipuji dan dianggap hebat. Kita sayangnya sering berjumpa pemimpin yang gila pujian dan suka sanjungan. Banyak pemimpin yang gila seperti ini. Tidak mau berdiskusi, apalagi berbeda pendapat. Pokoknya mau menang sendiri. Padahal kompetensinya kurang, tapi tetap selalu ingin disebut paling mengetahui dan paling pintar. Susah kita kalau bernasib sial seperti ini. Pokoknya anda semuanya karena saya. Sayalah yang menentukan nasib anda. Promosi atau kenaikan gaji, semua karena dia. Bukan karena prestasi kita sendiri.
Mau seperti apa kita? Mau melawan, matilah kita. Mau diam, lama-lama mati juga. Apalagi kalau semuanya serba diam dan tidak bersuara. Pokoknya, akhirnya segala bentuk kreativitas dan inovasi menjadi semakin menjauh. Lama-lama memang kita menjadi terlihat semakin jelek dan tidak berprestasi. Akhirnya  kitapun lemah dan sangat tergantung kepada pemimpin otoriter seperti ini. Lalu kitapun menjadi lemah dan mulailah melakukan kompromi, atau akhirnya mati sendiri.