Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Wednesday, 13 April 2016

Organisasi Yang Agile

toto zurianto



Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D. Hadad pada pertemuan Change Leader Forum High Level 2016 Otoritas Jasa Keuangan, Sabtu 2 April 2016, menyampaikan 5 pokok pikiran penting sebagai prioritas yang perlu mendapatkan perhatian para insan OJK. Pertama, OJK haruslah menjadi sebuah lembaga/organisasi yang “Agile”, yang memberikan manfaat bagi bangsa dan masyarakat, dan mampu memberikan solusi. Sebuah organisasi modern yang fokus kepada stakeholder-nya, yang kehadirannya selalu diinginkan masyharakat.
Kedua, OJK harus selalu menjadi tempat bagi orang-orang yang ingin improve, sebuah “Learning Organization”. Sebuah organisasi yang setiap saat, diwarnai oleh orang-orang yang mempunyai passion untuk belajar. Ketiga, OJK sebuah lembaga yang mengedepankan pentingnya aspek human capital sebagai investasi penting organisasi. SDM atau People harus menjadi asset yang sehat yang memberi manfaat, yang mampu menggerakkan roda organisasi. Arah kebijakan dan langkah strategi OJK bergerak dikendalikan oleh human capital yang terbaik, professional, kompeten dan memiliki integritas teruji. Orang-orang yang bekerja pada nilai-nilai organisasi inpresiv, yang memegang INtegritasnya, yang PRofEsional menjalankan kegiatannya, yang selalu membangun Sinergy di dalam bekerja, baik melalui kolaborasi internal, maupun eksternal OJK. Lalu OJK juga dituntut untuk mengembangkan sikap Inklusifisme, yang terbuka, melibatkan banyak orang dan memberikan kesempatan bagi berbagai kalangan untuk ikut membangun bersama OJK, serta organisasi yang memiliki sikap Visioner, melihat hal-hal yang belum bisa dilihat orang lain.
Lalu keempat, organisasi OJK harus menjadi employer of choice! Ini bukan hal mudah. Perlu ada reputasi dan trust. Bukan sekedar karena OJK mempunyai kekuasaan besar sebagai regulator sektor jasa keuangan. Tetapi karena masyarakat, khususnya para pencari kerja, terutama para fresh-graduate yang sudah menyelesaikan pendidikan tinggi yang relevant, menilai, bekerja di OJK akan memberikan sesuatu yang sangat berharga, bernilai. Jelas bukan sekedar gaji atau rasa aman menjalani kehidupan. Tetapi kebanggaan karena memiliki kesempatan untuk memberikan sumbangan terbaiknya kepada bangsa. Juga kesempatan mengeluarkan kapasitasnya, atau semangat intelektual yang diyakininya.
Kelima, OJK menjadi relevant partner atau trusted power.  Ini seperti hasil akhir dan konklusi dari keempat persyaratan di atas. Kehadiran OJK harus bermanfaat bagi stakeholders-nya, bagi industry jasa keuangan Indonesia, dan bagi masyarakat keseluruhan. OJK dinilai sebagai lembaga yang dipercaya, bukan kekuasaan, tetapi kepercayaan.
Inilah semangat sebuah organisasi yang agile yang kehadirannya memberikan manfaat, bukan sekedar tempat orang-orang "pintar" yang suka berwacana, atau yang lebih banyak memikirkan dirinya sendiri dibandingkan dengan memikirkan masyarakat. 
Muliaman D. Hadad, "OJK harus menjadi organisasi yang Agile"




Post a Comment