Showing posts with label Managing Politics. Show all posts
Showing posts with label Managing Politics. Show all posts

Thursday, 27 May 2010

Bukan mempertahankan kekuasaan

toto zurianto

Kongres Partai Demokrat belum lama ini telah membawa Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum partai tersebut. Hasil akhir kongres sungguh luar biasa, betapa kehebohan yang berlangsung berbulan-bulan, khususnya perseteruan perebutan kekuasaan antara Andi A. Malarangeng dengan Anas Urbaningrum, pada akhirnya melahirkan suatu tatanan yang lebih baru di khasanah perpolitikan nasional.

Tetapi dampak dari kongres belumlah berakhir. Kini, ada 2 hal menarik yang muncul ke permukaan yang menarik hati tidak saja bagi para pengamat politik kita, termasuk juga oleh para politisi, partai Demokrat dan partai lainnya. Pertama, munculnya Majelis Tinggi Partai Demokrat (MTPD) yang memiliki "kekuasaan tinggi" bahkan melebihi kekuasaan Ketua Umum atau Dewan Pimpinan Pusat Partai. Termasuk kekuasaan untuk tidak menyetujui hasil-hasil atau keputusan Ketua Umum/DPP. Juga dalam rangka menetapkan nama-nama calon Presiden, atau calon Gubernur, juga calon Anggota DPR dari Partai Demokrat.

Apabila pada akhirnya MTPD ini benar-benar memiliki kekuasaan luar biasa sebagaimana yang banyak disebutkan, dan kebetulan jabatan tersebut dipegang atau diketuai oleh Susilo Bambang Yudhoyono, maka reformasi menjadi suatu partai modern oleh Partai Demokrat, sekaligus sebagai sebuah partai yang menjalankan organisasi dan manajemen secara modern yang sebelumnya banyak dijadikan contoh oleh partai/politisi lain, keadaannya diperkirakan, akan berbalik dan menjadi biasa-biasa saja. Ini adalah salah satu pertaruhan antara keinginan untuk melakukan reformasi politik melalui organisasi dan leadership sebagai suatu partai modern, dengan semangat untuk tetap mempertahankan suatu kekuasaan.

Isu kedua yang juga menarik adalah adanya wacana yang dikemukakan oleh (sebagian) politisi Partai Demokrat untuk memunculkan Ny Ani Yudhoyono, istri Presiden SBY, sebagai calon presiden dari Partai Demokrat. Wacana ini tentu saja menarik perhatian tidak saja bagi kalangan Partai Demokrat, tetapi terutama oleh kalangan luar. Muncul banyak pertanyaan di hati masyarakat atas wacana yang mengejutkan ini. Bagaimana mungkin, pada satu sisi Partai Demokrat berulang-ulang memproklamirkan dirinya menjadi sebuah partai modern, kemudian di sisi lain, dengan berbagai alasan, mencoba memunculkan wacana tidak populer yang membuat masyarakat menjadi bingung. Bingung karena masyarakat tidak memahami cara-cara yang masuk akal yang dilakukan oleh sebuah partai modern untuk memunculkan nama-nama tertentu (tentunya sebagai kader partai terbaik yang paling kompeten) menjadi calon Presiden Republik Indonesia.

Tentu masyarakat tidak ingin meng-klaim bahwa Ibu Ani Yudhoyono itu pantas atau tidak pantas menjadi calon Presiden dari Partai Demokrat. Bisa saja Ibu Ani Yudhoyono adalah seorang calon terbaik partai tersebut. Bagi masyarakat, yang paling penting adalah, ukuran apa yang digunakan untuk mengatakan seseorang itu layak menjadi calon Presiden dari partai Demokrat. Apabila hal ini tidak mampu dijelaskan oleh pimpinan partai Demokrat, akan muncul stigma negatif terhadap partai dan tentunya kepada Ketua MTPD. Bahkan kemunculan Ibas dalam panggung politik nasional yang berlangsung sangat cepat, sudah memunculkan pendapat pro dan kontra yang berpotensi membuat Partai Demokrat menjadi kesulitan untuk menjelma menjadi sebuah partai modern. Jangan sampai par SBY menjadi kesulitan untuk menjawab isu nepotisme yang bagaimanapun akan menyulitkan partai demokrat dalam rangka memenangkan Pemilu tahun 2014.

Dua hal ini menjadi agenda penting dari orang-orang Partai demokrat yang apabila tidak dihandle secara baik, dipastikan akan melahirkan dampak negatif yang akan menyulitkan partai.

Monday, 24 May 2010

Anas Pimpin Partai Demokrat

toto zurianto

Anas Urbaningrum terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat pada Kongres II Partai tersebut di Hotel Mason Pine Padalarang Minggu malam, 23 Mei 2010 kemaren. Anas unggul setelah pemilihan putaran kedua yang akhirnya mendapatkan 280 suara 53%), sedangkan saingannya Marzuki Alie mendapatkan 248 suara (47%) dari 530 pemilik suara, 2 suara dinyatakan batal/cacat.
Kandidat lain Andi Malarangeng, Menteri Pemuda dan Olah Raga yang melakukan kampanye secara besar-besaran, tidak mampu melewati putaran kedua setelah pada putaran I hanya didukung oleh 82 suara (16%). Dengan demikian hanya Anas dan Marzuki yang maju pemilihan putaran II yang masing-masing didukung sebanyak 236 (45%) dan 209 (40%) suara.

Akhir dari drama pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat ini, memberikan pembelajaran besar tidak hanya untuk para demokraters, tetapi juga bagi para politisi dan elite Indonesia yang lain. Andi Malarangeng yang "politisi terkenal yang dikenal dekat dengan SBY" dan didukung oleh sebagian besar sesepuh Partai Demokrat, termasuk para mantan Jendral sahabat SBY, para Menteri di Kabinet SBY sekarang, para artis Demokrat yang cukup hingar bingar, dan bahkan putra Presiden SBY Ibas yang secara luar biasa memberikan dukungannya ke Andi Malarangeng, ternyata tidak mampu menunjukkan kehebatannya. Bahkan tidak bisa melewati pemilihan putaran pertama.

Kejutan lain adalah munculnya Marzuki Alie secara luar biasa yang akhirnya hanya kalah tipis dari Anas. Semula para demokraters dan juga masyarakat di luar partai Demokrat berpikir, bahwa kongres kali ini hanya sebagai ajang perseteruan antara 2 tokoh muda yang sama-sama hebat, Andi dan Anas. Andi diperkirakan akan menang mudah mengingat dukungan elite partai yang sangat luar biasa. Tetapi lagi-lagi, apa yang terjadi di partai dan di bawah, ternyata tidak seperti itu. Para pemilik suara, baik DPC maupun DPD, serta sebagian DPP, jelas-jelas menginginkan seorang pemimpin yang nyata-nyata mereka kenal, tidak hanya populer dan memiliki integritas dan kapabilitas, tetapi sekaligus memiliki track record yang teruji.

Para pendukung dan terutama Tim Sukses Andi, mungkin terlalu "PD" dan terbuai dengan statement-statement yang dikeluarkan oleh nyata-nyata "bukan peserta Kongres" yang memiliki hak suara. Contoh nyata adalah para Menteri atau para mantan Menteri dab mantan Jendral yang banyak berada di belakang Andi. Sayang, mereka sama sekali tidak memiliki hak suara untuk menetapkan pilihannya.

Para peserta Kongres II Partai Demokrat akhirnya mampu keluar dari bayang-bayang politisi Indonesia masa lalu untuk memainkan cara mereka berpolitik. Tidak harus terpengaruh oleh bisikan "setan" yang sering melakukan intervensi. Para Demokraters telah menjalankan dan menterjemahkan cara berdemokrasi ala demokraters sendiri. Kita hanya mengucapkan selamat, semoga ada manfaatnya bagi Partai Demokrat dan masyarakat Indonesia.