Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Monday, 24 May 2010

Anas Pimpin Partai Demokrat

toto zurianto

Anas Urbaningrum terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat pada Kongres II Partai tersebut di Hotel Mason Pine Padalarang Minggu malam, 23 Mei 2010 kemaren. Anas unggul setelah pemilihan putaran kedua yang akhirnya mendapatkan 280 suara 53%), sedangkan saingannya Marzuki Alie mendapatkan 248 suara (47%) dari 530 pemilik suara, 2 suara dinyatakan batal/cacat.
Kandidat lain Andi Malarangeng, Menteri Pemuda dan Olah Raga yang melakukan kampanye secara besar-besaran, tidak mampu melewati putaran kedua setelah pada putaran I hanya didukung oleh 82 suara (16%). Dengan demikian hanya Anas dan Marzuki yang maju pemilihan putaran II yang masing-masing didukung sebanyak 236 (45%) dan 209 (40%) suara.

Akhir dari drama pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat ini, memberikan pembelajaran besar tidak hanya untuk para demokraters, tetapi juga bagi para politisi dan elite Indonesia yang lain. Andi Malarangeng yang "politisi terkenal yang dikenal dekat dengan SBY" dan didukung oleh sebagian besar sesepuh Partai Demokrat, termasuk para mantan Jendral sahabat SBY, para Menteri di Kabinet SBY sekarang, para artis Demokrat yang cukup hingar bingar, dan bahkan putra Presiden SBY Ibas yang secara luar biasa memberikan dukungannya ke Andi Malarangeng, ternyata tidak mampu menunjukkan kehebatannya. Bahkan tidak bisa melewati pemilihan putaran pertama.

Kejutan lain adalah munculnya Marzuki Alie secara luar biasa yang akhirnya hanya kalah tipis dari Anas. Semula para demokraters dan juga masyarakat di luar partai Demokrat berpikir, bahwa kongres kali ini hanya sebagai ajang perseteruan antara 2 tokoh muda yang sama-sama hebat, Andi dan Anas. Andi diperkirakan akan menang mudah mengingat dukungan elite partai yang sangat luar biasa. Tetapi lagi-lagi, apa yang terjadi di partai dan di bawah, ternyata tidak seperti itu. Para pemilik suara, baik DPC maupun DPD, serta sebagian DPP, jelas-jelas menginginkan seorang pemimpin yang nyata-nyata mereka kenal, tidak hanya populer dan memiliki integritas dan kapabilitas, tetapi sekaligus memiliki track record yang teruji.

Para pendukung dan terutama Tim Sukses Andi, mungkin terlalu "PD" dan terbuai dengan statement-statement yang dikeluarkan oleh nyata-nyata "bukan peserta Kongres" yang memiliki hak suara. Contoh nyata adalah para Menteri atau para mantan Menteri dab mantan Jendral yang banyak berada di belakang Andi. Sayang, mereka sama sekali tidak memiliki hak suara untuk menetapkan pilihannya.

Para peserta Kongres II Partai Demokrat akhirnya mampu keluar dari bayang-bayang politisi Indonesia masa lalu untuk memainkan cara mereka berpolitik. Tidak harus terpengaruh oleh bisikan "setan" yang sering melakukan intervensi. Para Demokraters telah menjalankan dan menterjemahkan cara berdemokrasi ala demokraters sendiri. Kita hanya mengucapkan selamat, semoga ada manfaatnya bagi Partai Demokrat dan masyarakat Indonesia.