Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Thursday, 27 May 2010

Negeri 5 Menara

toto zurianto

Buah karya Ahmad Fuadi ini bercerita tentang kisah-kisah anak pondok (pesantren) yang selama ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. Terutama mengenai perjalanan penulisnya yang dalam cerita ini dikenal dengan nama Alif, anak asli Minangkabau dari Desa bayur di sekitar Danau Maninjau Sumatera Barat yang atas keinginan ibunya, "terpaksa" membatalkan cita-citanya untuk memasuki sekolah umum (SMA Negeri Bukit Tinggi).

Seperti cerita perjalanan lainnya, kisah ini selalu menarik, perjalanan hidup masa-masa penting seorang remaja belasan tahun, memulai sekolah, tetapi bukan di sekolah umum. Pondok Pesantren adalah suatu bentuk pendidikan sangat khas Indonesia yang menganut sistem asrama (dormitory). Semua murid harus tinggal, belajar, dan hidup hanya di lingkungan asrama. Lebih khusus lagi, mereka harus mempelajari berbagai ilmu, tidak hanya ilmu agama (Islam), tetapi juga ilmu umum. Termasuk pula yang mendapat porsi paling tinggi adalah mempelajari Bahasa, khususnya bahasa Arab dan Inggris. Kedua bahasa ini menjadi wajib, tidak ada ampun bagi murid-murid di luar murid Kelas I yang masih menggunakan bahasa lain di luar bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Kehidupan Pondok Pesantren, yang dalam cerita ini disebutnya dengan Pondok Madani (PM), sesungguhnya jauh berbeda dengan apa yang selama ini banyak diduga orang (luar non pesantren). 4 hal menarik yang menurut saya telah membuka cakrawala orang luar atas kehidupan pesantren adalah; kehebatan seorang guru (uztad atau kia) yang luar biasa, sifat-sifat ikhlas yang menjadi dasar atau roh dari keberadaan pesantren, penerapan aturan disiplin yang tidak bisa ditawar-tawar, dan munculnya kompetisi diantara murid yang terbangun secara kesatria.

Ustad atau Kiay, adalah lambang kepemimpinan dan semangat idealisme pesantren yang kesehariannya, meskipun ditakuti, tetapi terutama akibat kemampuannya di dalam membangun semangat dan motivasi para murid 24 jam tidak pernah berhenti sepanjang hari dan malam. Kapan saja seorang murid memerlukan jawaban yang tidak didapatnya dari lingkungannya, maka jawaban itu dapat disetiap saat dicarinya dari seorang ustad atau kiay.

Kedua, menjalani kehidupan secara ikhlas, merupakan ajaran penting yang diharapkan bisa membuat seseorang, mampu mengendalikan dirinya tanpa melalui prasangka dan dugaan yang belum tentu benar. Berbuat ihklas adalah ujian penting yang memerlukan perjalanan dan jam terbang panjang sebelum seseorang, bisa 100% ikhlas dalam menghadapi, tidak saja dunia belajar di pesantren, tetapi termasuk setelah seseorang khatam (tamat) dari sebuah pesantren.

Selanjutnya, saya paling menikmati hal-hal yang berbau peraturan dan disiplin. Tidak mungkin pesantren bisa jalan bagus kalau tidak mampu menjaga kedisiplinan secara konsisten. Bayangkan suatu komunitas sekolah dengan 3000 orang santri, apa jadinya kalau pengurus pesantren tidak mampu menjaga peraturan secara konsisten. Bisa-bisa pesantren bubar secara cepat. Tetapi inilah kekuatan masyarakat pesantren, yang mengenai disiplin, penerapannya tidak memerlukan aturan atau surat edaran tertulis berpuluh halaman untuk dibaca dan dipahami. Aturan disiplin, hanya dikomunikasikan oleh seorang Ustad atau Murid yang lebih senior secara lisan. Hanya dibaca, tidak ada dokumen yang diberikan. Lalu disebutkan sanksi-sanksi tertentu bagi santri yang terbukti melakukan pelanggaran disiplin. Lalu, semuanya memahami dan dijalankan secara konsisten. Untuk urusan disiplin ini, sehari-hari terutama diawasi oleh murid kelas 6 yang sudah senior dan segera meninggalkan pondok. Sehari-hari, bisanya dia dibantu oleh pemantau (pengamat siapa murid yang melanggar disiplin) yang berasal dari murid-murid yang "sedang menjalani hukuman disiplin". Persoalan penegakan disiplin sama saja dengan penerapan manajemen modern yang memberikan kewenangan bagi setiap orang untuk terlibat aktif tetapi dengan cara yang lebih bertanggung jawab.

Akhirnya saya juga sangat terkesan dengan suasana kompetisi yang dibangun secara fair di antara para murid pesantren. Termasuk penerapan sistem evaluasi dan reward yang sehari-hari lebih jelas implementasinya di Pondok dibandingkan dengan yang dilakukan di perusahaan-perusahaan modern atau di berbagai lembaga pemerintahan lainnya. Semua pelajaran yang sehari-harinya ditransmisikan secara ikhlas di antara penghuni pesantren, baik; Kiay, ustad ataupun para murid/santri, selalu diwarnai oleh suasana kompetisi yang diharapkan mampu meningkatkan motivasi kerja para santri. Semua pelajaran selalu diharapkan bisa dinikmati, dilaombakan untuk mendapatkan calon peserta terbaik. Apakah mengenai Al Qur'an, ilmu umum, bahasa Inggris, atau apa saja, termasuk pertandingan Sepak Bola, Teatre/Kesenian, kebersihan, atau kegiatan lain. Inilah cara anak pesantren membangun kualitas dirinya, kualitas manusia Indonesia seutuhnya.

Masih banyak cerita menarik yang dituturkan Alif bersama teman-temannya sesama santri dari Kelompok Sahibul Menara, antara lain; Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep Madura, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa Sulawesi Selatan. Tidak sama dengan buku dan perjalanan Laskar Pelangi-nya Andre Hirata. Tetapi keduanya, baik LP maupun N5M, cukup syarat dengan usaha dan perjuangan serta penerapan nilai-nilai kehidupan dan cita-cita yang setidak-tidaknya bisa memberikan inspirasi bagi pembaca dan penikmat cerita anak Indonesia.