Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Thursday, 20 May 2010

Dengan Trust, Biaya menjadi Kecil

toto zurianto

Stephen MR Covey, penulis buku best Seller, The Speed of Trust; the One Thing That Changes Everything (2006), berulang kali pada Workshop The Speed of Trust di Jakarta kemaren (19 May 2010) mengatakan bagaimana melalui Trust (kepercayaan), sebuah perusahaan dapat meningkatkan efisiensinya dan memperoleh penghasilan yang berlipat ganda. Sebaliknya ketika kepercayaan itu tidak ada (less trust atau distrust), maka dipastikan, kegiatan perusahaan atau organisasi menjadi semakin lambat yang menyebabkan biaya (cost) operasional menjadi meningkat.

Pada masyarakat yang mengalami Distrust, misalnya seperti yang masih kita alami di Indonesia, semuanya mengalami keterlambatan. Contohnya dari sisi keamanan, seperti yang bisa kita perhatikan di kantor, mal, hotel, atau tempat keramaian lain. Karena kekhawatiran kita terhadap bom, maka pintu masuk terpaksa harus kita jaga keamanannya. Jangan sampai ada masyarakat yang secara sengaja membawa bom dan meledakkannya. Akibatnya, waktu yang diperlukan untuk mencapai suatu tempat, menjadi lebih lama dengan biaya (keamanan) yang semakin tinggi akibat harus menyediakan teknologi detektor dan petugas Satpam yang cukup banyak.

Kehidupan yang masyarakatnya sudah saling mempercayai, sungguh sebagai sesuatu yang perlu kita cita-citakan. Saya memiliki contoh kecil dimana seorang pengusaha rumahan yang membuat beberapa jenis cake/kue yang dijajakan di suatu kantor, mampu menjual lebih banyak cake/kue akibat trust yang sangat mendukung. Di kantor saya, ada seorang Bapak yang setiap pagi sekitar Pukul 07.00 mengantarkan sekitar 30 potong kue ke kantor saya di lantai 20 suatu gedung di Jalan Thamrin yang dijual seharga Rp3.000 per potong. Karena sudah saling mempercayai, bapak tersebut tidak perlu menunggu dan melayani pembeli kue, tetapi cukup ditinggalkannya, dan selanjutnya pembeli dipersilahkan mengambil pilihannya dan membayar sesuai dengan jumlah yang diambilnya. Pembayaran dan pengambilan uang pembelian kue tidak ada yang mengawasi, silahkan letakan uang di kantong plastik yang sudah disediakan. Tidak ada satupun orang yang mengawasi transaksi tersebut.

Dengan pola seperti itu, Bapak tersebut setiap hari meletakkan sekitar 10 tempat kue di sekitar 10 lantai yang berbeda, dan kemudiaan diambilnya satu persatu mulai pukul 09.00 dari seluruh lantai. Dengan keadaan seperti itu, Bapak penjual kue mampu melakukan penjualan lebih dari 5 kali lipat dibandingkan apabila yang bersangkutan harus menjajakan kuenya satu persatu ke masing-masing lantai dan menyelesaikan transaksinya satu persatu.

Banyak contoh-contoh yang memberikan kemudahan dan keuntungan yang lebih ketika kita bisa hidup pada situasi yang saling mempercayai.
Post a Comment