Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Monday, 3 May 2010

Jalur Kereta Api Historis di Sumatera Barat

toto zurianto

PT Kereta Api akan menghidupkan kembali jalur kereta api di Sumatera Barat yang dulu dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda, dan sebagiannya saat ini sudah tutup. Jalur ini ke depan akan menjadi bagian dari proyek kereta api Trans Sumatera, mulai dari Banda Aceh sampai dengan Tanjung Karang (Lampung).

Ide ini jelas akan disambut baik masyarakat mengingat kereta api termasuk salah satu moda transportasi yang paling berkembang didunia, relatif murah, dan banyak diminati masyarakat.

Paling penting untuk kita siapkan terlebih dahulu adalah studi fisibiliti-nya. Kita semua berharap, pembukaan jalur kereta api ini, harus didahului oleh aspek ekonomis yang kuat dan benar. Jangan sampai karena alasan historis dan emosionil sehingga kita semua merasa, kita harus membuka jalur ini kembali. Bisa saja, melalui pertimbangan yang lebih baik, akan ada kota-kota tertentu yang dulu pernah disinggahi kereta api, tetapi saat ini dinilai sudah tidak layak untuk disinggahi. Jangan sampai kita hanya membangun kembali jalur yang dahulu sudah pernah ada, lalu diganti dengan rel dan bantalan yang baru.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah ke Aceh Utara, dan menyaksikan kesiapan pemerintah Aceh yang berencana akan membuka kembali jalur kereta api Aceh yang dulu sangat legendaris. Pada jalur antara kota Lhokseumawe dan Bireuen, sekitar 56 KM, saya lihat, pemerintah hanya membangun kembali jalur kereta api baru di atas jalur yang lama. Situasi ini sering terasa aneh, karena situasi yang berbeda antara tahun 1950-an dengan keadaan saat ini (60 tahun yang lalu). Kalau kita hanya mengganti jalur/rel lama dengan yang baru, banyak sekali lokasinya sudah tidak relevan.Banyak rel yang "dulu" berlokasi cukup jauh dari pemukiman, misalnya di persawahan, tetapi kita sudah sangat dekat dengan pemukiman penduduk atau jalan raya.

Karena itu, pembangunan kembali jalur kereta api Sumatera, hendaknya disertai dengan pertimbangan ekonomis dan lingkungan yang kuat sehingga kehadirannya tidak terasa aneh dan bahkan bisa mengganggu masyarakat atau alat (moda) transportasi lain.