Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Thursday, 29 April 2010

Takengon, I'll be back!

toto zurianto

Tidak banyak orang yang mengenal Takengon. Tetapi tidak bagi kami sekeluarga. Meskipun kami hanya pendatang, bukan suku Gayo yang asli mendiami wilayah pegunungan di propinsi Aceh bagian tengah, tetapi bercerita tentang Takengon, bisa membuat kami terharu, terlalu menikmatinya. Sebenarnya kami tidak lama tinggal di Takengon, cuma sekitar 6 tahun (1971-1977). Tetapi masa-masa itu, benar-benar as unforgettable moments. Kami mengikuti orangtua yang bekerja di PT Perkebunan I (PTP) Aceh, yang memiliki konsesi perkebunan di Takengon yang saat ini memproduksi minyak Terpentine dan Damar yang diolah dari Getah (Balsem) pohon Pinus Merkusi (sejenis Cemara) yang banyak terdapat di Kabupaten itu.

Dulu kami bermukim sekitar 25 KM sebelum Kota Takengon, ibukota Kabupaten Aceh Tengah, tepatnya di Kota Lampahan, ibukota Kecamatan Timang Gajah. Udaranya dingin, tepat berada di kaki Gunung (berapi) Burni Telong, sekitar 800 meter di atas permukaan laut.

Sejauh-jauhnya kita memandang, yang terlihat hanya hamparan Gunung yang menghijau, Pohon Kopi yang subur, dan pohon Pinus Merkusi yang berada di puncak atau di lembah pegunungan.

Secara geografis, Takengon sangatlah terpencil, yang ketika itu hanya bisa dicapai melalui jalan darat sekitar 100 KM dari Kota Bireun di Kabupaten Aceh Utara. Meskipun jalannya cukup mulus (di tahun 1970-an), lalu lintas sangatlah terbatas, tidak seperti saat ini. Kenderaan umum, biasanya ditempuh dengan menumpang Bus yang jumlahnya terbatas, baik dari; Bireun (sekitar 100 KM), Lhokseumawe (sekitar 156 KM), Banda Aceh (sekitar 350 KM), atau Medan (sekitar 500 KM). Tapi naek bus di tahun 70-an sungguh menyenangkan, meskipun sangat sederhana, tetapi sulit untuk dilupakan. Perusahaan Bus umum yang melayani tujuan Takengon, ketika itu, antara lain; PT Aceh Tengah (saat ini hanya melayani bus-bus kecil 20 penumpang saja), Firma Faham (kayaknya udah enggak ada), PT KAT (Kesatuan Autobis Takengon), juga udah enggak ada lagi.

Pokoknya di tahun 70-an, Bus-bus antar kota, pernah memainkan peran penting bagi perkembangan ekonomi di Takengon. Hampir semua kebutuhan pokok di luar sayuran, harus didatangi dari luar kota, terutama dari Bireuen, Lhokseumawe, atau Medan. Bahkan kebutuhan Ikan (air laut), harus dibawa pakai bus-bus dari Bireuen sehingga orang Aceh Tengah, baru bisa mendapatkan Ikan paling cepat sekitar jam 10.00 - 12.00 setiap hari. Itupun jenisnya sangat terbatas, paling-paling ikan Bandeng dan Ikan Tongkol.

Kini Takengon sudah jauh berbeda. Bersamaan dengan perkembangan wilayah eks Kabupaten Aceh Tengah (lama) yang berkembang menjadi 3 Kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Tengah (yang wilayahnya sudah menjadi semakin kecil) dengan Ibukota Takengon, Kabupaten Benar Meriah, dan Kabupaten gayu Luwes.

Kalau dulu Takengon menjadi kota mati setelah pukul 6 sore, kini situasinya sudah berubah. Rumah makan dan Warung (Kedai) makanan masih tetap buka bahkan sampai tengah malam. Kita dengan mudah menemukan Restaurant dan Kedai Kopi di pusat kota bahkan sampai ke pinggiran. Apalagi situasi keamanan yang sangat kondusif dalam 2 tahun terakhir ini.

Hanya saja, meskipun potensinya sangat menjanjikan, perkembangan pariwisata belum menunjukkan sesuatu yang berarti. Objek wisata yang luar biasa berlimpah, masih belum digarap. Danau Laut Tawar, pegunungan Burni Telong, Sumber Air Panas Alam Wih Pesam Simpang Balek, perkebunan Pinus, Perkebunan Kopi dan Sayuran, semuanya masih menjadi perawan yang tidak tergarap secara terencana. Hotel sangat minim. Ada satu hotel Bintang, Hotel Renggali di tepi Danau Laut Tawar, sayang kurang terawat, kurang terpublikasi, dan cenderung sepi. penginapan lain, hanya losmen 2 atau 3 lantai yang kamar mandinya kurang bagus, atau air panasnya enggak berfungsi.

Saya begitu optimis memikirkan daya magic Takengon (dan seluruh Kabupaten-kabupatennya, seperti; Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Luwes). Wilayah ini memiliki potensi yang seharusnya dapat berkembang secara lebih hebat. Lihat juga, bagaimana masyarakat Gayo yang memiliki adat istiadat yang kokoh, menarik, kuat, dan berorientasi kepada keterbukaan dan moderat. Perkembangan pariwisata, jika dibangun secara baik, dapat dipastikan akan membuat wilayah ini menjadi wilayah pembangunan ekonomi yang tangguh.
Post a Comment