Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Thursday, 27 May 2010

Bukan mempertahankan kekuasaan

toto zurianto

Kongres Partai Demokrat belum lama ini telah membawa Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum partai tersebut. Hasil akhir kongres sungguh luar biasa, betapa kehebohan yang berlangsung berbulan-bulan, khususnya perseteruan perebutan kekuasaan antara Andi A. Malarangeng dengan Anas Urbaningrum, pada akhirnya melahirkan suatu tatanan yang lebih baru di khasanah perpolitikan nasional.

Tetapi dampak dari kongres belumlah berakhir. Kini, ada 2 hal menarik yang muncul ke permukaan yang menarik hati tidak saja bagi para pengamat politik kita, termasuk juga oleh para politisi, partai Demokrat dan partai lainnya. Pertama, munculnya Majelis Tinggi Partai Demokrat (MTPD) yang memiliki "kekuasaan tinggi" bahkan melebihi kekuasaan Ketua Umum atau Dewan Pimpinan Pusat Partai. Termasuk kekuasaan untuk tidak menyetujui hasil-hasil atau keputusan Ketua Umum/DPP. Juga dalam rangka menetapkan nama-nama calon Presiden, atau calon Gubernur, juga calon Anggota DPR dari Partai Demokrat.

Apabila pada akhirnya MTPD ini benar-benar memiliki kekuasaan luar biasa sebagaimana yang banyak disebutkan, dan kebetulan jabatan tersebut dipegang atau diketuai oleh Susilo Bambang Yudhoyono, maka reformasi menjadi suatu partai modern oleh Partai Demokrat, sekaligus sebagai sebuah partai yang menjalankan organisasi dan manajemen secara modern yang sebelumnya banyak dijadikan contoh oleh partai/politisi lain, keadaannya diperkirakan, akan berbalik dan menjadi biasa-biasa saja. Ini adalah salah satu pertaruhan antara keinginan untuk melakukan reformasi politik melalui organisasi dan leadership sebagai suatu partai modern, dengan semangat untuk tetap mempertahankan suatu kekuasaan.

Isu kedua yang juga menarik adalah adanya wacana yang dikemukakan oleh (sebagian) politisi Partai Demokrat untuk memunculkan Ny Ani Yudhoyono, istri Presiden SBY, sebagai calon presiden dari Partai Demokrat. Wacana ini tentu saja menarik perhatian tidak saja bagi kalangan Partai Demokrat, tetapi terutama oleh kalangan luar. Muncul banyak pertanyaan di hati masyarakat atas wacana yang mengejutkan ini. Bagaimana mungkin, pada satu sisi Partai Demokrat berulang-ulang memproklamirkan dirinya menjadi sebuah partai modern, kemudian di sisi lain, dengan berbagai alasan, mencoba memunculkan wacana tidak populer yang membuat masyarakat menjadi bingung. Bingung karena masyarakat tidak memahami cara-cara yang masuk akal yang dilakukan oleh sebuah partai modern untuk memunculkan nama-nama tertentu (tentunya sebagai kader partai terbaik yang paling kompeten) menjadi calon Presiden Republik Indonesia.

Tentu masyarakat tidak ingin meng-klaim bahwa Ibu Ani Yudhoyono itu pantas atau tidak pantas menjadi calon Presiden dari Partai Demokrat. Bisa saja Ibu Ani Yudhoyono adalah seorang calon terbaik partai tersebut. Bagi masyarakat, yang paling penting adalah, ukuran apa yang digunakan untuk mengatakan seseorang itu layak menjadi calon Presiden dari partai Demokrat. Apabila hal ini tidak mampu dijelaskan oleh pimpinan partai Demokrat, akan muncul stigma negatif terhadap partai dan tentunya kepada Ketua MTPD. Bahkan kemunculan Ibas dalam panggung politik nasional yang berlangsung sangat cepat, sudah memunculkan pendapat pro dan kontra yang berpotensi membuat Partai Demokrat menjadi kesulitan untuk menjelma menjadi sebuah partai modern. Jangan sampai par SBY menjadi kesulitan untuk menjawab isu nepotisme yang bagaimanapun akan menyulitkan partai demokrat dalam rangka memenangkan Pemilu tahun 2014.

Dua hal ini menjadi agenda penting dari orang-orang Partai demokrat yang apabila tidak dihandle secara baik, dipastikan akan melahirkan dampak negatif yang akan menyulitkan partai.
Post a Comment