Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Wednesday, 11 August 2010

Menikmati Kuliner Kota Ambon di malam hari


toto zurianto


Sudah lebih 5 tahun, masyarakat Ambon kembali merasakan kedamaian setelah sejak periode 1999/2000 sampai dengan tahun 2004 dikoyak oleh pertentangan hebat yang mereguk banyak nyawa saudara sendiri.

Kini suasana Maluku dan Ambon, benar-benar damai dan hidup. Kota Ambon sendiri benar-benar menggeliat dalam 3 tahun terakhir. Tahun lalu (2009), di Pantai Natsepa yang putih dan terkenal dengan penjual Rujaknya, mulai didirikan hotel Bintang 5 yang bernuansa resort, Hotel Aston Natsepa. Kini di tepat tengah kota Ambon, berdiri pula Hotel Swiss Belhotel berlantai 10 yang banyak dinikmati oleh para pebisnis dan pegawai yang kebetulan dinas ke Ambon.

Dunia kuliner malampun merasakan denyut yang sama. Sangat mudah mendapatkan makanan jalanan di tengah kota, bahkan sampai larut menjelang pagi. Salah satunya adalah penjual Nasi Kuning yang memulai dagangannya sejak mentari menghilang, dan baru tutup sekitar jam 4 pagi.

Nasi Kuning, sebenarnya tidak berbeda dengan nasi kuning yang ada di daerah lain di Indonesia. Kalau di jakarta biasanya nasi ini dimasak dengan menggunakan santan seperti nasi Uduk, disini, tidak memakai santai, tetapi seperti nasi biasa yang bewarna kuning dengan menggunakan Kunyit dan sedikit garam. Memang nikmat, kita bisa memilih belasan lauk yang disajikan dalam panci dan wadah lain sesuai keinginan kita, antara lain; ikan goreng, ayam goreng, cumi, bahkan kepiting lada hitam.
Standar penyajian Nasi Kuning biasanya dilengkapi dengan goreng tempe orak-arik yang dipotong kecil dan halus, bihun goreng, sambel cabe merah, dan telor mata sapi atau dadar. Kitapun bisa mendapatkan Sate Kerang, telor rebus, bakwan, atau udang!
Rasanya enak, terutama kalau dimakan di meja yang ditata di pinggir jalan seraya ditemani dengan Segelas Teh Manis Panas yang segar.

Salah seorang Ibu penjual yang berasal dari Madura, sudah berada disana, berjualan nasi kuning selama 30 tahun yang awalnya memulai usahanya bersama Almarhum suaminya. Kini ebrsama anak dan menantunya, membuka 2 warung nasi Kuning tidak jauh dari tempat tersebut, setiap malam.

Hasilnya? Lumayan kata Ibu yang berusia sekitar 60 tahun dan membangun rumah di Madura itu. Dia bersama keluarganya sudah 2 kali naik haji dan setiap tahun, 2 kali bisa pulang kampung ke Madura dengan membawa penghasilan yang lumayan.