Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Thursday, 19 August 2010

PUASA TAHUN 70-AN

toto zurianto


PUASA


Menjalani puasa, bukan hanya sebagai kewajiban bagi setiap muslim. Puasa selalu memiliki tradisi kehidupan yang selalu membekas dan menyenangkan. Terutama masa-masa puasa ketika kita masih kecil atau masih remaja. Aku mulai puasa penuh, mungkin sejak kelas 3 SD. Ketika itu, sekitar tahun 68, kami tinggal di Kota Medan. Medan tahun 70-an, ketika kota masih terasa lebih sepi, penerangan yang belum merata di seluruh kota, sehingga lampu rumah kami, hanya bisa hidup sampai pukul 11.00 malam. Puasa, berarti, orangtuaku, Bapakku Almarhum, harus lebih dahulu bangun malam-malam, mungkin sekitar pukul 02.30 pagi untuk segera menyalakan Lampu Strongkeng (mungkin maksudnya "Strong King"), atau sering juga disebut Lampu Patromax yang digerakkan oleh Minyak Tanah (orang Medan menyebutnya sebagai Minyak Lampu), sumbu, dan harus dipompa untuk mendapatkan angin, serta Spuyer untuk membesarkan dan mengecilkan keluarnya minyak tanah. Tahun 70-an ketika sumber energi masih sangat terbatas di negara ini, ketika kebutuhan atas energi juga masih sangat terbatas, lampu Strongkeng dan Lampu Teplok (disebut juga lampu dinding), adalah sumber penerangan utama yang fungsinya sama dengan Genset pada saat ini. Ya, bulan puasa, kami biasanya makan sahur bersama-sama sekeluarga, dan orang Medan dahulu, biasanya melaksanakan makan sahur atau buka dengan duduk di atas tikar.

Sungguh nikmatnya malam-malam hari pada bulan puasa. Termasuk, bagi anak-anak adalah kunjungan ke Mesjid, baik pada waktu Sholat Subuh bersama, maupun ketika mengikuti Sholat Tarawih. Lalu, puasa berarti libur panjang. Kami anak-anak tahun 70-an, biasanya setelah Sholat Subuh, tidak langsung pulang ke rumah, tetapi jalan-jalan, atau istilah orang Medan dulu sebagai "Asmara Subuh". Biasanya berlangsung sampai menjelang siang, baru pulang setelah bermain sesama anak-anak. Tidak banyak permainan rumah yang bisa dilakukan, tidak ada electronic, bahkan Radio Transistor saja baru mulai ada. Belum tentu setiap rumah memiliki radio Transistor.

Apalagi Telivisi. Mungkin hanya ada 1 atau 2 rumah di seluruh kampung yang sudah memiliki Televisi hitam putih, itupun terpaksa harus mempunyai antena yang tinggi untuk mendapatkan siaran dari negara tetangga Malaysia. Ketika itu Medan belum mempunyai Studio TV dan tidak mempunyai pemancar relay untuk mendapatkan siaran dari Jakarta. Baru setelah tahun 1970 (aku lupa tepatnya), studio Televisi mulai dibangun di Medan. Tentu saja kami tidak pernah tahu apa yang dimaksud dengan Komputer atau PS-1, atau permainan modern lainnya. Bahkan kami belum pernah melihat Tape Recorder pada masa itu.

Waktu berbuka adalah masa yang paling ditunggu oleh anak-anak. Nah, sama seperti menu sekarang yang banyak menghadirkan Menu Kolak dan Minuman Dingin (syrup). Hanya bedanya, terlalu sedikit keluarga yang sudah memiliki Kulkas, setahuku, di kampung kami, hanya ada 1 keluarga yang sudah mempunyai Kulkas, dan mereka, kalau tidak salah dari keluarga Mayor Onnie, yang menggunakan kulkasnya untuk membuat Es Ganefo yang dibungkus dalam plastik kecil dan dijual sekitar Rp5 per biji. Jadi kalau kami ingin menikmati minuman dingin, kami harus membeli Es Batu di pinggir jalan yang banyak dijual ketika bulan puasa yang biasanya dilindungi oleh Serbuk Gergaji dan Karung Goni untuk mencegah agar tidak mudah cair.

Tarawih, semangat kali ketika kami harus berangkat ke Mesjid. Tidak tahu kenapa, pasti bukan karena ingin menjalankan ibadah secaha khusuk. Biasanya karena kami bisa maen sepuasnya sesama anak-anak. Ini yang sering membuat Pak Uztad marah-marah, bayangkan, bagaimana kami membuat keributan di baris belakang seolah tidak pernah berhenti. Apalagi kalau harus mengerjakannya sampai 22 raka’at, biasanya anak-anak pada keluar menjelang raka’at ke 9, dan masuk lagi sebelum mengerjakan withr!

Lalu permainan apa yang sering kali lakukan di bulan Puasa? Kami sering menyiapkan Meriam Bambu dan Meriam Karbit. Meriam Bambu dibuat dari bambu dengan diameter 10 atau 15 centimeter dan panjang sekitar 2 meter, dan pada ujungnya ditutup dan diberi lubang sekitar 2 x 1 centimeter. Lalu diisi dengan Minyak Tanah dan disulut api untuk menghasilkan bunyi yang menggelegar. Luar biasa senangnya, dan itu dilakukan dengan bersahut-sahutan di beberapa tempat yang membuat ibu-ibu sering protes. Kalau mau lebih keras, kami membuat Meriam Karbit, atau Meriam Tanah yang digerakkan dengan menggunakan Karbit yang diberi air dan ditutup beberapa saat dalam sebuah lubang untuk mendapatkan suara yang dahsyat. Lalu disulut dengan api, dan booooommmmmmmm! Bumipun bergetar! Puas rasanya. Meskipun setelah itu banyak ibu-ibu yang marah.

He he he, apa ada lagi ya cerita bulan puasa seperti ini? Mungkin udah lenyap, tapi inilah dunia indah dari masa-masa puasa tahun 70-an. Ada kesederhanaan, tetapi maknanya tetap sama, menahan nafsu untuk mendapatkan ridho Allah SWT.