Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Friday, 4 July 2014

Memilih Prabowo Subianto, atau Jowo Widodo

toto zurianto

Banyak masyarakat Indonesia yang belum menentukan pilihannya, padahal sampai hari ini Jumat 4 Juli 2014, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden untuk periode 2014 - 2019, hanya tinggal 5 hari lagi. Rabu 9 Juli kita harus menentukan pilihan, apakah memilih Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa, atau Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
Sementara, di media tulis dan media on-line, banyak sekali upaya-upaya yang digunakan untuk meningkatkan elektabilitas calon masing-masing, sekaligus berusaha menyudutkan calon lawan. Televisi dan Surat Kabar kini berlomba untuk melakukan kampanye, baik yang sangat positip untuk mendukung calon Presiden dan Wakil Presiden yang terkait dengan media tersebut, maupun berusaha mencela calon yang tidak didukungnya. Seperti Metro TV yang selama ini dikenal sebagai media yang kritis dan kuat analisis jurnalistiknya, terpaksa melakukan hal-hal yang sangat tidak bisa dinikmati oleh pemirsanya. Berita Metro TV kini hanya berupa dukungan ke calon Presiden Jowoki-JK, sekaligus menghancurkan reputasi Prabowo-Hatta.
TV lain seperti TV One lebih cenderung mem-broadcast berita-berita positip bagi calon Prabowo-Hatta, juga media yang dimiliki oleh Group MNC seperti RCTI.

Masyarakat memang lebih banyak yang semakin ragu dan galau ketika media justru tidak memberikan porsi pembelajaran politik yang lebih neutral. Kini masyarakat merasa, berita televisi atau surat kabar cenderung terlalu sangat memihak, bahkan dengan bahasa yang cenderung fulgar. Apalagi para purnawirawan TNI-Polri kini banyak yang terlibat dan saling menghantam karena mendukung salah satu calon yang membuat mereka menjadi tidak menghormati dan menghargai Sapta Marga mereka sendiri. Dengan alasan sebagai masyarakat bebas, merekapun, para purnawirawan Jenderal ini, tidak malu untuk saling serang, terutama secara bersama-sama melakukan black campaign kepada salah satu calon, Prabowo Subianto yang disebut sebagai "bekas" prajurit yang "suka melanggar" HAM.
Tentu saja kita tidak bisa mengklarifikasi tuduhan itu karena semuanya tidak didukung oleh data dan informasi yang akurat dan benar.

Hanya 5 hari lagi akhirnya kita masyarakat Indonesia harus menetapkan pilihannya. Apakah memilih Prabowo atau Joko Widodo. Siapa yang kita nilai akan memberikan manfaat lebih banyak bagi Indonesia dalam 5 tahun ke depan, apakah Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK! Prabowo yang kelihatan lebih banyak menahan diri dengan tidak menanggapi berbagai tuduhan kolega mantan Jenderal yang sangat tendensius, yang dilihat lebih visioner dan tegas dalam membangun Indonesia ke depan; atau Joko Widodo yang dikesankan sebagai calon yang lebih merakyat dan sederhana! Paling-paling itu yang bisa dijadikan pertimbangan masyakarat sebelum pergi ke TPS pada 9 Juli 2014 nanti. Prabowo yang visioner dan tegas, atau Joko Widodo yang sederhana dan merakyat?