Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Tuesday, 1 July 2014

Leaders; Differentiate Both Great and Poor

toto zurianto

Seorang pemimpin, tidak saja tramendous dalam mewujudkan visi dan melakukan perubahan (change management and action), juga seseorang yang bagus dalam mengelola Sumber Daya Manusia (manage people). Sering kita mendengar bagaimana kinerja seorang pemimpin yang tangguh yang mampu membangkitkan semangat, memupuk keberanian anak buahnya, sekaligus memiliki ekspektasi tinggi bagi setiap orang untuk memberikan kontribusi terbaik bagi organisasi.
Tetapi di samping itu, perwujudannya dilaksanakan melalui kemampuan melakukan penilaian kinerja bawahan secara baik, adil dan meningkatkan motivasi kerja. Penilaian kinerja yang baik bukan semata memberi nilai tinggi bagi anak buah. Pemimpin dituntut untuk melakukan pembedaan (to differentiate) antara orang-orang yang sangat baik kinerjanya (termasuk behaviournya), dengan orang-orang yang biasa-biasa atau sedang (middle performers), dan juga orang-orang yang dinilai kurang berprestasi dan perlu ditingkatkan kinerjanya (the lowest performance).
Memberikan perbedaan atas orang-orang yang berkontribusi berbeda, termasuk pekerjaan leaders yang tidak ringan. Ini menjadi penting dan meliputi berbagai aspek penilaian yang akhirnya menjadi satu keputusan. Biasanya, beberapa pendekatan dilakukan secara menyeluruh, misalnya level kompetensi pegawai pada jabatannya, kontribusi atau hasil kerja yang diberikannya, baik secara individu maupun secara bersama (kelompok), serta perilaku kerja (behaviour) yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan dan level jabatan.

Lalu, setelah melakukan pembedaan yang biasanya tidak dilakukan secara individu tetapi dengan melakukan diskusi dan pembahasan bersama para manajer, sebuah organisasi perlu mempertimbangkan pola pemberian penghargaan yang dilakukan. Selalu harus ada sistem reward yang mampu meningkatkan motivasi kerja pegawai, terutama bagi pegawai yang dinilai Top Performer. Tetapi di samping itu, jangan lupa, seorang lower performance juga penting untuk diperhatikan dan dikomunikasikan. Menetapkan seorang pegawai dalam kategori nilai kinerja rendah, bukan pekerjaan yang ringan. Leaders memerlukan kemampuan dan cara komunikasi yang benar agar siapapun bisa menerima hasil penilaian dan menjadikannya sebagai feed-back untuk perbaikan kinerja di waktu akan datang. Jadi, meskipun mendapatkan nilai kinerja rendah itu menyedihkan, yang paling penting adalah bagaimana seorang pemimpin bisa melakukan komunikasi secara benar.