Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Monday, 30 June 2014

Indonesia Memilih Presiden

toto zurianto

Hanya 9 hari lagi, masyarakat Indonesia akan memilih (vote) siapa yang diberi kepercayaan memimpin negara selama 5 tahun ke depan. Apakah pasangan nomor 1 Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa, atau pasangan nomor 2 Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang akan menjabat Presiden dan Wakil Presiden RI. Banyak sudah survei yang disampaikan, banyak diskusi yang dilakukan, baik oleh pengamat profesional, kaum politisi, maupun orang-orang amatir di pasar dan warung kopi. Semua orang punya hal untuk menominasikan kandidat kesayangannya. Kitapun tidak punya hak membatasi keinginan dan kesukaan orang terhadap pasangan salah satu calon. Inilah demokrasi Indonesia yang mengalami kemajuan pesat sejak 15 tahun terakhir. Apalagi, kini, persoalan diskusi dan pembahasan mengenai calon yang didukung, tidak lagi hanya dilakukan di ruang publik terbuka. Diskusi dan pendapat, bahkan kritikan dan hujatan, sudah biasa dilakukan lewat media sosial sarana on-line melalui internet.

Menjadi pemimpin di zaman teknoogi informasi yang berkembang pesat, atau pada zaman "dunia datar" memimjam istilah "the world is flat"nya Thomas Friedman, jauh berbeda dibandingkan dengan era Soeharto atau pada zaman Sukarno. Pendekatan kepemimpinan yang kharismatik dan flamboyan, tidak lagi menjadi pertimbangan utama. Lihat saja kedua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden kita, boleh dikatakan, keempatnya bukan-lah orang-orang yang masuk kelompok karismatik dan flamboyan. Pemimpin di Aba d ke-21, adalah pemimpin yang bisa membawa Indonesia menjadi salah satu negara maju, atau negara yang lebih modern yang bisa sejajar dengan Malaysia atau Korea dan Amerika Serikat. Indonesia yang kita harapkan tidak lagi terlalu banyak berketergantungan dari negara lain. Indonesia perlu cukup pangan dan mandiri, termasuk teknologi dan keperluan internal lainnya. Indonesia harus bisa merubah kondisi balance of payment-nya, tidak lagi negara yang kemampuan ekonominya cenderung defisit. Jangan lagi nilai Rupiahnya, cenderung melemah dan turun. Indonesia masa depan, harus mampu mengekspor produk otomotif dan pesawat terbang, setidaknya menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Kita Indonesia, searah dengan sasaran kemajuan tersebut, juga diharapkan mampu memberantas kemiskinan dan keterbelakangan. Anak-anak Indonesia semuanya harus bersekolah, bahkan semuanya harus bisa mengecap jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Lalu kota-kotanya bisa berkembang baik, tertib dengan lalu lintas yang teratur, rapi dan murah. Kita menginginkan pemimpin yang bisa memberikan contoh suatu masyarakat yang baik, bebas nepotisme dan bebas praktek korupsi. Aparat negara harus mampu memberantas praktek birokrasi yang menjengkelkan.

Kita sedang menunggu pemimpin yang kuat dan visi besar, rencana besar, tetapi bisa diwujudkan dalam waktu yang tidak terlalu lama.