Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Thursday, 19 June 2014

Surabaya, Sang Walikota, dan Dolly

toto zurianto

Surabaya, sebuah kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Kalau anda berkunjung ke sana sekarang, ya sejak 5 tahun terakhir, situasinya sungguh berbeda. Dulu, Surabaya, terkenal dengan kesemrawutannya, padat, berdebu, dan tentunya macet. Kini, entah kenapa, apakah hanya penilaian saya yang terlalu personal. Saya merasakan betapa nyamannya berada di Surabaya, tidak hanya di kawasan perkotaan yang dihuni oleh banyak gedung bertingkat. Bahkan sampai ke pinggiran dan sekitar pasar, juga area pelabuhan dan pergudangan, relatif kondisinya sangat baik dan menyenangkan.
Tidak seperti yang disebut dalam lagunya Franky and Jane, bis kota yang berdebu penuh sesak penumpang! Kini, taman-taman yang bersih, jalan-jalan dan trotoar yang terawat, pedagang kaki lima? tidak ada yang selewaran seenaknya, pokoknya tertib rapi sejuk dan bersih.

Mungkin bukan prestasi 1 atau 2 orang, tapi paling tidak inilah yang diakui sebagai kerja luar biasa dari Ibu Walikota Tri Rismaharini, atau dikenal sebagai Bu Risma saja beserta jajarannya.
Bu Risma adalah sosok hebat yang bekerja melalui pemikiran sederhana tetapi cepat dan selalu melakukan check and re-check again atas hal-hal yang sudah menjadi komitmen bersama. Pernah menjadi Kepala Dinas Pertamanan Kota Surabaya, dan selanjutnya menjadi Walikota dengan Wakil Walikota bekas Walikota sebelumnya. Tapi semuanya dalam control Bu Risma yang tegas dan selalu mencari jalan keluar atas setiap persoalan. Tidak sekedar menjawab, tapi melakukan. Lalu pada waktu selanjutnya, wakil walikota diganti dengan orang yang berasal dari partainya ibu Risma. Situasinya sangat tidak kondusif karena wakilnya, ternyata sering berseberangan dengan kebijakan Ibu Walikota. Ini gejala umum di Indonesia. Masih banyak orang yang bekerja di lembaga pemerintah, tetapi tetap selalu memperjuangkan dan mewakili partai asal secara membabibuta. Seharusnya, semua orang yang bekerja sebagai birokrasi negara, termasuk pejabat pemerintah daerah, tegas melepaskan bagu partainya untuk melayani siapa saja tanpa pandang bulu.

Bu Risma berhadapan dengan orang-orang seperti itu. Orang-orang yang tidak pernah mau menjadi orang kedua atau ketiga. Semua orang merasa sama seperti Pimpinannya.