Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Sunday, 29 June 2014

Medan Aceh dengan Luxury Bus

toto zurianto

Perjalanan dari Medan ke Banda Aceh, dicatat oleh para penggemar bus antar kota (bus mania) sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia saat ini. Terutama di luar Jawa. Tahun to-and dan 80-an, bus-bus antara kota terutama berkembang di Pulau Jawa, trayek jarak jauh Jakarta Surabaya, Jakarta Jogyakarta, juga ke Denpasar. Tapi perjalanan di Pulau Sumatera juga mulai meriah, bahkan banyak bus antar kota dan antar pulau yang melayani trayek Medan Jakarta, sampai ke Solo dan Surabaya. Ketika itu beberapa bus asal Medan (Sumatera Utara) dan Padang (Sumatera Barat), seperti ALS (Antar Lintas Sumatera) dengan ratusan armada, juga Sibual-buali, Makmur, ANS, PO Bunga Setangkai, dan Firma PMTOH dari Aceh.
Meskipun jalan lintas sumatera sering hancur dan banyak hambatan, tetapi perjalanan bus-bus tersebut, mampu melayani penumpangnya secara luar biasa. Hampir semua kota besar di Pulau Sumatera mempunyai hubungan cepat melalui bus antar kota antar pula tersebut, mulai dari Banda Aceh, Medan, Pekan Baru, Padang, Bukittinggi, Palembang, Jambi, Bengkulu dan Bandar Lampung.

Bus Sumatera mulai tenggelam dan sebagian mati paska reformasi, terutama setelah berkembangnya transportasi pesawat udara bertiket murah (cheap fare) yang pertama kali dirintis oleh Lion Air di awal tahun 90-an. Dengan harga tiket Jakarta Medan sekiktar 300-400 ribu Rupiah dari Medan ke Jakarta yang diberikan Lion Air (juga Batavia, Adam Air, Sriwijaya), bus-bus tentu saja tidak mampu bersaing. Satu per satu bus-bus jarak jauh tersebut mulai rontok. Bahkan membuat cerita perjalanan jarak jauh yang sangat nostalgik, menjadi hilang hingga saat ini.

Tetapi perjalanan Medan ke Banda Aceh, termasuk ke Lhokseumawe, Bireuen, Sigli dan Takengon tidaklah benar-benar mati. Route bus-bus ini sedikit terganggu ketika terjadi konflik Aceh sekitar akhir 90-an sampai awal 2000-an. Bahkan dalam 5-7 tahun terakhir, bus-bus antar kota antar provinsi di Aceh berkembang sudah sangat pesat dengan bus-bus mutakhir dengan chasis dan body terbaru. Saat ini, para penggemar bus bisa menikmati bus mercedez benz terbaru, apakah 1525, 1626, sampai ke model 1830. Perusahaan bus PMTOH yang sudah berdiri sejak zaman kemerdekaan (Perusahaan Motor Transport Onderneming Hasan) kini tidak ketinggalan untuk bersaing dengahn armada Jetbus HD2 28 seat full AC dengan fasilitas wifi dan toilet. Bus Super Eksekutif dengan tiket sekitar Rp200 ribu dari Medan ke Banda Aceh ini didukung dengan chasis Mercedez OH1830 terbaru 13000 cc.

Armada paling canggih lain yang melayani perjalanan Medan Banda Aceh adalah Sempati Star yang menggunakan mesin Scania K360 12 ribu cc. Bus mewah seharga Rp2,5 milyar ini, mematok tarif Rp250 ribu dari Medan ke Banda Aceh non stop sekitar 8 jam dengan penumpang hanya 21 orang. Lebih nyaman, seperti sedan, bahkan suspensinya dipercaya sangat nyaman dan stabil.

Kini cukup banyak perusahaan bus antar kota antar provinsi yang bangkit kembali. Mereka kita berlomba memenangkan persaingan dan pilihan pelanggannya. Tidak saja pelayanan, juga bus-bus yang mewah dan mutakhir, serta harga dan pengemudi yang profesional. Kalau anda ingin menikmati perjalanan terbaik, kini ada di Aceh, terutama perjalanan dari Medan ke Banda Aceh. Penumpang tidak terlalu memperdulikan harga ticket yang cukup mahal, bahkan bisa mendekati ticket pesawat. Yang penting lancar, nyaman dan menyenangkan. Pelayanan bus seperti ini belum terlihat pada jalur Medan ke Padang, Pekan Baru, alembang dan Jakarta.  Sudah mulai ada bus super eksekutif, tetapi belum dikelola seperti bus-bus yang ada di Aceh.

Sarana dan fasilitas transportasi darat, terutama bus antar kota, sudah saatnya diperhatikan dan dikembangkan. Ini akan membantu masyarakat untuk lebih berinteraksi, berhubungan dan saling mengunjungi. Tidak harus transportasi udara yang memang sudah lebih dahulu berjaya. Semua sarana transportasi perlu kita bangkitkan dan kembangkan. Sesudah bus kota (busway), bus antar kota dan antar provinsi, maka sarana kereta api dan Kapal Laut perlu secara terpadu dibangun dan dikembangkan. PT Pelni yang pernah jaya menghubungkan seluruh wilayah nusantara, kini hampir tidak terdengar kiprahnya. Semua perlu kita perhatikan, seperti yang kini berkembang di Aceh dengan bus-bus tercanggih super eksekutif non stop.



Post a Comment