Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Tuesday, 24 June 2014

Batam

toto zurianto

Kita pernah mendengar tentang Proyek Otorita Batam. Sekitar tahun 70-80 an, proyek pemerintah Soeharto ini dibangun sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan peran ekonomi Indonesia dalam kancah perdagangan nasional. Letaknya yang strategis dinilai sangat mumpuni untuk menjalankan jasa kepelabuhan, industri dan menjadi alternatif kegiatan ekspor impor setelah Singapore. Pemerintah ketika itu memutuskan untuk membangun Batam secara besar-besaran, baik pelabuhannya, maupun bandar udara.

Selanjutnya seiring dengan perkembangan dan transformasi politik Indonesia paska Soeharto, banyak perubahan yang dilakukan, termasuk mengenai pengelolaan daerah khusus Batam. Bergulirnya kebijakan otonomi daerah dan sistem desentralisasi ekonomi dan politik, maka hal-hal yang sebelumnya berada pada kekuasaan Proyek Otorita Batam, menjadi berbeda. Termasuk pada akhirnya dengan pendirian Provinsi baru di luar Provinsi Riau, atau dikenal dengan Provinsi Kepulauan Riau di kawasan Pulau Batam dan Pulau Bintan. Batam selanjutnya mulai bermotamorfosa dalam bentuk yang berbeda.
Tentu saja banyak perkembangan, tetapi peruntukannya menjadi berbeda. Cita-cita menjadikan Batam sebagai alternatif penting di bidang industri, perdagangan luar negeri (ekspor-impor) dan jasa kepelabuhan, tidak lagi mendapat sentuhan penting. semuanya menjadi berbeda.

Kini, semuanya berkembang. Kota menjadi padat dan sibuk. Jalan-jalan banyak dan cukup bagus, tetapi banyak juga yang terlihat semrawut. Termasuk kumpulan rumah gubuk dan liar yang ramai di sekitar lokasi strategis. Pemerintah dan masyarakat Batam, termasuk kepulauan Riau yang lain, perlu melakukan redefinisi dan redisain mengenai cita-cita dan masa depan Batam. Batam, bagaimanapun menjadi destinasi tourist yang cukup diminati, baik tourist asing seperti dari Malaysia dan Singapore, maupun pengunjung dalam negeri yang tidak sedikit. Jembatan Barelang yang indah dan mahal dan menjadi icon Batam, kelihatan tidak indah, kumuh, dan dipenuhi oleh pengunjung dan pedagang yang seolah-olah telah menjadi penguasa wilayah. Kita harus melakukan langkah tegas dan terarah, agar icon mahal dan strategis itu, tidak menjadi sekedar tempat usaha liar yang membuat kita miris.

Batam adalah pintu masuk penting Indonesia dari utara. Kita perlu membuat dan merawatnya secara baik. Batam harus mampu, setidaknya seperti Pulau Penang yang lebih terkenal dan terawat. Mari kita rawat dan bangun. Jangan sampai Batam menjadi tempat pembuangan sampah dan tempat mengais yang bauk dan menjijikkan.