Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Tuesday, 26 July 2016

Film Indonesia; Mulai banyak ditonton

toto zurianto

Di era 70-an sampai 80-an, Film-film nasional bermutu, banyak diputar di bioskop-bioskop di tanah air. Ketika itu, belum ada belum ada model bioskop multipleks seperti sekarang. Jadi hanya pada bioskop tunggal dengan kapasitas besar. Kita mengenal para dedengkot Film nasional, mulai dari Teguh Karya, Wim Umboh, atau Nawi Ismail. Lalu para bintang hebat, ada Farouk Afero, Zainal Abidin, Sophan Sophian, Widyawati, Jenny Rachman, Suzana, Sukarno M. Noer atau Rahmat Hidayat. Lalu ada era Christine Hakim, Robby Sugara, Roy Martin, sampai ke Lidya Kandow, Rano Karno, dan Herman Felani.
Beberapa Film hebat misalnya Penganti Remadja (Sophan Sophian Widyawati), Impian Semusim, , Film Komedi juga hebat, misalnya; Bing Slamet Koboi Cengeng, atau Benyamin dengan Biang Kerok-nya.
Film Indonesia sempat surut dan atau vulgar. Kita pernah disuguhi oleh Film-film yang bertema Setan Iblis dan Sex yang kurang bermutu. Film tentang Kuntilanak dan Pocong sempat berkembang hebat. Bahkan untuk film yang bertema Sex, kehadirannya juga luar biasa.
Setelah berbagai era yang kurang menggembirakan, selama beberapa tahun terakhir, Film Indonesia muncul dengan thema yang bagus dan dikemas secara sangat menarik. Sejak Film Laskar Pelangi (2008), sampai dengan yang terakhir, Film Ada Apa dengan Cinta Jilid 2 (AADC 2), kita mulai menikmati film nasional yang bermutu dan menarik. Penonton film nasional mulai membludak dan menguasai panggung sinipleks di semua kota. Dalam sebuah Bioskop di sebuah Mal terkenal, Film AADC 2, misalnya berhasil menguasai dan menjadi pemenang. Sebuah prestasi para sineas Indonesia yang mampu mengundang penonton untuk mencintai film-film karya anak bangsa sendiri.
Perhatikan, AADC 2, dengan biaya produksi sekitar Rp10 milyar (2016), berhasil mengumnpul jumlah penonton mencapai 3,6 juta orang. Laskar Pelangi (2008) ditonton 4,6 juta orang. tercatat sebagai film nasional yang paling banyak ditonton sampai hari ini (mungkin diluar Film Penghianatan G.30 S/PKI). Film lain Habibie dan Ainun (2016) telah ditonton 4,5 juta orang. Ayat-ayat Cinta (2008) ditonton 3,5 juta orang, My Stupid Boss (2016) telah ditontot 3 juta orang.  Film laion yang juga berhasil mencuri perhatian masyarakat adalah; Ada Apa dengan Cinta (2002) ditonton 2,7 juta orang, Eiffel I'm in Love ditonton 2,6 juta orang (2003), 5 cm ditonton 2,4 juta orang (2012), Ketika Cinta Bertasbih 2,1 juta (2009) dan Sang Pemimpi (2009) yang ditonton 2 juta orang.

Sebuha pencapaian yang menggembirakan. Orang tidak lagi malu untuk menonton Film negeri sendiri. Bahkan rela antri untuk mendapatkan tempat. Ini sebuah pencapaian yang luar biasa. Kita tidak memerlukan Bom Sex atau Cerita Tahyul untuk membuat Film-film hebat dan terbaik. Alur cerita yang baik dan Bintang Film yang berkualitas menjadi penentu yang bisa menjamin lahirnya Film Nasional bermutu.