Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Wednesday, 10 August 2016

Leaders, Not Only Vision, but How to Execute!

toto zurianto

Soal leadership, kita sering terpesona pada pemimpin yang luar biasa mampu melahirkan gagasan-gagasan hebat. Tidak hanya di perusahaan swasta, pada lembaga negara atau BUMN, banyak juga yang luar biasa mampu melahirkan gagasan perubahan yang hebat. Soal Pemimpin, tidak jauh berbeda. Banyak orang hebat di lembaga-lembaga negara. Tetapi, seperti yang disampaikan Jim Huling, penulis buku The 4 Discipline of  Execution (4DX) bersama Chris McChesney dan Sean Covey, serta Buku Choose Your Life, melaksanakan eksekusi termasuk bagian sangat penting. Ini yang akan memberi perubahan, apakah hanya visi, atau juga bersama kemampuan eksekusi dan mampu mengembangkan pegawai.

Jim Huling sharing Leadership di OJK Institute 
Lalu bagaimana agar proses eksekusi bisa dilakukan dengan baik dan memberikan nilai tambah bagi sebuah organisasi? Ada 4 discipline yang selalu harus diperhatikan seorang Leader. Pertama, seorang pemimpin yang tentunya sudah mendapatkan mandat/wewenang, perlu fokus pada sedikit pekerjaan yang memberikan nilai tambah paling besar. Fokus pada sedikit pekerjaan yang, bukan berarti mengabaikan pekerjaan lain. Tetapi, mengerahkan daya dan pikiran pada sedikit pekerjaan besar, atau yang disebut dengan Wildly Important Goals (WIG) akan memberikan kontribusi besar bagi perusahaan. Inilah tugas utama seorang leaders, yaitu menetapkan WIG, Bukan semua target menjadi fokus sehingga tidak jelas, mana yang disebut WIG.
Kedua, kita memerlukan ukuran keberhasilan yang kita sebut Lead Measure. Lead Measure adalah ukuran yang memperhatikan adanya perubahan perilaku yang akan mendorong suatu keberhasilan. Bukan hanya ukuran yang bersifat angka atau pencapaian target tertentu saja, atau Lag Measure. Kita bukan sedang meninggalkan ukuran Lag Measure. Angka keberhasilan tetap diperlukan. Tetapi perubahan yang bersifat behaviour perlu kita jadikan sebagai panduan yang penting.
Ketiga, kita memerlukan Scoreboard yang memperlihatkan pencapaian-pencapaian secara individu dan kelompok. Tujuannya agar semua orang yang terlibat pada sebuah tim, bisa menunjukkan engagedment dan titik kritis dari perjalanan untuk mencapai sebuah tujuan. Kita perlu mengetahui apakah kita sedang berada pada jalur yang tepat, atau memerlukan adjustment.
Terakhir, kita harus menjamin agar semua pekerjaan bisa berlangsung secara baik, teratur dengan akuntabilitas yang terjamin. Perubahan-perubahan perilaku perlu berlangsung secara teratur dalam sebuah kebiasaan (habit) yang bisa dijamin keberlangsungannya.

Inilah 4 disiplin yang kembali diingatkan oleh Jim Huling pada kesempatan Change Leaders Forum OJK Tahun 2016 di OJK Institute (Selasa 9 Agustus 2016) yang dihadiri para Direktur OJK dalam rangka program Manajemen Perubahan. Apabila kita bisa disiplin menjalankan 4 aspek penting 4DX tersebut, dapat dipastikan proses eksekusi yang kita perlukan untuk mewujudkan sebuah visi besar seorang pemimpin, bisa kita capai secara baik.