Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Saturday, 8 October 2016

The Future Leaders and Emotional Aspect

toto zurianto

Banyak perubahan di bidang pengetahuan dan teknologi yang memberikan pengaruh atas gambaran masa depan yang kita jalani. Termasuk berbagai temuan dan penelitian (research) yang membuat kita, harus atau terpaksa menjalani sebuah episode kehidupan apakah ke kanan atau ke kiri. Kadang bisa memudahkan, atau bisa juga membuat kita menjadi semakin sulit.
Pemimpin yang biasanya bergerak (mengambil keputusan) melalui rangkaian data dan analisis, proses bisnis, gerakan kompetitor yang terlihat maju mendahului kita, ataupun pandangan/keputusan pemerintah (Negara), investor, dan regulator, dan banyak ukuran-ukuran lainnya. Tetapi, menurut Patrick Dixon, dalam bukunya The Future of (almost) Everything; The Global Changes That Will Affect every business and All Our Lives (Profile Book, 2015), kita perlu melihat bagaimana perasaan orang-orang (People’s Feel), atau bagaimana mereka Berpikir (Think), Dengan sebuah kata, bagaimana Emosi Masyarakat (People’s Emotion) bisa melahirkan warna dan keputusan yang lebih siknifikan dibandingkan dengan tindakan yang sebenarnya yang dilakukan. Karena itu, tidak heran ketika semua aspek Kepemimpinan, selalu berhubungan dengan Emosi. Inilah yang membedakan Manusia dengan Robot. Robot, meskipun hebat dan canggih, tetapi akhirnya tetap harus dikendalikan manusia (yang mempunyai emosi). Hanya manusia yang bisa memimpin. Robot harus dikendalikan dan dipimpin (manusia).

Karena itu, pada tatanan keilmuan dan implementasi sebuah ide atau visi, kita memerlukan pendekatan emosional untuk memberikan keseimbangan dan warna. Agar, apa yang dilakukan, memiliki warna, keseimbangan, atau batasan. Tidak ada sesuatu yang bergerak tanpa batas. Kita memerlukan kombinasi antara akal (sehat) dan pikiran (sehat) yang diwarnai oleh emosi (yang stabil). Tujuannya agar perspektif masa depan yang kita tuju, tidak bergerak bebas semuanya sesuai pemikiran kita. Semua hal memerlukan keseimbangan, antara gerakan yang cepat dan emosi yang terkendalikan. 

  



Post a Comment