Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Monday, 3 October 2016

Memahami Kebijakan sebuah Bank Sentral

toto zurianto

Buku-buku tentang Bank Sentral dalam bahasa Indonesia, tidak banyak kita temui. Apalagi kalau itu menyangkut kajian teori dan bagaimana praktiknya dalam sebuah perekonomian negara. Karena itu, tulisan Dr. Perry Warjiyo dan Dr. Solikin M. Juhro dengan judul "Kebijakan Bank Sentral; Teori dan Praktik" terbitan RajaGragindo Persada (2016) menarik untuk dibahas. Sayangnya, atau mungkin hebatnya, buku ini terlihat sangatlah lengkap, dengan tebal 776 halaman termasuk indeks. Jadi memerlukan waktu untuk membaca dan memahaminya. Apalagi banyak teori dan model yang harus diulas secara lengkap. Jadi memang buku ini bukan untuk kebanyakan orang seperti kata penulisnya. Buku ini lebih sesuai untuk kalangan akademisi dan para dosen (pengajar) ilmu ekonomi di level lanjutan S2 dan S3.


Buku Kebijakan Bank Sentral; Teori dan Praktek dibagi dalam 5 bagian, bagian pertama meliputi sejarah dan evolusi bank sentral sejak zaman bank sentral pertama, Swedish Riksbank yang mulai berdiri pada tahun 1668. Pada Bagian Kedua, diuraikan mengenai perkembangan kebijakan moneter dan perekonomian. Termasuk mengenai peran uang, teori nilai tukar, dan mekanisme kebijakan moneter. Bagian Ketiga membahas kerangka kebijakan moneter, termasuk mengenai model dan teori moneter, kerangka operasionalnya, serta implementasinya di beberapa negara. Banyak diulas sejarah dan perkembangan rezim kebijakan moneter di Indonesia, operasi moneter, konsep dan penerapan Inflation Targetting Framework dan hubungannya dengan krisis keuangan global. Bagian Keempat meliputi aspek kelembagaan Bank Sentral. Bagian ini banyak membahas aspek independensi bank sentral dan akuntabilitasnya.  Termasuk mengenai aspek transparency dan startegi komunikais sebuah bank sentral.  Lalu pada bagian terakhir, Bagian Kelima, penulis membahas mengenai paradigma (baru) kebijakan bank sentral. Bagian kelima perlu mendapatkan perhatian kita karena menyangkut sebuah perubahan paradigma agar sebuah bank sentral tetap relevan untuk menjawab tantangan pada zaman yang berbeda. Bagian ini juga membahas Kebijakan Makroprudensial dan Stabilitas Sistem Keuangan, serta Bauran Kebijakan bank sentral. Tentunya dalam hal ini secara spesifik, bagaimana bank sentral Indonesia, Bank Indonesia dalam memainkan perannya.
Secara umum, peran yang diinginkan masyarakat atas keberadaan sebuah bank sentral, adalah bagaimana bank sentral mampu menjaga stabilitas makro, menjaga stabilitas harga atau inflasi agar bisa memberikan stimulasi bagi tumbuhnya aktivitas perekonomian. Menjaga harga barang dan jasa, atau mengendalikan inflasi agar tetap stabil yang membuat aktivitas ekonomi menggeliat dan tumbuh. Lalu pada zaman modern dan global, bank sentral juga, searah dengan menjaga harga barang (dan uang), memimpin untuk  mengantisipasi krisis keuangan global. Faktor ini, kemudian, ketika bank sentral Indonesia, “Bank Indonesia” tidak lagi melakukan tugas mengawasi bank-bank, memunculkan istilah sasaran kebijakan makroprudensial. Sasaran dan Kebijakan Makroprudensial yang dilakukan Bank Indonesia bertujuan untuk menjaga keseimbangan makrofinansial dan risiko sistemik dari stabilitas sistem keuangan. Upaya ini dilakukan melalui kebijakan makroprudensial dalam bentuk pengawasan dan pengaturan  (lihat uraian pada halaman 593 sampai 606). Pada dimensi yang lain, implementasinya pasti akan berhubungan dengan kebijakan dan pengawasan sektor keuangan yang menjadi domain otoritas lain, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 
Sayang uraian mengenai hubungan-hubungan kelembagaan dengan otoritas lain ini, khususnya di Indonesia, seperti hubungannya dengan Otoritas Pengawasan Lembaga Keuangan (OJK) dan Otoritas Fiskal (Kementerian Keuangan) masih belum banyak diuraikan pada buku ini. Pada sebuah manajemen negara yang saling berhubungan dan berketergantungan,  sangat perlu untuk memperjelas hubungan ini dalam rangka  membangun sinergi yang lebih kuat. Pemisahan tugas pengawasan bank dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan, perlu melahirkan paradigma (baru) bank sentral yang lebih fokus tetapi tetap memiliki peran sentral. Bank Sentral ke depan (harus) memungkinkan untuk memiliki banyak pilihan dan perspektif alternatif  yang membuat bank sentral eksis dan relevan sesuai zamannya.
Kita masih menunggu uraian lain yang lebih implementatif tetapi dengan uraian-uraian pada level praktek. Apa yang disampaikan Dr. Perry Warjiyo, Deputi Gubernur Bank Indonesia dan Dr. Solikin M. Juhro, Direktur Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia, dalam buku ini, telah membuka khasanah kita untuk memahami perjalanan sebuah bank sentral. Buku ini juga akan menambah khasanah pengetahuan dan akademik bangsa yang luar biasa.
Sebagaimana kata Prof. Boediono, begawan Ekonomi Indonesia yang pernah menjabat Wakil Presiden dan Gubernur Bank Indonesia, buku ini sangatlah lengkap, sebuah Survei komplit dasar-dasar teori dan empiris kebijakan moneter serta prinsip-prinsip dan praktik kebijakan bank sentral. Buku ini juga telah memaparkan secara lugas bagaimana integrasi teori ekonomi, bukti empiris, dan praktik kebijakan kebanksentralan berkembang menjadi suatu disiplin ilmu baru yang patut dipelajari kata Dr. Insukindro.


Post a Comment