Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Friday, 19 August 2011

150 Anak Polisi Jadi Taruna Akademi Kepolisian

toto zurianto


Saya tertarik sebuah berita di detik.com siang ini mengenai penerimaan calon Taruna Akademi Kepolisian tahun 2011. Dari 396 orang yang diterima, 150 diantaranya adalah anak-anak dari keluarga kepolisian.
 
Ini luar biasa, apalagi Kepolisian termasuk salah satu institusi yang paling berani mengumumkan dan menjalankan kebijakan anti KKN. Kalau kita kebetulan melewati Jalan Trunojoyo, di salah satu Gedungnya yang megah, kita bisa membaca tulisan besar yang meyebutkan ciri penghuninya yang berada  dalam kawasan "ANTI KKN".
 
Saya percaya, keberanian menuliskan rumah kita sebagai kawasan Anti KKN, bukanlah suatu keputusan mudah. Semuanya sudah dipertimbangkan konsekuensinya. Dan Polri agaknya perlu kita percaya, bahwa mereka benar-benar sedang menjalankan kebijakan anti KKN, termasuk tentunya dalam memutuskan untuk menerima calon Taruna Polisi yang 150 diantaranya adalah anak-anak polisi.
 
Hanya melalui cara-cara yang bersih, nantinya kita bisa menjamin suatu sistem dapat berjalan secara bersih. Ini adalah salah satu upaya untuk memberantas korupsi di negara kita. Polri termasuk sebagai salah satu pilar yang paling menentukan, apakah kita mampu memberantas korupsi atau tidak.
 
Semoga keyakinan Bapak Wakapolri Nanan Sukarna, adalah suatu pernyataan atau keputusan yang benar didasarkan pola penerimaan yang kredibel dan dengan integritas tinggi.
 
 
 
Senin, 15/08/2011 13:29 WIB 
150 Anak Polisi Jadi Calon Taruna Akpol 2011
E Mei Amelia R - detikNews
Jakarta - Sedikitnya 396 orang lulus dalam tahap akhir pencalonan taruna/taruni Akademi Kepolisian (Akpol) 2011. Sebanyak 150 dari 396 orang yang dinyatakan lulus adalah anak dari anggota Polri.

"Saya tidak hafal berapa jumlahnya, tapi ada sekitar 150 sekian anaknya polisi mulai dari pangkat bintara, pama (perwira pertama), pamen (perwira menengah) sampai pati (perwira tinggi)," kata Wakapolri, Komjen Nanan Sukarna, usai memimpin Sidang Penetapan Kelulusan Tahap Akhir Taruna-Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) 2011 di gedung Cendekia Akpol, Semarang, Jawa Tengah, Senin (15/8/2011). Nanan menegaskan, 150-an anak anggota Polri yang lulus ini murni karena kemampuannya. Meski dari ratusan orangtua calon adalah anggota Polri, tidak menjamin kelulusan mereka. Ada dua anak perwira tinggi Polri yang justru tidak lulus. "Dua anak pati Polri yang nggak lulus yaitu anak Kapolda Aceh (Irjen Iskandar Hasan) dan anaknya Kapolda Bangka Belitung (Brigjen M Rum Murkal). Itulah bukti kami konsekuen, kalau tidak memenuhi syarat, ya tidak memenuhi syarat. Kita ingin membuktikan ke masyarakat tidak anaknya perwira tinggi atau anak yang lain. Jadi walaupun anak polisi, harus memenuhi syarat," paparnya.

Di dalam Sidang Penetapan Kelulusan Tahap Akhir Taruna-Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) 2011 ini ditetapkan 396 orang lulus. Padahal, quota untuk tahun ini adalah 400 orang.
"Artinya ada kekurangan 4 orang, tapi tidak mungkin dipaksakan dari yang tidak memenuhi syarat, sayang sekali. Tapi itulah sistem," kata dia.
Nanan mengatakan, dalam penetapan kelulusan sidang ini dilangsungkan secara terbuka. Ia sekalipun, tidak dapat mengintervensi hasil kelulusan.
"Sekalipun saya, tidak bisa mengintervensi dan menginterupsi sistem yang ada. Itu makanya diharapkan persiapkan dirinya lebih awal," ujar dia.

Nanan melanjutkan, 396 calon taruna dan taruni ini lulus karena kemampuan mereka sendiri, bukan karena sogokan. Bila ditemukan masih ada panitia pendaftaran calon taruna Akpol yang meminta uang, ia mengimbau masyarakat untuk melaporkannya. "Kalau ada yang menemukan, 'pak msh ada yang bayar, pak masih ada yang kolusi, laporkan, kita akan tampung dalam komplain," ujarnya.

Sementara itu, Nanan juga menegaskan tidak ada sistem 'titipan' dalam penerimaan calon taruna Akpol 2011 ini. Ia mengatakan, bila anaknya ingin dititipkan untuk menjadi polisi harus dibina dulu kemampuannya. "Kalau mau, titipkan ke saya. Kalau ingin nitip, maka nitiplah ke saya sejak 3 tahun, 2 tahun atau minimal 1 tahun sebelumnya agar kita siapkan dia manjadi polisi untuk kita latih dari segi ESQ atau pramukanya. Itulah talent scouting, bukan kolusi," tukasnya. Sementara itu, jumlah polwan di Polri sangat sedikit, padahal quotanya 30 persen. Untuk mengakomodir kekurangan tersebut, Polri membuka pendaftaran calon taruna/taruni Akpol setiap tahunnya berencana menambah kuotanya.

"Tahun depan kita buka lagi catar dan catir, kita siapkan untuk diajukan ke pimpinan, kepada pemerintah, kita tambah kuota," ujarnya. Ia menambahkan, minat calon siswa Akpol setiap tahunnya rata-rata mencapai 17 ribu orang dari seluruh perwakilan Polda. Ia berharap, tahun depan pendaftar terus meningkat. "Kita harapkan meningkat tapi dr kualitasnya. Jangan yang nggak masuk ITB baru masuk Akpol, itu terpaksa namanya. Peminatnya harus banyak tapi yang berkualitas," tutupnya.