Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Sunday, 28 August 2011

Pemimpin Tanpa Integritas

toto zurianto


Gonjang ganjing kepemimpinan di berbagai lembaga dan partai politik akhir-akhir ini telah membuat kita menjadi semakin miris. Hampir putus asa, apakah bangsa kita sama sekali tidak memiliki cukup banyak pemimpin yang berkualitas sekaligus berintegritas?
Belumlah sampai kepada pemimpin yang humble atau rendah hati sebagaimana tipe kepemimpinan level kelima (level five leadership) yang dikemukakan Jim Collins dalam bukunya the Good to Great. Kita masih jauh untuk mencapai harapan seperti itu. Kita masih sekarat hampir putus asa untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas, atau memiliki kompetensi teknikal yang mumpuni (profesional pada bidangnya), dan sekaligus dengan intergitas yang tinggi, atau jujur dan dapat dipercaya atau kredibel.

Dua hal ini, kompetensi teknikal untuk menjalankan bidang tugasnya dan integritas yang tinggi, adalah karakter kuat yang selalu harus dipunyai oleh setiap pemimpin. Tidak saja pada suatu perusahaan atau lembaga, tetapi termasuk tentunya pemimpin nasional yang mengepalai Departemen atau Kementerian, para anggota DPR termasuk politisi partai politik, atau aparat penegak hukum seperti Polisi, Jaksa, dan Hakim.

Salah satu kelemahan utama yang membuat kita kelabakan untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas adalah akibat mekanisme rekutmen yang tidak pernah jelas, tidak terbuka dan cenderung bersifat nepotisme atau pertemanan. Kita selalu heran ketika semakin banyak pemimpin atau pejabat negara yang terlalu mudah terlibat korupsi. Perhatikan kasus Nazaruddin sang bendaharawan itu. Kita terheran-heran, meskipun semuanya perlu dibuktikan kebenarannya. Betapa anak muda yang benar-benar masih berusia muda itu, baru pada mid 30-an, sudah menjadi milyuner yang memiliki urang luar bisa banyaknya. Bagaimana ada seseorang yang belum terlalu lama menjalankan usaha tetapi terlalu mudah mendapatkan uang bermilyar-milyar?
Kenapa partai politik besar semacam Partai Demokrat yang dikenal masyarakat memiliki komitmen besar terhadap pemberantasan budaya KKN bisa mendudukkan Nazaruddin pada posisi yang sangat strategis?

Tidak melakukan rekrutmen secara baik
Salah satu penyebab mudahnya kita terkooptasi adalah karena kita meremehkan masalah rekrutmen dan persyaratannya. Memutuskan menerima seseorang sebagai anggota atau pengurus inti hanya karena dia memiliki harta, jelas suatu kekeliruan besar. Faktor integritas seharusnya menjadi pertimbangan utama. Tidak mudah untuk mendapatkan informasi luas mengenai aspek integritas ini. Kita hanya memerlukan sedikit waktu untuk melakukan penelitian dan cross check, maka semua informasi mengenai seseorang menjadi mudah untuk didapatkan.

Tetapi kalau kita tidak mempunyai niat atau keinginan, semuanya bisa menjadi berantakan. Kalau pemerintah atau pimpinan partai politik tidak pernah benar-benar ingin memberantas korupsi, maka apa yang menjadi nilai yang kita anggap penting, akan sangat mudah untuk dilanggar. Hal ini terlihat dari pelaksanaan seleksi anggota partai politik, pemimpinnya,  kepala daerah/pemerintahan, terutama pada saat pemilihan Gubernur, Bupati atau Walikota. Kita hanya terpaku pada unsur uang, apakah calon yang bersangkutan mampu menyediakan uang untuk “membantu” para pemilihnya (konstituen).
Istilah membantu ini mempunyai dimensi luas, mulai dari membantu menyediakan fasilitas jalan raya atau sekolah sebagai suatu kebutuhan penting di daerah, sampai kepada membantu memberikan dana (uang) untuk mengurangi “kemiskinan” penduduk.


Tidak mudah untuk menjaga integritas, tetapi ketika hal itu tidak kita indahkan, maka kasus-kasus ala Nazaruddin yang sekarang telah menjadi borok di Partai Demokrat, akan sangat sulit untuk diberantas. Tetapi bagaimanapun juga, era keterbukaan dan anti KKN adalah tuntutan yang tidak bisa ditawar lagi. Kegagalan kita untuk menjaga dan mempertahankannya, akan membuat kita menjadi semakin merana dan tentunya akan mengganggu upaya pencapaian tujuan negara menjadi lebih maju, adil dan makmur. Jawabannya, kini kita tidak bisa lagi untuk berkompromi atas nama integritas. Tidak perlu mati-matian membela sahabat atau saudara sendiri yang kerjanya ternyata penuh ketidak jujuran dan mengambil keuntungan dari belakang tanpa diketahui orang lain. Sedih ketika harus menerima fakta bahwa orang yang kita cintai, apakah sahabat ataupun suadara sendiri, ternyata telah menipu kita dan banyak orang.