Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Saturday, 21 February 2015

Lion Air delay parah; harus bagaimana?

toto zurianto

Minggu ini, tepatnya sejak Rabu (18 Februari 2015) sampai Jumat (20 Februari 2015), selama 3 hari, Lion Air, maskapai low carrier Indonesia paling besar, mengalami delay penerbangan luar biasa. Di Jakarta, Semarang, Jogja, dan Medan, serta kota-kota lain, ratusan dan ribuan penumpang tidak bisa berangkat. Tentu saja dengan berbagai alasan, mulai tidak ada penjelasan dari petugas Bandara, sampai pembayaran refund yang juga tidak jelas, juga pemberian makanan karena harus menunggu ber jam-jam di Bandara, semuanya menyebabkan penumpang pada ngamuk. Indonesia mengamuk, dan ini jelas merugikan banyak pihak. Apalagi, kita bisa menyaksikan bagaimana tindakan anarki tidak mampu ditahan oleh sebagian calon penumpang yang memaksa petugas counter check-in harus pergi dari komputernya.

Pada akhirnya, setelah ber-jam-jam, setelah beberapa hari, pihak manajemen memberikan penjelasan tentang penyebab kekisruhan ini. Beberapa pesawat, dengan berbagai penyebab, antara lain adanya kerusakan mesin akibat adanya burung yang memasuki mesin, membuat delay tidak bisa dihindari. Kalau beberapa pesawat yang harus parkir, maka delay berjamaah menjadi ber-multiplier effect. Ada efek bertubi-tubi yang dialami oleh rencana penerbangan Lion Air.

Mungkin Sabtu ini (21 Februari 2015), Lion Air akan bisa membuat keadaan menjadi normal. Tetapi besar sekali pembelajaran yang dialami manajemen dan pemilik. Agar Lion Air mampu menjadi yang terbesar di Indonesia, bahkan mengalahkan Garuda sebagai Indonesian flight carrier yang sahamnya terutama dimiliki oleh pemerintah, memang perusahaan ini mendesak untuk bisa dikelola secara profesional. Terlalu besar asset perusahaan ini. Pesawatnya (yang relatif berusia muda, seperti Boeing 737 series 900) sudah lebih 110, bahkan bisa menjadi 150 dalam beberapa tahun kedepan karena perusahaan ini juga memesan ratusan Airbus series A320.

Perusahaan penerbangan bisa besaer, bukan saja karena pesawatnya banyak dan mampu melayani ratusan tujuan perjalanan. Masa 10-20 tahun, adalah waktu penting untuk melakukan pembenahan di bidang manajemen, termasuk soal pelayanan darat, perawatan pesawat, SDM pendukung, atau sistem-sistem yang akan membuat perusahaan menjadi terbaik. Ini masa terbaik bagi Lion Air untuk melakukan pembenahan. Mungkin bukan hanya Lion Air, tetapi juga Garuda dan perusahaan penerbangan lain.
Indonesia yang semakin maju dan kini memerlukan pelayanan penerbangan yang terbaik, merupakan pasar penting yang harus diperhatikan dan dibenahi.