Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Wednesday, 15 June 2016

Pemimpin; Membangun Karakter, bukan Citra

toto zurianto

Jim Huling, salah satu penulis buku The 4 Disciplines of Execution (Franklin Covey, 2012) dalam bukunya, “Choose Your Life” membahas tentang Karakter seseorang dan hubungannya dengan mempertahankan sebuah Citra. Kebanyakan kita, suka mati-matian berusaha mempertahankan citra. Pokoknya, di depan mata, kita harus menjadi pribadi hebat. Pemimpin selalu ingin terlihat sempurna di mata orang yang dipimpinnya. Selalu ingin kelihatan sebagai pribadi kuat, paling pintar, paling punya ide, paling humble, paling care terhadap orang, juga dikenal sebagai orang yang paling menjunjung aspek integritas. Pemimpin sangat suka memperlihatkan pribadi yang jujur, dan terkesan visioner. 
Sebenarnya ini termasuk salah satu penyakit yang membuat kualitas kepemimpinan menjadi terlihat aneh. Seolah-olah tidak ada orang yang tahu. Kebanyakan pemimpin berpikir, bahwa segala sesuatunya harus dicapai. Semua orang suka yang berjuang untuk suatu kesempurnaan. Padahal tidak ada yang sempurna. Semua punya kekurangan. Being human, sebagai manusia, itulah salah satu sifat yang terkandung di dalam elemen manusia. Sifat ketidak sempurnaan. Tidak perlu merasa kurang, ketika kita tidak bisa hebat di semua hal.



Bahkan sering terlihat aneh ketika orang-orang lebih suka menutup-nutupi keanehan-keanehan yang ada pada dirinya. Tentu saja ditutup dengan sedikit kebohongan dan perilaku yang dibuat-buat. Kita akhirnya terus menerus kembali menutup-nutupi kebohongan kebohongan yang lain. Padahal seharusnya itu sesuatu yang harus kita terima. Apa yang tidak mungkin bisa kita capai, bis saja hal itu dilakukan oleh orang lain. Sebuah tim, perlu memaksimalkan potensi dari seluruh anggota tim. Orang yang paling tinggi pangkatnya, paling tinggi pendidikannya, bukan harus paling mengetahui. Kita harus mampu membangun seluruh potensi. Semua orang perlu digali peran yang bisa dijalankannya.
Jim Huling menutup essaynya dengan sebuah pepatah, “Esse quam videre”. Kita berjuang untuk “menjadi”, bukan “tampaknya”. Tidak perlu merasa hebat ketika anda sepertinya”tampaknya” hebat. Jadilah anda apa adanya, bukan hebat karena tampaknya citra anda menjadi baik.