toto zurianto
Presiden SBY tidak terlalu lalu untuk memutuskan siapa pengganti Dr. Sri Mulyani Indrawati (SMI), Menteri Keuangan yang mendapatkan tugas baru sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia mulai 1 Juni 2010. Kemaren malam Presiden memutuskan untuk menunjuk Agus Martowardojo (AM) yang kini menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri, sebagai Menteri Keuangan menggantikan SMI. Juga bersamaan dengan itu, ditetapkan pula Dr. Anny Ratnawati (AR) sebagai Wakil Menteri Keuangan yang beberapa bulan lalu disebutkan akan diisi oleh Dr. Anggito Abimanyu (AA).
Menurut Presiden, alasan penunjukkan kedua tokoh tersebut, yaitu AM dan AR, terutama karena pertimbangan Kapasitas dan Integritas yang baik, juga didukung oleh pengalaman dan pengetahuan, baik di dalam dan di luar negeri
Dibanding SMI, AM tentu saja berbeda karena lebih dikenal sebagai bankir yang lebih banyak melakukan pengambilan keputusan di area yang lebih bersifat mikro. Tetapi, AM punya kesamaan pula dengan SMI, terutama bagaimana sepak terjangnya melakukan reformasi organisasi yang begitu ketat selama menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri. Tidak diragukan, AM memiliki kepiawaian sebagai seorang pembawa perubahan (change leader) yang tangguh yang selalu mengedapankan aspek kompetensi dan kontribusi dibandingkan dengan senioritas dan pertemanan. Karena itu, gerakan Reformasi Birokrasi yang sedang dijalankan, rasanya tidak perlu kita khawatirkan nasibnya selanjutnya. Bahkan saya melakini, bahwa perbaikan organisasi di lingkungan Departemen Keuangan akan menjadi semakin baik dan lebih profesional. Tidak lagi hanya sekedar peningkatan remunerasi dan pemberantasan KKN.
Lalu, bagaimana cara AM melakukan tugasnya di bidang ekonomi makro? Inipun suatu pertanyaan yang tidak perlu kita khawatirkan. Sejak dahulu, cukup banyak para Menteri Keuangan yang bukan berasal dari Sektor Makro, lihat saja misalnya Mar'ie Muhammad. Beliaupun pernah sukses, meskipun jabatan sebelumnya tidak terlalu berhubungan dengan sektor makro. Apalagi AM akan lebih mudah mengandalkan Para profesional yang ada di seluruh Direktorat Jendral dengan dukungan Leadership-nya yang cukup mumpuni.
Semoga AM dan AR bisa memberikan sesuatu yang berbeda sebagaimana yang diharapkan masyarakat.
CHANGE and Leadership mengundang teman dan sahabat untuk sharing pengetahuan, informasi, atau hiburan dalam rangka memperluas wawasan dan persahabatan! CHANGE and Leadership tidak membatasi peminat pada suatu bidang keilmuan atau minat tertentu. CHANGE and Leadership adalah forum lintas pengetahuan, bisa digunakan untuk mengulas hal-hal yang berhubungan dengan praktek kepemimpinan, manajemen, SDM, sosial, ekonomi, dan politik, juga bagi penggemar sport, sastra, musik, kuliner, dan travel!
Showing posts with label Leadership and Politic. Show all posts
Showing posts with label Leadership and Politic. Show all posts
Thursday, 20 May 2010
Friday, 21 August 2009
Memimpin Bangsa!
toto zurianto
Hasil Pemilu Presiden 2009 sudah ditetapkan KPU, Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang akan dikukuhkan pada bulan Oktober nanti untuk masa kepemimpinan 2009-2014. Sebelum itu yang paling krusial adalah proses penetapan Para Menteri dan Pejabat Negara yang akan mendukung kepemimpinan SBY-Boediono.
Sejak dulu, tentu saja, seorang Presiden/Wakil Presiden selalu memilih calon terbaik dan profesional untuk menduduki posisi penting itu. Tetapi tidak jarang, tekanan politik mendominasi proses pemilihan yang bisa menomorduakan profesionalisme yang seharusnya menjadi pertimbangan utama. Saat ini, SBY-Boediono memiliki waktu yang sangat cukup untuk mencari siapa-siapa yang patut dan diperkirakan sesuai untuk mengisi jabatan-jabatan penting itu. Menurut Stephen MR Covey, salah satu persyaratan utama yang harus dimiliki oleh seseorang dalam rangka menciptakan kedibilitas yang tinggi adalah selalu menempatkan orang-orang yang memiliki Integritas yang tidak diragukan, orang-orang yang tidak mempunyai agenda terselubung (have good Intent), secara teknis terbukti profesional (highly Capable people), dan terbukti berdasarkan track record mampu melaksanakan pekerjaan secara baik (have Result).
Pemimpin itu, selalu, berawal dari “kepercayaan”. Kepemimpinan yang sukses, tidak pernah berasal dari “sekedar” keputusan formal karena seseorang ditetapkan menjadi Direktur misalnya! Sejauh mana seseorang mendapatkan kepercayaan dari stakeholders-nya, menjadi penting untuk dimiliki seorang Pemimpin.
Empat hal yang dipercaya bisa meningkatkan kredibilitas seorang Pemimpin, yaitu; Integritas-nya, “Intent”-nya, Kapabilitasnya, dan Record (hasil) dari kepemimpinannya.
Pegawai, atau bawahan, selalu tidak bisa melupakan atasannya yang mencoba keluar dari rel integritas! Karena itu, sangat sulit bagi setiap individu atau lembaga apa saja yang pernah menderita penyakit “kehilangan integritas”. Pelanggaran Integritas ini selalu dimulai dari hal-hal yang kecil, tidak terasa, misalnya, sekedar “memanfaatkan perjalanan dinas” untuk kepentingan individu. Kita jangan mencoba, untuk melanggar Integritas, because, the recovery will be very difficult! Pertanyaan tentang Integritas ini, paling tepat adalah, “Are You Congruent?” Apakah Anda “go Well together”?
Menurut Warren Buffet, ada 3 hal yang dipertimbangkan dalam memperkerjakan seseorang; pertama, bagaimana personal integrity-nya. Kedua, bagaimana Intelligence-nya, dan Ketiga, apakah dia memiliki semangat dan fisik (high energy level) yang cukup? Kalau kita tidak mendapatkan syarat yang pertama (Integritas), maka kedua persyaratan (kepintaran dan semangat kerja) lain, akan bisa membunuh kita.
Lalu, hal lain yang juga sangat penting adalah, keterusterangan akan tujuan. Pemimpin harus bisa dilihat tujuannya, tidak boleh mempunyai agenda tersembunya (hidden agenda). Kita harus membiasakan diri untuk berbicara apa adanya (talk straight). Intent, selalu berhubungan dengan motivasi, agenda, dan perilaku (behavior). Ketiga hal ini harus ecara jelas dan terbuka, dan bisa dilihat orang tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Dua pertimbangan lain yang secara jelas bisa diuji adalah pengetahuan/skills dan track record dalam pekerjaannya. Keduanya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Jangan sampai kita terlalu terpesona kepada pendidikannya atau skillnya saja. Banyak orang yang bisa mencapai pendidikan tinggi, tetapi belum punya bukti pernah memberikan kontribusi yang wajar.
Seleksi untuk mendapatkan pemimpin negara yang baik, memang tidak ringan. Integritas haruslah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Orang yang pernah korupsi atau menganggap ringan upaya sogok menyogok, atau karirnya lebih banyak disokong oleh hal-hal yang irasional dan tidak berintegritas, tidak bisa dipertimbangkan untuk masuk pada tim yang baik. Pemilihan pejabat negara adalah kerja keras, tetapi perlu dilakukan dengan cara yang profesional. Rakyat sudah bosan dengan pemimpin yang akhirnya hanya memunculkan kasus-kasus memalukan yang akan menghambat kemajuan perkembangan bangsa keseluruhan.
Hasil Pemilu Presiden 2009 sudah ditetapkan KPU, Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang akan dikukuhkan pada bulan Oktober nanti untuk masa kepemimpinan 2009-2014. Sebelum itu yang paling krusial adalah proses penetapan Para Menteri dan Pejabat Negara yang akan mendukung kepemimpinan SBY-Boediono.
Sejak dulu, tentu saja, seorang Presiden/Wakil Presiden selalu memilih calon terbaik dan profesional untuk menduduki posisi penting itu. Tetapi tidak jarang, tekanan politik mendominasi proses pemilihan yang bisa menomorduakan profesionalisme yang seharusnya menjadi pertimbangan utama. Saat ini, SBY-Boediono memiliki waktu yang sangat cukup untuk mencari siapa-siapa yang patut dan diperkirakan sesuai untuk mengisi jabatan-jabatan penting itu. Menurut Stephen MR Covey, salah satu persyaratan utama yang harus dimiliki oleh seseorang dalam rangka menciptakan kedibilitas yang tinggi adalah selalu menempatkan orang-orang yang memiliki Integritas yang tidak diragukan, orang-orang yang tidak mempunyai agenda terselubung (have good Intent), secara teknis terbukti profesional (highly Capable people), dan terbukti berdasarkan track record mampu melaksanakan pekerjaan secara baik (have Result).
Pemimpin itu, selalu, berawal dari “kepercayaan”. Kepemimpinan yang sukses, tidak pernah berasal dari “sekedar” keputusan formal karena seseorang ditetapkan menjadi Direktur misalnya! Sejauh mana seseorang mendapatkan kepercayaan dari stakeholders-nya, menjadi penting untuk dimiliki seorang Pemimpin.
Empat hal yang dipercaya bisa meningkatkan kredibilitas seorang Pemimpin, yaitu; Integritas-nya, “Intent”-nya, Kapabilitasnya, dan Record (hasil) dari kepemimpinannya.
Pegawai, atau bawahan, selalu tidak bisa melupakan atasannya yang mencoba keluar dari rel integritas! Karena itu, sangat sulit bagi setiap individu atau lembaga apa saja yang pernah menderita penyakit “kehilangan integritas”. Pelanggaran Integritas ini selalu dimulai dari hal-hal yang kecil, tidak terasa, misalnya, sekedar “memanfaatkan perjalanan dinas” untuk kepentingan individu. Kita jangan mencoba, untuk melanggar Integritas, because, the recovery will be very difficult! Pertanyaan tentang Integritas ini, paling tepat adalah, “Are You Congruent?” Apakah Anda “go Well together”?
Menurut Warren Buffet, ada 3 hal yang dipertimbangkan dalam memperkerjakan seseorang; pertama, bagaimana personal integrity-nya. Kedua, bagaimana Intelligence-nya, dan Ketiga, apakah dia memiliki semangat dan fisik (high energy level) yang cukup? Kalau kita tidak mendapatkan syarat yang pertama (Integritas), maka kedua persyaratan (kepintaran dan semangat kerja) lain, akan bisa membunuh kita.
Lalu, hal lain yang juga sangat penting adalah, keterusterangan akan tujuan. Pemimpin harus bisa dilihat tujuannya, tidak boleh mempunyai agenda tersembunya (hidden agenda). Kita harus membiasakan diri untuk berbicara apa adanya (talk straight). Intent, selalu berhubungan dengan motivasi, agenda, dan perilaku (behavior). Ketiga hal ini harus ecara jelas dan terbuka, dan bisa dilihat orang tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Dua pertimbangan lain yang secara jelas bisa diuji adalah pengetahuan/skills dan track record dalam pekerjaannya. Keduanya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Jangan sampai kita terlalu terpesona kepada pendidikannya atau skillnya saja. Banyak orang yang bisa mencapai pendidikan tinggi, tetapi belum punya bukti pernah memberikan kontribusi yang wajar.
Seleksi untuk mendapatkan pemimpin negara yang baik, memang tidak ringan. Integritas haruslah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Orang yang pernah korupsi atau menganggap ringan upaya sogok menyogok, atau karirnya lebih banyak disokong oleh hal-hal yang irasional dan tidak berintegritas, tidak bisa dipertimbangkan untuk masuk pada tim yang baik. Pemilihan pejabat negara adalah kerja keras, tetapi perlu dilakukan dengan cara yang profesional. Rakyat sudah bosan dengan pemimpin yang akhirnya hanya memunculkan kasus-kasus memalukan yang akan menghambat kemajuan perkembangan bangsa keseluruhan.
Friday, 19 June 2009
Debat Calon Presiden. Lumayanlah!
toto zurianto
Akhirnya tadi malam, aku sempat menyaksikan debat calon presiden RI yang disiarkan LIVE di beberapa televisi nasional. Meskipun belum menggigit dan cenderung "rata", tapi lumayanlah, suatu era baru mulai dihadirkan dalam sistem demokrasi Indonesia yang mencoba memulai pola-pola yang lebih baik. Beberapa isu yang dilontarkan moderator, Anies Rasyid Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, secara umum dapat dijawab oleh kontestan, tetapi sepertinya belum mengarah terhadap terminologi "debate" ala Amerika seperti yang ditampilkan Barrack Obama dan John McCain.
Awal debat, dimulai dengan menanyakan visi dan misi Calon Presiden apabila ybs terpilih sebagai Presiden nantinya, apa yang dilakukannya, terutama pada masalah-masalah untuk mewujudkan tata-kelola pemerintahan yang baik dan bersih (good governance), menegakkan supremasi hukum, dan mengenai hak azazi manusia. Para kandidate memiliki waktu 10 menit untuk pemaparan visi dan misi ini, tetapi sangat banyak yang terlalu membuang-buang waktu untuk menyampaikan ucapan terimakasih (salutation) dan menjelaskan persiapannya untuk menghadapi debat langsung ini, terutama dilakukan Capres Megawati. Sedangkan Capres SBY, meskipun mencoba menjelaskan visi dan misinya secara jelas, tetapi masih membuang banyak waktu menceritakan "keberhasilan" pemerintahnya saat ini pada isu yang ditanyakan moderator. JK mencoba direct to the question, salutation sekedarnya, dan langsung meng-addres pertanyaan dengan menyebutkan adanya 4 langkah yang akan dilakukannya (berupa visi dan misinya) dalam menjawab isu yang ditanyakan moderator.
Masih mengenai hukum, kandidat juga ditanyakan mengenai langkah dan upaya mereka dalam rangka mempercepat prosses pembahasan Undang-undang Tindak Pidana Korupsi yang sebenarnya harus selesai pada bulan September 2009 ini. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai isu ini, semuanya berusaha menyelesaikannya secepat-cepatnya dan menggunakan Undang-undang yang ada sekarang untuk mengatasi persoalan tindak pidana korupsi apabila ada, atau bila perlu bisa mengeluarkan Perpu seandainya hal tersebut menjadi prioritas utama.
Debat Capres yang semuanya akan dilakukan sebanyak 3 kali itu, juga membahas mengenai Anggaran Pertahanan Negara, masalah Lumpur Lapindo yang belum selesai, dan upaya memberantas Pungli (Pungutan Liar).
Mungkin karena baru pertama kali, tetapi Kompas (19-Jun-09) menyimpulkan bahwa debat kali ini umumnya belum disertai oleh perdebatan yang lebih konkret, antara lain memberikan judul berita sebagai "Debat Tanpa Perdebatan" dan para capres secara umum hanya menebarkan janji untuk rakyat saja (lihat head-line-nya). Penampilan moderator, Anies Rasyid Beswaden, lumayanlah, sedikit gugup di awal, tetapi mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Belum terlalu hangat mungkin akibat thema yang dimainkan malam tadi, tidak terlalu bisa melahirkan perbedaan yang tajam diantara para kandidat. Isu korupsi, HAM, rakyat kecil, atau pungli, biasanya kurang melahirkan strategi yang berbeda diantara para Capres. Bahkan kita hampir semua masyarakat Indonesia secara umum mempunyai kesamaan untuk melihat isu seperti itu. Perdebatan akan menjadi lain apabila isu yang ditampilkan mulai mengarah, misalnya pada kebijakan ekonomi yang akan dilakukan para Capres apabila terpilih.
Mudah-mudahan pada perdebatan yang lain, kita bisa melihat perbedaan visi dari para Capres yang membuat kita memiliki amunisi untuk menetapkan pilihan secara lebih baik. Oh yaaa, pembawa acara, Helmy Yahya, menurut saya kurang pas lah, kesannya seperti sedang membawakan quiz. Jangan-jangan kita tidak memerlukan "pembawa acara" untuk acara seperti ini karena sudah ada moderator. Apalagi, hal ini juga bisa membosankan dan terlihat menghabiskan waktu, karena terlalu banyak yang kurang bermanfaat disampaikan, sementara iklan yang muncul telah membuat kita malas dan kurang bersemangat untuk menunggu kata-kata yang akan diucapkan para Kandidat. Stasion Televisi seharusnya memperhatikan jenis acara, tidak semuanya harus dijual secara komersial seperti acara idol yang lain. Idol Pemimpin negara, bedalah!
Jangan lupa menyaksikan Debat Calon Wakil Presiden, mana tahu lebih menarik!
Akhirnya tadi malam, aku sempat menyaksikan debat calon presiden RI yang disiarkan LIVE di beberapa televisi nasional. Meskipun belum menggigit dan cenderung "rata", tapi lumayanlah, suatu era baru mulai dihadirkan dalam sistem demokrasi Indonesia yang mencoba memulai pola-pola yang lebih baik. Beberapa isu yang dilontarkan moderator, Anies Rasyid Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, secara umum dapat dijawab oleh kontestan, tetapi sepertinya belum mengarah terhadap terminologi "debate" ala Amerika seperti yang ditampilkan Barrack Obama dan John McCain.
Awal debat, dimulai dengan menanyakan visi dan misi Calon Presiden apabila ybs terpilih sebagai Presiden nantinya, apa yang dilakukannya, terutama pada masalah-masalah untuk mewujudkan tata-kelola pemerintahan yang baik dan bersih (good governance), menegakkan supremasi hukum, dan mengenai hak azazi manusia. Para kandidate memiliki waktu 10 menit untuk pemaparan visi dan misi ini, tetapi sangat banyak yang terlalu membuang-buang waktu untuk menyampaikan ucapan terimakasih (salutation) dan menjelaskan persiapannya untuk menghadapi debat langsung ini, terutama dilakukan Capres Megawati. Sedangkan Capres SBY, meskipun mencoba menjelaskan visi dan misinya secara jelas, tetapi masih membuang banyak waktu menceritakan "keberhasilan" pemerintahnya saat ini pada isu yang ditanyakan moderator. JK mencoba direct to the question, salutation sekedarnya, dan langsung meng-addres pertanyaan dengan menyebutkan adanya 4 langkah yang akan dilakukannya (berupa visi dan misinya) dalam menjawab isu yang ditanyakan moderator.
Masih mengenai hukum, kandidat juga ditanyakan mengenai langkah dan upaya mereka dalam rangka mempercepat prosses pembahasan Undang-undang Tindak Pidana Korupsi yang sebenarnya harus selesai pada bulan September 2009 ini. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai isu ini, semuanya berusaha menyelesaikannya secepat-cepatnya dan menggunakan Undang-undang yang ada sekarang untuk mengatasi persoalan tindak pidana korupsi apabila ada, atau bila perlu bisa mengeluarkan Perpu seandainya hal tersebut menjadi prioritas utama.
Debat Capres yang semuanya akan dilakukan sebanyak 3 kali itu, juga membahas mengenai Anggaran Pertahanan Negara, masalah Lumpur Lapindo yang belum selesai, dan upaya memberantas Pungli (Pungutan Liar).
Mungkin karena baru pertama kali, tetapi Kompas (19-Jun-09) menyimpulkan bahwa debat kali ini umumnya belum disertai oleh perdebatan yang lebih konkret, antara lain memberikan judul berita sebagai "Debat Tanpa Perdebatan" dan para capres secara umum hanya menebarkan janji untuk rakyat saja (lihat head-line-nya). Penampilan moderator, Anies Rasyid Beswaden, lumayanlah, sedikit gugup di awal, tetapi mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Belum terlalu hangat mungkin akibat thema yang dimainkan malam tadi, tidak terlalu bisa melahirkan perbedaan yang tajam diantara para kandidat. Isu korupsi, HAM, rakyat kecil, atau pungli, biasanya kurang melahirkan strategi yang berbeda diantara para Capres. Bahkan kita hampir semua masyarakat Indonesia secara umum mempunyai kesamaan untuk melihat isu seperti itu. Perdebatan akan menjadi lain apabila isu yang ditampilkan mulai mengarah, misalnya pada kebijakan ekonomi yang akan dilakukan para Capres apabila terpilih.
Mudah-mudahan pada perdebatan yang lain, kita bisa melihat perbedaan visi dari para Capres yang membuat kita memiliki amunisi untuk menetapkan pilihan secara lebih baik. Oh yaaa, pembawa acara, Helmy Yahya, menurut saya kurang pas lah, kesannya seperti sedang membawakan quiz. Jangan-jangan kita tidak memerlukan "pembawa acara" untuk acara seperti ini karena sudah ada moderator. Apalagi, hal ini juga bisa membosankan dan terlihat menghabiskan waktu, karena terlalu banyak yang kurang bermanfaat disampaikan, sementara iklan yang muncul telah membuat kita malas dan kurang bersemangat untuk menunggu kata-kata yang akan diucapkan para Kandidat. Stasion Televisi seharusnya memperhatikan jenis acara, tidak semuanya harus dijual secara komersial seperti acara idol yang lain. Idol Pemimpin negara, bedalah!
Jangan lupa menyaksikan Debat Calon Wakil Presiden, mana tahu lebih menarik!
Friday, 22 May 2009
Menikmati Janji Calon Presiden
toto zurianto
Salah satu kegiatan menarik yang pantas dinikmati akhir-akhir ini adalah mendengarkan dialog antara Calon Presiden/Calon Wakil Presiden dengan berbagai kalangan. Dialog yang sempat saya saksikan di TV adalah antara M Jusuf Kalla, calon Presiden dari Partai Golongan Karya dan Partai Hanura di depan pengurus Kadin beberapa waktu yang lalu.
Saya belum menyaksikan dialog dengan kandidat Presiden/Wakil Presiden yang lain, tetapi gaya dan materi yang disampaikan Jusuf Kalla, sangat menarik, menjanjikan, sedikit menyindir tetapi tidak terlalu fulgar (masih cukup sopan). Banyak pengamat atau pengurus partai lain yang tidak begitu suka dengan gaya Kalla yang cukup blak-blak-an itu. Tetapi, dalam konteks program perubahan (manajemen), ungkapannya cukup berkelas, tidak kalah dengan apa yang disampaikan oleh (calon) Presiden Barrack Obama pada waktu kampanye. Bahkan untuk hal-hal yang teknis sekalipun, ungkapannya bisa disetarakan dengan kata-kata Jack Welch, dedengkot General Electric yang sangat superb itu!
Saya rasa sudah saatnya para Calon Presiden/Wapres melahirkan gaya kampanye yang penuh gagasan yang dapat membawa negara Indonesia menjadi negara besar di dunia, dengan menggapai prestasi nyata di bidang ekonomi dan demokrasi. Kita menunggu kampanye dari Kandidat lain yang mampu melahirkan gagasan yang orisinil, tetapi masuk akal untuk diwujudkan. Pemilihan Calon Presiden/Wakil Presiden 2009, bukan sekedar memilih presiden sebagai simbol kekuasaaan, tetapi harus terlihat, akan mampu mewujudkan gagasannya sebagai realita. Semoga tontonan menarik proses pencarian suara, menjadi semakin dapat dinikmati. Kita menunggu gagasan SBY-Boediono dan Mega-Prabowo, disamping JK-Wiranto!
Salah satu kegiatan menarik yang pantas dinikmati akhir-akhir ini adalah mendengarkan dialog antara Calon Presiden/Calon Wakil Presiden dengan berbagai kalangan. Dialog yang sempat saya saksikan di TV adalah antara M Jusuf Kalla, calon Presiden dari Partai Golongan Karya dan Partai Hanura di depan pengurus Kadin beberapa waktu yang lalu.
Saya belum menyaksikan dialog dengan kandidat Presiden/Wakil Presiden yang lain, tetapi gaya dan materi yang disampaikan Jusuf Kalla, sangat menarik, menjanjikan, sedikit menyindir tetapi tidak terlalu fulgar (masih cukup sopan). Banyak pengamat atau pengurus partai lain yang tidak begitu suka dengan gaya Kalla yang cukup blak-blak-an itu. Tetapi, dalam konteks program perubahan (manajemen), ungkapannya cukup berkelas, tidak kalah dengan apa yang disampaikan oleh (calon) Presiden Barrack Obama pada waktu kampanye. Bahkan untuk hal-hal yang teknis sekalipun, ungkapannya bisa disetarakan dengan kata-kata Jack Welch, dedengkot General Electric yang sangat superb itu!
Saya rasa sudah saatnya para Calon Presiden/Wapres melahirkan gaya kampanye yang penuh gagasan yang dapat membawa negara Indonesia menjadi negara besar di dunia, dengan menggapai prestasi nyata di bidang ekonomi dan demokrasi. Kita menunggu kampanye dari Kandidat lain yang mampu melahirkan gagasan yang orisinil, tetapi masuk akal untuk diwujudkan. Pemilihan Calon Presiden/Wakil Presiden 2009, bukan sekedar memilih presiden sebagai simbol kekuasaaan, tetapi harus terlihat, akan mampu mewujudkan gagasannya sebagai realita. Semoga tontonan menarik proses pencarian suara, menjadi semakin dapat dinikmati. Kita menunggu gagasan SBY-Boediono dan Mega-Prabowo, disamping JK-Wiranto!
Subscribe to:
Posts (Atom)