Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Friday, 19 June 2009

Debat Calon Presiden. Lumayanlah!

toto zurianto

Akhirnya tadi malam, aku sempat menyaksikan debat calon presiden RI yang disiarkan LIVE di beberapa televisi nasional. Meskipun belum menggigit dan cenderung "rata", tapi lumayanlah, suatu era baru mulai dihadirkan dalam sistem demokrasi Indonesia yang mencoba memulai pola-pola yang lebih baik. Beberapa isu yang dilontarkan moderator, Anies Rasyid Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, secara umum dapat dijawab oleh kontestan, tetapi sepertinya belum mengarah terhadap terminologi "debate" ala Amerika seperti yang ditampilkan Barrack Obama dan John McCain.

Awal debat, dimulai dengan menanyakan visi dan misi Calon Presiden apabila ybs terpilih sebagai Presiden nantinya, apa yang dilakukannya, terutama pada masalah-masalah untuk mewujudkan tata-kelola pemerintahan yang baik dan bersih (good governance), menegakkan supremasi hukum, dan mengenai hak azazi manusia. Para kandidate memiliki waktu 10 menit untuk pemaparan visi dan misi ini, tetapi sangat banyak yang terlalu membuang-buang waktu untuk menyampaikan ucapan terimakasih (salutation) dan menjelaskan persiapannya untuk menghadapi debat langsung ini, terutama dilakukan Capres Megawati. Sedangkan Capres SBY, meskipun mencoba menjelaskan visi dan misinya secara jelas, tetapi masih membuang banyak waktu menceritakan "keberhasilan" pemerintahnya saat ini pada isu yang ditanyakan moderator. JK mencoba direct to the question, salutation sekedarnya, dan langsung meng-addres pertanyaan dengan menyebutkan adanya 4 langkah yang akan dilakukannya (berupa visi dan misinya) dalam menjawab isu yang ditanyakan moderator.

Masih mengenai hukum, kandidat juga ditanyakan mengenai langkah dan upaya mereka dalam rangka mempercepat prosses pembahasan Undang-undang Tindak Pidana Korupsi yang sebenarnya harus selesai pada bulan September 2009 ini. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai isu ini, semuanya berusaha menyelesaikannya secepat-cepatnya dan menggunakan Undang-undang yang ada sekarang untuk mengatasi persoalan tindak pidana korupsi apabila ada, atau bila perlu bisa mengeluarkan Perpu seandainya hal tersebut menjadi prioritas utama.

Debat Capres yang semuanya akan dilakukan sebanyak 3 kali itu, juga membahas mengenai Anggaran Pertahanan Negara, masalah Lumpur Lapindo yang belum selesai, dan upaya memberantas Pungli (Pungutan Liar).

Mungkin karena baru pertama kali, tetapi Kompas (19-Jun-09) menyimpulkan bahwa debat kali ini umumnya belum disertai oleh perdebatan yang lebih konkret, antara lain memberikan judul berita sebagai "Debat Tanpa Perdebatan" dan para capres secara umum hanya menebarkan janji untuk rakyat saja (lihat head-line-nya). Penampilan moderator, Anies Rasyid Beswaden, lumayanlah, sedikit gugup di awal, tetapi mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Belum terlalu hangat mungkin akibat thema yang dimainkan malam tadi, tidak terlalu bisa melahirkan perbedaan yang tajam diantara para kandidat. Isu korupsi, HAM, rakyat kecil, atau pungli, biasanya kurang melahirkan strategi yang berbeda diantara para Capres. Bahkan kita hampir semua masyarakat Indonesia secara umum mempunyai kesamaan untuk melihat isu seperti itu. Perdebatan akan menjadi lain apabila isu yang ditampilkan mulai mengarah, misalnya pada kebijakan ekonomi yang akan dilakukan para Capres apabila terpilih.

Mudah-mudahan pada perdebatan yang lain, kita bisa melihat perbedaan visi dari para Capres yang membuat kita memiliki amunisi untuk menetapkan pilihan secara lebih baik. Oh yaaa, pembawa acara, Helmy Yahya, menurut saya kurang pas lah, kesannya seperti sedang membawakan quiz. Jangan-jangan kita tidak memerlukan "pembawa acara" untuk acara seperti ini karena sudah ada moderator. Apalagi, hal ini juga bisa membosankan dan terlihat menghabiskan waktu, karena terlalu banyak yang kurang bermanfaat disampaikan, sementara iklan yang muncul telah membuat kita malas dan kurang bersemangat untuk menunggu kata-kata yang akan diucapkan para Kandidat. Stasion Televisi seharusnya memperhatikan jenis acara, tidak semuanya harus dijual secara komersial seperti acara idol yang lain. Idol Pemimpin negara, bedalah!


Jangan lupa menyaksikan Debat Calon Wakil Presiden, mana tahu lebih menarik!
Post a Comment