Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Tuesday, 30 June 2009

Bekerja Fleksibel

toto zurianto

Banyak upaya yang telah dilakukan oleh para CEO dalam rangka meningkatkan kualitas pegawai. Disamping pola rekrutmen yang lebih mengarah kepada competency-based recruiting, juga menggunakan pendekatan pengelolaan SDM yang lebih banyak memperhatikan kepentingan para pegawai. Tidak heran, dalam 10 tahun terakhir, tuntutan pegawai untuk secara bersama-sama bisa menikmati kehidupannya sambil tetap fokus kepada pekerjaan, telah menjadi trend yang berkembang luar biasa. Tuntutan agar perusahaan menerapkan kebijakan Work-Life Balance (WLB) menggema dan agaknya tidak mungkin bisa dicegah oleh manajemen perusahaan. Pegawai bukan meminta keringanan atau harus bekerja kurang dari yang diinginkan. Pegawai meminta perusahaan untuk lebih fleksibel terhadap waktu kerja, sekaligus tidak menjalankan kebijakan kerja seperti rodi. Tetapi tetap, pegawai menjalankan pekerjaannya sebagaimana yang diperjanjikan.

Banyak sekali variasi Work Life Balance yang dijalankan akhir-akhir ini. Bahkan kebijakan waktu kerja yang fleksibel saja, tidak hanya menyangkut fleksibelitas waktu masuk dan keluar kerja. Tetapi bisa saja, bekerja pada waktu-waktu yang berbeda, tetapi dengan jumlah waktu yang sama. Beberapa bentuk fleksibilitas yang lain misalnya, model reward (sistem gaji) yang fleksibel, pola pensiun yang dapat dipilih, atau bentuk karir yang sangat tergantung kepada keinginan pegawai.

Kini semuanya menjadi pilihan kita, pilihan para Pimpinan Perusahaan, apakah menerapkan sistem SDM yang kaku dengan hanya mempunyai satu pilihan, atau mulai memberikan fleksibilitas kepada pegawai. Penting untuk diperhatikan, kebijakan fleksibilitas bukan dimaksudkan hanya untuk menyenangkan pegawai, tetapi bisa memberikan keuntungan (benefit) kepada organisasi. Banyak perusahaan yang kurang mampu mendapatkan pegawai yang berkualitas, karena pola pengelolaan SDM-nya yang kurang fleksibel. Bahkan, pegawai Top Performance yang ada, kadang-kadang menjadi disenggagement karena perusahaan tidak bisa memberikan fleksibilitas yang menjadi keperluan masing-masing individu. Fleksibilitas diperkirakan lebih menarik, karena bagi karyawan yang tidak memerlukannya, tetap bisa bekerja sesuai dengan keinginannya sendiri.