Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Friday, 21 August 2009

Memimpin Bangsa!

toto zurianto

Hasil Pemilu Presiden 2009 sudah ditetapkan KPU, Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang akan dikukuhkan pada bulan Oktober nanti untuk masa kepemimpinan 2009-2014. Sebelum itu yang paling krusial adalah proses penetapan Para Menteri dan Pejabat Negara yang akan mendukung kepemimpinan SBY-Boediono.

Sejak dulu, tentu saja, seorang Presiden/Wakil Presiden selalu memilih calon terbaik dan profesional untuk menduduki posisi penting itu. Tetapi tidak jarang, tekanan politik mendominasi proses pemilihan yang bisa menomorduakan profesionalisme yang seharusnya menjadi pertimbangan utama. Saat ini, SBY-Boediono memiliki waktu yang sangat cukup untuk mencari siapa-siapa yang patut dan diperkirakan sesuai untuk mengisi jabatan-jabatan penting itu. Menurut Stephen MR Covey, salah satu persyaratan utama yang harus dimiliki oleh seseorang dalam rangka menciptakan kedibilitas yang tinggi adalah selalu menempatkan orang-orang yang memiliki Integritas yang tidak diragukan, orang-orang yang tidak mempunyai agenda terselubung (have good Intent), secara teknis terbukti profesional (highly Capable people), dan terbukti berdasarkan track record mampu melaksanakan pekerjaan secara baik (have Result).

Pemimpin itu, selalu, berawal dari “kepercayaan”. Kepemimpinan yang sukses, tidak pernah berasal dari “sekedar” keputusan formal karena seseorang ditetapkan menjadi Direktur misalnya! Sejauh mana seseorang mendapatkan kepercayaan dari stakeholders-nya, menjadi penting untuk dimiliki seorang Pemimpin.
Empat hal yang dipercaya bisa meningkatkan kredibilitas seorang Pemimpin, yaitu; Integritas-nya, “Intent”-nya, Kapabilitasnya, dan Record (hasil) dari kepemimpinannya.

Pegawai, atau bawahan, selalu tidak bisa melupakan atasannya yang mencoba keluar dari rel integritas! Karena itu, sangat sulit bagi setiap individu atau lembaga apa saja yang pernah menderita penyakit “kehilangan integritas”. Pelanggaran Integritas ini selalu dimulai dari hal-hal yang kecil, tidak terasa, misalnya, sekedar “memanfaatkan perjalanan dinas” untuk kepentingan individu. Kita jangan mencoba, untuk melanggar Integritas, because, the recovery will be very difficult! Pertanyaan tentang Integritas ini, paling tepat adalah, “Are You Congruent?” Apakah Anda “go Well together”?

Menurut Warren Buffet, ada 3 hal yang dipertimbangkan dalam memperkerjakan seseorang; pertama, bagaimana personal integrity-nya. Kedua, bagaimana Intelligence-nya, dan Ketiga, apakah dia memiliki semangat dan fisik (high energy level) yang cukup? Kalau kita tidak mendapatkan syarat yang pertama (Integritas), maka kedua persyaratan (kepintaran dan semangat kerja) lain, akan bisa membunuh kita.
Lalu, hal lain yang juga sangat penting adalah, keterusterangan akan tujuan. Pemimpin harus bisa dilihat tujuannya, tidak boleh mempunyai agenda tersembunya (hidden agenda). Kita harus membiasakan diri untuk berbicara apa adanya (talk straight). Intent, selalu berhubungan dengan motivasi, agenda, dan perilaku (behavior). Ketiga hal ini harus ecara jelas dan terbuka, dan bisa dilihat orang tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Dua pertimbangan lain yang secara jelas bisa diuji adalah pengetahuan/skills dan track record dalam pekerjaannya. Keduanya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Jangan sampai kita terlalu terpesona kepada pendidikannya atau skillnya saja. Banyak orang yang bisa mencapai pendidikan tinggi, tetapi belum punya bukti pernah memberikan kontribusi yang wajar.

Seleksi untuk mendapatkan pemimpin negara yang baik, memang tidak ringan. Integritas haruslah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Orang yang pernah korupsi atau menganggap ringan upaya sogok menyogok, atau karirnya lebih banyak disokong oleh hal-hal yang irasional dan tidak berintegritas, tidak bisa dipertimbangkan untuk masuk pada tim yang baik. Pemilihan pejabat negara adalah kerja keras, tetapi perlu dilakukan dengan cara yang profesional. Rakyat sudah bosan dengan pemimpin yang akhirnya hanya memunculkan kasus-kasus memalukan yang akan menghambat kemajuan perkembangan bangsa keseluruhan.