Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Friday, 14 August 2009

Kepemimpinan Pada Semua Jenjang

toto zurianto

Secara umum, ketika kita berbicara tentang kepemimpinan (leadership), maka hal yang kita maksudkan dengan istilah itu, adalah para pemimpin puncak (top management), setidaknya level manajer menengah (middle manager) ke atas. Pemimpin yang kita maksudkan adalah orang-orang yang secara umum dituntut untuk mampu memberikan pemikiran terbaiknya ke perusahaan, bisa mengarahkan bawahannya untuk melakukan sesuatu yang dicita-citakan (vision), bisa mengembangkan anak buahnya (developing talent), serta mampu dan berani secara efektif mempercepat proses pengambilan keputusan.

Kitakapun sudah terbiasa berkutat membahas definisi pemimpin (leader), kepemimpinan (leadership), dan membandingkan mana yang Leaders, dan mana yang hanya Managers. Tapi hal yang menarik adalah pemikiran Jim Collins (Good to Great, 2002) yang mengulas tentang Kepemimpinan. Jim Collins tidak terlalu antusias membuat perbedaan antara pemimpin dengan manajer sementara banyak diantara kita terus membandingkannya dan membuat perbedaan tajam diantara keduanya. Sebagian kita biasa mengatakan bahwa pejabat yang ada di lingkungan kita umumnya baru sampai pada level manajer saja (do the things right), sedangkan leader (do the right things) sebagaimana yang kita harapkan masih merupakan tanda tanya besar. Jim merasa tidak berkepentingan membuat batasan atau perbedaan antara seorang manajer dengan seorang leader mengingat pada dasarnya setiap orang atau terlebih lagi yang memiliki predikat seorang manajer, umumnya telah mempunyai sifat-sifat untuk mengelola, menganalisis dan sampai kepada bagaimana mengambil suatu keputusan. Hanya tingkatannya sering berbeda, ada yang mencapai tahap maksimal, ada pula yang mencapai tahapan medium atau bahkan tahap dasar. Karena itu, dia membagi level kepemimpinan atas 5 tingkatan.

Satu. Tingkatan paling dasar (Level 1) dari keberadaan dan keterlibatan seorang dalam suatu organisasi, menekankan kepada kemampuan individu yang diukur atas kontribusinya yang produktif bagi suatu organisasi (highly capable individual). Perilaku umum yang secara kasat dapat dilihat untuk menunjang pencapaian kepemimpinan level ini adalah talenta yang bersangkutan, pengetahuan dan keterampilan serta kebiasaannya dalam melaksanakan pekerjaan.

Dua. Pada Level 2, seorang pemimpin dipertanyakan peran atau kontribusinya untuk mencapai tujuan suatu unit kerja (business unit) tertentu.

Tiga. Pada Level 3, adalah ketika seseorang diberi kepercayaan untuk mengelola sejumlah orang dan resources lain secara efektif dan efisien untuk mewujudkan sasaran yang sudah ditetapkan terlebih dahulu. Ada tanggung jawab yang luas tetapi terbatas pada hal-hal yang sudah disepakati atau ditetapkan terlebih dahulu.

Empat. Kepemimpinan Level 4 adalah pemimpin yang dipersiapkan untuk mengemban tugas organisasi yang lebih strategis. Kepemimpinan pada Level 4 memerlukan visi yang mampu memberikan stimulasi bagi banyak orang berupaya untuk mencapai kinerja yang lebih tinggi. Pelaksanaan pekerjaan tidak cukup sekedar melaksanakan “business as usual”. Pemimpin pada Level 4 setiap saat perlu memikirkan dan mempertanyakan keberadaan organisasinya dalam rangka mencapai tujuan organisasi secara keseluruhan. Namun hal ini tidak dimaksudkan agar setiap pemimpin setiap saat perlu melakukan perobahan-perobahan sementara misi dan lingkungan organisasi tidak mengalami perobahan yang substansial.

Lima. Level 5 Leadership. Apa yang kita maksudkan sebagai kepemimpinan tingkat lima? Tidak lain adalah pemimpin yang selalu berupaya membangun legacy atau greatness untuk mencapai tahap organisasi secara maksimal. Builds enduring greatness through a paradoxical blend of personal humility and professional will. Kepemimpinan tingkat lima bukan merupakan cita-cita dari pimpinan perusahaan besar yang masuk dalam perusahaan karegori good to great, tetapi ia lahir akibat beberapa ciri yang membuat keberhasilannya diakui. Kepemimpinan tingkat lima, membuktikan pola kepemimpinan yang dijalankannya selama beberapa decade, mampu melahirkan prestasi yang besar dan sustain. Tetapi dia tetap tidak termasuk pemimpin kategori selebritis. Dialah yang dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati (humility, humble) dan sangat kompeten (professional).

Pemimpin, menurut Collin, kira-kira artinya, sebagai suatu proses interaksi yang formal seseorang dengan orang lain dalam suatu perusahaan. Ketika dia di bawah, maka ia berkewajiban untuk selalu meningkatkan kompetensi perannya sehingga bisa bermanfaat bagi atasannya. Dia dituntut menjadi a Highly Capable Individual. Pada level yang paling tinggi, dia adalah pribadi yang sangat humanis, membuat orang mampu mengeluarkan potensinya untuk turut berperan pada organisasi, tetapi dia tetap ketat untuk selalu berada di depan dalam mewujudkan target, menjawab harapan stakeholders secara sempurna. Semua jenjang-jenjang pada level organisasi memerlukan prioritas kepemimpinan yang berbeda!
Post a Comment