Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Sunday, 2 August 2009

HR Transformation

toto zurianto

Apabila kita mengikuti pemikiran Dave Ulrich, terutama sejak Human Resource Champion (1997) dan HR Value Proposition (2006), dan Leadership Code and Leadership Brand (2008), maka secara umum, kita selalu diarahkan untuk memberikan mindset baru mengenai pengelolaan SDM yang lebih bermanfaat dalam suatu perusahaan. Cara kita berpikir dan menempatkan Profesional SDM, merupakan bagian penting yang sedari awal harus kita benari pandangannya. Jangan pernah berpikir, bahwa, apa yang kita lakukan tentang HR semata-mata adalah untuk kebaikan perusahaan, sebelum the end in mind-nya benar-benar sudah kita arahkan untuk mewujudkan harapan itu.

Karena itu, Ulrich sangat mensyaratkan, perbaiki terlebih dahulu mengenai cara kita menempatkan HR Profesional dan perilaku HR professional yang tepat untuk mendukung harapan stakeholdersnya. 4 Peran HR Professional, baik HR Department-nya maupun HR People-nya, yaitu melakukan peran Strategic Partner, atau sebagai Change Agent, atau sebagai Employee Champion, bahkan sebagai Administrative Expert harus kita tempatkan sebagai starting awal untuk lebih meningkatkan peran HR dalam perusahaan.

Penyempurnaan atas peran HR ini menyebabkan kita selalu harus mencari alasn-alasan rasional mengenai kegiatan-kegiatan HR yang kita lakukan sekarang. Sering sekali apa yang dilakukan para Profesional HR hanya mengikuti apa-apa yang sudah dilakukan pada waktu yang lalu. Tidak jelas nilai tambah yang akan diberikan, tidak jelas siapa sebenarnya yang sedang mengambil manfaat dari aktivitas HR yang kita lakukan, karena hal itu sudah dilakukan sebelumnya dimasa lalu, banyak sekali diantara kita yang kerjanya melanjutkan, dan melanjutkan sesuatu yang belum tentu benar dan bermanfaat. Bahkan banyak sekali yang dilakukan dengan keliru, tidak efisien. Deliverable peran-peran HR harus kita pertajam, hanya atas sesuatu yang memiliki nilailah yang perlu dipertahankan dan disempurnakan terus menerus.

Kini, masanya untuk melakukan transformasi atas kebijakan HR secara lebih tajam lagi, yaitu bagaimana memberikan nilai yang lebih tinggi kepada para stakeholders. Ini yang menjadi target Human Resource Transformation (HRT) Dave Ulrich dan kawan-kawan yang intinya mengajak para profesional HR untuk tidak sekedar melakukan sesuatu tetapi dengan alasan yang tidak jelas. Jawablah terlebih dahulu, kenapa kita harus melakukan transformasi kebijakan kita? Apakah hal itu sudah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai perusahaan? Tetapkan target secara jelas, jangan sekedar ingin menjadi lebih baik dari waktu sebelumnya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kebijakan HR kita adalah dalam rangka menghasilkan pegawai yang berkualitas tinggi. Kita perlu lebih detail menjawab, apa yang kita inginkan dengan kualitas SDM yang tinggi itu? Inilah target atau outcome yang perlu kita rumuskan dan tetapkan.

Ketika kita sudah mempunyai alasan untuk melakukan perbaikan-perbaikan, dan kita sudah mempunyai outcome yang terukur dan relevant, selanjutnya susunlah langkah-langkah yang akan kita jalankan. Bagaimana strategi (strategy around department) yang kita pilih, bagaimana melakukannya (practices), dan SDM yang kita perlukan (people), ini harus menjadi fokus perubahan yang akan kita lakukan. Lalu yang paling penting dan selalu berulang-ulang disebut oleh Ulrich adalah Sharing Responsibility, yaitu bagaimana Transformasi HR ini bisa dirasakan, dilakukan, dan dinikmati oleh banyak pihak yang ada di dalanm perusahaan. Semua orang harus tahu untuk melakukan sesuatu sesuai peran masing-masing. Hanya dengan melibatkan dan merasa terlibat dalam suatu kegiatan, seseorang akan merasa memiliki dan memberikan support yang maksimal yang membuat pekerjaan menjadi lebih ringan. Last but not least, Laskar Utama yang harus disiapkan terlebih dahulu adalah, memiliki Profesional HR yang tidak saja kompeten pada bidangnya, tetapi harus mempunyai passionate yang tinggi untuk menghasilkan organisasi yang lebih baik.