Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Sunday, 16 August 2009

Kemana Setelah 17 Agustus?

toto zurianto

Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke 64 tahun ini, dirayakan sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Untuk tingkat RT atau Kampung, biasanya ada acara perlombaan, baik untuk orang tua, maupun anak-anak. Ada juga pertunjukan kesenian, akhir-akhir ini tidak lagi hanya dari masyarakat kampung sendiri, tetapi banyak yang mengundang organ tunggal + penyanyi-nya. Di kantor-kantor sama saja, ada pertandingan olah raga, ada pentas dan festifal seni antar karyawan, tentu saja ada juga upacara, bahkan sering dilakukan mirip-mirip dengan perayaan Nasional di Istana Negara dengan penampilkan pasukan pengibar bendera (Paskibra) yang terdiri dari 45 orang. Luar biasa! Para pimpinanpun berlatih menjadi Inspektur Upacara seperti Presiden atau Panglima Militer saja.

Peringatan Proklamai 17 Agustus di tingkat nasional, adalah pengulangan dan rutinitas saja, kurang tahu, apakah ada sesuatu yang bisa berganti sehingga menjadi lebih berguna. Apa tujuan semua kegiatan yang dilakukan, mulai dari Pemberian Penghargaan Satya Lencana, Gelar Pahlawan Nasional, Para Teladan Nasional, Renungan Suci di Makam Pahlawan Nasional, Pidato Kenegaraan Presiden di MPR/DPR, dan Pelaksanaan Detik-detik Proklamasinya sendiri.

Kita, sering menjadi bosan menyaksikan liputan peringatan proklamasi di Televisi. Tidak ada perbedaan, meskipun semua studio televisi berusaha mencari sudut liputan yang berbeda. Pokoknya, kadang-kadang kita merasa basi. Karena, paling-paling suasananya menjadi rutinitas lagi. Kita memerlukan suasana yang berubah. Kita menginginkan, gerakan kemajuan bangsa, tidak bergerak seperti yang kita saksikan sekarang yang cenderung lambat seperti siput. Bangsa ini, penuh potensi, tetapi perilaku kita mewujudkannya cenderung terasa lama, terlalu banyak toleransi untuk kegagalan dan kekeliruan. Ini sungguh membuat kita seperti berjalan di tempat. Kita memerlukan energi baru yang membuat kita bisa menjadi bangga dengan pertambahan usia. Bukan sekedar berusaha untuk menghargai para "pahlawan bangsa" yang "telah berjuang" menuju kemerdekaan. Perjuangan masa kini, menuntut suatu prestasi nyata yang membuat kita bisa mandiri dan diakui bangsa-bangsa dunia lain. Inilah harapan kita pada peringatan ulang tahun proklamasi, bukan sekedar senang-senang tidak jelas manfaatnya.