Wednesday, 8 March 2023

BUMI ALMIRA DI CIKALONG WETAN

toto zurianto

Sudah lama aku enggak jumpa Abang, meskipun tinggalnya hanya di bandung, tapi kami cukup jarang berjumpa, bisa setahun sekali baru jumpa.
Akhirnya beberapa waktu yang lalu, pas hari Minggu, aku mengunjungi Mas Jonny, abangku. Sudah lama Mas Jon bermukim di Bandung, sejak tamat SMA dan melanjutkan sekolah di ITB tahun 1978, Mas Jon sudah menjadi orang Bandung. Sebenarnya, dalam pekerjaannya, Mas Jon sudah bebrapa kali mutasi di beberapa tempat, termasuk ke Makassar, juga ke Padang dan bahkan pernah di Jakarta. Tapi Mas Jon dan keluarganya, tidak pernah benar-benar pindah dan meninggalkan Bandung.
Setahuku, awalnya Mas Jon waktu masih kuliah, mula-mula di rumah kenalan di Jalan Terusan Suryani, pusat kota Bandung. Kemudian pernah tinggal/kos di beberapa tempat di seputar Dago/Kampus, antara lain dekat kampus Unpad Lama di Jalan Dipati Ukur. Pernah juga di Jalan Kebon Bibit belakang kampus ITB. Terus tidak lama setelah berumah tangga Mas Jon membeli rumah di Gunung Batu dekat Cimindi. Selanjutnya, pindah lagi ke dekat Pintu Toll Cileunyi, Perumahan Bumi Panyawangan.

Terus selama bekerja, rupanya Mas Jon sempat membeli Tanah di sekitar Cikalong Wetan,  Bandung Barat. Dulu waktu Mas Jon bekerja di Proyek PLTA Cirata, rupanya sambil lihat-lihat tanah/kebon dalam perjalanan dari rumahnya di Bandung ke Cirata, sehingga akhirnya, mendapat rezeki membeli tanah yang cukup luas di Cikalong Wetan. sejak beberapa waktu yang lalu, s esudha Mas Jon pensiun,  Tanah yang luas di Cikalong Wetan yang udaranya cukup sejuk, mulai dibenahi sehingga bisa dijadikan sebagai Taman Wisata yang diberi nama Bumi Almira.

Jadilah secara tiba-tiba, aku mampir berkunjung ke Bumi Almira, Alhamdulilah bisa jumpa dengan Mas Jon dan Mbak Tati yang katanya selalu hadir setiap Sabtu dan Minggu di Bumi Almira.



BUMI ALMIRA
Bumi Almira sebuah Taman Bermain yang cukup luas di Cikalong Wetan, sekarang baru buka setiap weekend hari Sabtu dan Minggu. Alhamdulilah, banyak dikunjungi oleh masyarakat sekitar Cikalong, biasanya Anak Sekolah SD, SMP, SMA, SMK dan Madrasah Ibtidayah/Tsanawiyah, juga Ibu-ibu Pengajian dan Ibu-Ibu Arisan. Saat ini banyak spot-spot photo yang Instagramable yang banyak digunakan pengunjung sambil santai melihat pemandangan yang indah. Hari Minggu, Bumi Almira bisa didatangi sekitar 200-300 pengunjung yang santai disana mulai Pagi jam 08.00 sampai Sore Jam 16.00 WIB.
Ke depan, Mas Jon bersama keluarganya, masih akan mengembangkan Bumi Almira sehingga lebih lengkap, termasuk sarana permainan untuk anak-anak dan Warung/Restaurant yang lebih baik. Memungkinkan juga untuk membuat fasilitas Penginapan Hotel kecil dan sarana Camping yang lebih lengkap dan memadai.


Bagian Depan Bumi Almira

Santai di kursi dengan tanaman Pohon Pinus
yang mulai rimbun 







Kenangan December 2017; Winter di Seoul - Menikmati Kopi Panas dan Sop Ayam Ginseng

toto zurianto (Cerita Tanggal 28 December 2017)

Perjalanan ke Korea pada akhir tahun, wah luar biasa dingin dan freezing. Kami sampai di Seoul sekitar jam 10 pagi. Cuaca mendung, gelap, dan hujan tidak terlalu deras. Ini kunjungan kedua ke Seoul, tetapi kali ini, udara sangat tidak bersahabat. Temperatur sekitar 2 derajat Celcius sampai sekitar -5. Begitu juga suasana selama seminggu selanjutnya, antara 4 sampai -11 derajat celcius. Tetapi beberapa hari udara cukup cerah dan sangat dingin membeku.




Karena itu, selalu setiap pagi penting untuk dimulai dengan secangkir Kopi Panas, harus kopi Panas. Tidak hanya pagi, juga siang, sore, atau di malam hari. Kemudian, untuk mendapatkan energi dan udara panas, jangan lupa menikmati Sop Ayam Ginseng Korea Asli. Terkenal dan Paas, dan Sop Ayam Giseng Samgyetang.

Nikmat, dengan Ginseng dan Lembut


Kita di Indonesia, bisa juga melakukan modifikasi membuat Sop Ayam Jahe ala Indonesia. Pasti rasanya dan juga kadar vitaminnya tidak kalah enak dan nikmatnya. Sop Ayam Jahe Indonesia, kalau kita sajikan di tempat tempat dingin, seperti di Puncak, Bandung, Brastagi, atau Bukittinggi, sungguh suatu sajian yang enak dan bisa dibanggakan.


PEGAWAI DIRJEN PAJAK KEMENTERIAN KEUANGAN; PUNYA HARTA RP51 MILYAR, SUKA PAMER KEKAYAAN

toto zurianto

Awalnya gara-gara ada seorang anak, namanya Mario Dandy Satrio, menganiaya anak seorang pengurus GP Ansor bernama David. Ini ternyata bukan kasus biasa, usut punya usut ternyata orangtua Mario, orang hebat, pejabat eselon 3 di Dirjen Pajak. Adalah Rafael Alun Trisambodo yang sangat kaya raya, punya aset total Rp51,39 Milyar, bangunan, mobil, dan tanah berkavling-kavling. Atas peristiwa ini, peristiwa penganiayaan, membuka tabir yang selama ini tertutup. Betapa seorang pegawai biasa, Rafael Alun Trisambodo, mempunyai harta yang berlimpah-limpah, berapa gajinya?  gaji Rafael diperkirakan antara Rp37-46 juta per bulan, itu sudah termasuk tunjangan. Jadi kalau semua gaji disimpan, tidak ada yang dimakan, Rafael perlu waktu 1100 bulan lebih untuk mengumpulkan uang sekitar Rp50 milyar, perlu waktu sekitar 90-100 tahun.

Mula-mula jabatan Rafael dicopot dari Kepala Bagian Umum Kanwil DJP Jakarta Selatan 2. Setelah itu, akhirnya bosnya, Menteri Keuangan resmi memecat Rafael Alun Trisambodo sebagai ASN Institusi Direktorat Jenderal Pajak.

Masyarakat tidak tahu, tetapi bisa menduga, kemungkinan cukup banyak pegawai Dirjen Pajak memiliki keadaan yang more-less hampir sama dengan Rafael Alun Trisambodo. Sama-sama kaya, sama-sama memiliki tanah dan rumah mewah, memiliki banyak mobil mewah dan sering juga memiliki anak yang sama tabiatnya dengan anak-anak orang kaya yang lain yang suka menganiaya orang lain.

BANYAKKAH ORANG SEPERTI RAFAEL?
Masyarakat Indonesia tahu, betapa Kementerian Keuangan telah memberikan Gaji dan Tunjangan yang fantastis kepada Pegawai Dirjen Pajak, juga Dirjen Bea Cukai, juga pegawai lain di Lingkungan Kementerian Keuangan. Gaji Pegawai Dirjen Pajak, tentu saja sama dengan pegawai negeri ASN yang lain, mulai dari Rp1,5/bulan untuk Golongan 1A sampai ke Rp6juta/bulan untuk pegawai tertinggi Golongan IVD. Tapi tunjangannya besar, mereka menyebut sebagai Tunjangan Kinerja (TUKIN) karena alasan pegawai Dirjen Pajak sebagai ASN yang berjasa mengumpulkan uang untuk membiayai Anggaran Negara (APBN). Alasan ini pasti diluar nalar, bukan karena alasan job grading, job/employee performance ataupun salary system yang terbaik. Kalau pegawai Dirjen Pajak dinilai hebat karena bisa mengumpulkan uang untuk Anggaran Negara (APBN), seharusnya Kementerian lain/Dirjen lain di luar Kementerian Keuangan juga diberikan TUKIN yang sama besarnya.
Tapi itupun, seorang Rafael memerlukan waktu 100 tahun untuk bisa mengumpulkan uang Rp50 milyar tanpa ada pengeluaran untuk makan. Jadi kita perlu meneliti, apakah orang yang punya harta banyak di Dirjend Pajak atau di Kementerian Keuangan hanya Rafael seorang, jangan-jangan ada 100 orang seperti itu. Ini perlu diteliti.
 




Monday, 6 March 2023

NARA PARK di Ciumbuleuit Bandung

toto zurianto

Sudah cukup lama enggak ke Bandung, Minggu lalu, 3-4 Maret 2023, kami berkesempatan kembali jalan-jalan ke Bandung, kali ini, salah satunya kami mendatangi sebuah Taman yang indah di kawasan Ciumbuleuit tidak jauh dari Universitas Parahiyangan, namanya NARA PARK. Lebih tepat disebut sebagai tempat untuk photo-photo dan makan-makan, sambil santai menikmati udara segar masih di Kota Bandung,  tidak terlalu jauh dari Pusat Kota.

Kulinernya 
Pertama, biasanya kita memesan minuman di Foresta Coffee yang terletak di bagian depan Nara Park, terus bisa didampingi dengan berbagai aneka roti, di Pino Bakehouse di bagian bawah.
Makanan lain, ada Torigen Teppanyaki, juga pamor Restaurant, dan Torigen Teppanyaki untuk penggemar bakar-bakar ala Jepang. Yang lain, kita bisa menikmati; Porto Bistro, nanny's pavillon, Pino Terrace dan Pinetta Pizza bagi penggemar Pizza dan berbagai jenis Pasta yang lezat.


Kopi Foresta, di sebelah depan NARA PARK
mari menikmati Kopinya yang lezat.


Agar lebih mudah, lebih baik memarkir mobil 
di tempat parkir sebelah atas, lalu kita
naik Mobil wisata, praktis dan memudahkan.





Roti ini enak, perlu dicoba

Kalau masih pagi, tempat ini, di bagian atas,
cenderung masih sepi. Tapi, menjelang siang,
sore dan malam, pasti ramai.



Friday, 27 January 2023

Papa; Perjalanan sebuah Kerinduan

toto zurianto

Beberapa waktu yang lalu, pada konser virtual Band The Mercy's melalui channel Youtube, sekali lagi aku mendengarkan sebuah lagu merdu dengan irama sendu, kali ini dinyanyikan oleh Bang Erwin Harahap bersama Bang Jelly Tobing dan Frans Dhana, lagunya berjudul Ayah, ciptaan Rinto Harahap sekitar tahun 1975 pada album The Mercy's Volume 4.  Lagu yang menggambarkan sebuah kerinduan pada sosok Ayah, sama seperti yang kurasakan, seperti ini antara lain katanya, 
"Dimana akan kucari. Aku menangis seorang diri. Hatiku selalu ingin bertemu. Untukmu aku bernyanyi".

Bagaimanapun, betapa kita sering berada pada situasi merindu yang sangat dalam. Ketika itu apa-apa yang kita miliki seolah-olah tidak mampu memberikan penyelesaian pada persoalan kita. Karena sosok Ayah yang kita rindukan bukan sekedar memberikan jawaban atas kesulitan dan kekurangan kita. Di sini, Ayah menjadi periode kehidupan yang pernah kita lewati bersama, bersama Ayah kita melewati banyak kenangan yang indah dan tidak terlupakan. Ayah yang selalu memberikan kedamaian dan jawaban.

Ayah kami, Bapak, kami menyebutnya Papa, namanya Ratmono Ratio. Banyak cerita indah yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di hati kami, anak-anaknya.  Terutama perjalanannya, perjalanan kami yang sebagian besar kami lewatkan di perkebunan-perkebunan di Pulau Sumatera. Sepengetahuan kami, pertama kali Papa bekerja di sebuah perusahaan perkebunan milik kolonial Belanda, mungkin sekitar tahun 1957 sampai 1960, Papa bekerja di Namlodse Venotchaaf Handle Vereniging Amsterdam, yang dikenal dengan NV HVA, sejenis BUMN zaman Belanda yang mengolah perkebunan Teh di Perkebunan Kayuaro di Kaki Gunung Kerinci, sekarang masuk Provinsi Jambi.

Belanda mulai membuka perkebunan Teh di Kayuaro sekitar awal tahun 1920-an, di dataran tinggi di kaki Gunung Kerinci yang dingin di ketinggian sekitar 1500 meter di atas permukaan laut. Teh yang ditanam dan diolah di Perkebunan Kayuaro termasuk Teh Hitam Ortodox yang berkualitas tinggi, sejak dulu produknya diekspor ke Eropa, terutama ke Inggris dan Belanda dan menjadi kebutuhan utama yang bisa bersaing dengan teh dari dataran tinggi di India sebagai Teh bermutu tinggi. 

Mungkin Papa bekerja di Perkebunan Kayuaro sampai akhir 1960, selanjutnya Papa pindah ke Perkebunan Karet di Perkebunan Liki dekat kota Muara Labuh di Provinsi Sumatera Barat, sekarang masuk wilayah Kabupaten Solok Selatan. Perkebunan Liki juga masih milik perusahaan Belanda NV HVA  yang zaman itu juga menguasai banyak perkebunan besar di Pulau Sumatera.

Papa dan Mama di depan rumah, kemungkinan di Liki sekitar
tahun 1961-1962. Waktu itu kalau bepergian sering naik mobil
Stesengkar (mungkin maksudnya station wagon car) milik HVA.


Tentu saja aku tidak terlalu banyak mengetahui tentang Perkebunan Teh di Kayuaro, karena waktu itu aku masih sangat kecil. Ya aku lahir di Kayuaro pada tanggal 24 Juli 1960 bersama Abangku Mas Joni yang lahir setahun lebih dahulu pada 5 Maret 1959 juga di Kayuaro. Tapi, senangnya, Papa dan Mama sering bercerita tentang Perkebunan Teh Kayuaro yang indah dan berhawa dingin. Jadi meskipun waktu itu kami masih kecil, kami tetap mendapatkan cerita dan informasi perkebunan dan rumah kami di beberapa tempat. Melalui cerita, banyak tempat yang bisa kami ingat, berturut-turut setelah Kayuaro, kami pindah ke Perkebunan Liki, mungkin sekitar 3 tahun sejak akhir 1960 sampai tahun 1962. Di Liki, lahir adik kami, Almarhum Nono, Novrianto pada tanggal 7 November 1961. Meskipun waktu itu aku baru berumur belum 2 tahun, melalui cerita Papa dan Mama, seolah-olah aku bisa membayangkan, betapa kami pernah mengunjungi Danau Kembar, Danau Di atas dan Danau Di Bawah yang indah. salah satu ucapan Papa yang sangat kuingat, kalau tidak salah, Danau di Atas letaknya lebih rendah (di bawah) dari Danau Di Bawah. Apakah memang seperti itu, mungkin perasaan kita seperti itu. Mudah-mudahan suatu hari nanti, aku bisa membuktikan cerita yang sebenarnya dari keberadaan Danau Di Atas dan Danau Di Bawah.

Selanjutnya pada tahun 1962 kami pindah lagi, kali ini Papa ditugaskan pada sebuah perkebunan Karet di Provinsi Sumatera Utara, tepatnya Perkebunan Hapesong, di Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan, sekitar 40 Kilometer dari Kota Padang Sidempuan. Cukup lama kami tinggal di Perkebunan Hapesong, sampai awal tahun 1965. Banyak cerita indah yang mulai kuingat ketika tinggal di Hapesong, antara lain, aku pernah mendengar, beberapa Om/Tante kami, adik Papa atau Adik Mama, pernah berkunjung ke Hapesong dan ramai-ramai mendaki Gunung, mungkin Gunung Lubuk Raya yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Hapesong. 

Salah seorang Adik kami, juga lahir di Batang Toru, namanya Puspitawati, tetapi lebih populer dipanggil Butet.  Ya adik kami diberi nama Butet, menurut Papa, ketika baru lahir, dan ditanya, apakah Laki-laki atau Perempuan, langsung dijawab oleh Tante Bidan (yang membantu melahirkan), "Butet" katanya sambil berteriak. Tentu saja maksud Tante Bidan, yang lahir Anak Perempuan yang di Tanah Batak dan Tanah Mandailing dipanggil dengan sebutan "Butet".  Sejak itu, sejak tanggal 26 Juni 1964, adik kami dipanggil Butet sampai sekarang.

Banyak cerita lain yang selalu kami ingat ketika kami berkumpul. Perjalanan kami di banyak perkebunan setelah itu, tetap sebagai cerita tentang Papa dan Mama termasuk ketika kami akhirnya melanjutkan perjalanan ke Kota Medan sekitar tahun 1965 sampai 1970. Walaupun kami tinggal di kota besar Kota Medan, tetapi papa masih tetap bekerja di lingkungan perkebunan, waktu itu di Kantor Besar (headquarter) Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Karet VI di Sei Sikambing Medan. Tadinya kami pikir, kami akan terus menetap di Medan, tetapi rupanya, masih ada panggilan lagi untuk melanjutkan perjalanan di perkebunan yang lain. Pada tahun 1970, papa pindah lagi, kali ini ke Provinsi Aceh, tepatnya ke Kabupaten Aceh Tengah di PN Perkebunan 1 Aceh di Perkebunan Damar dan Terpentine di Kota Kecil Lampahan sekitar 25 KM menjelang Ibukota Kabupaten Aceh Tengah Kota Takengon. cukup lama Papa bekerja di Lampahan Tanah Gayo yang sejuk dan dingin sampai sekitar tahun 1979. 

Photo kami pada tahun 1971 di sebuah rumah milik sahabat Papa,
Om Machmud Tarigan Silangit (MTS) di dekat sungai Krueng
Peusangan di Takengon.  Om Machmud seorang Photographer
 dan Pelukis sudah seperti saudara bagi kami. 


Selanjutnya Papa pindah lagi,  masih di lingkungan PN Perkebunan 1 Aceh, kali ini ke Perkebunan Kepala Sawit di Perkebunan Karang Inoue di Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur sekitar 75 KM dari Ibukota Kabupaten Aceh Timur di Kota Langsa.
Pasti banyak cerita indah yang tidak terlupakan mengikuti perjalanan Papa dan Mama di banyak perkebunan di Pulau Sumatera, sampai akhirnya kami kembali ke Medan pada tahun 1981 ketika Papa pensiun mengakhiri perjalanan yang panjang di perkebunan-perkebunan di Pulau Sumatera. Semoga Papa dan mama Husnul Khotimah, cerita ini bukan hanya sebuah perjalanan yang panjang, tetapi sebuah kerinduan.

BUKU-BUKU AKHIR TAHUN

toto zurianto

Menjelang akhir tahun 2022, ada banyak buku yang lumayan bisa dibeli. Lumayan kemaren pas jalan-jalan ke PIM-1, sempat mampir di Toko Buku PeriPlus, biasanya kusempatkan membeli 1 atau 2 buku yang harganya lumayan mahal, tapi bukunya selalu bagus, seperti awal Desember lalu, aku sempat membeli Buku Atomic Habit tulisan James Clear (294K).


Buku ini memang bagus, mengingatkan kita agar tidak perlu terpaku pada hal-hal yang kelihatannya besar dan tentunya akan berpengaruh besar apabila hal tersebut kita jalankan. Tetapi, bagi James Clear, kitapun perlu mempertimbangkan hal-hal yang lebih sederhana, kecil, tetapi tetap memberikan hal yang bagus, sering lebih mudah untuk diwujudkan.

Tapi hari ini, aku banyak mendapatkan Buku-buku yang  relatif masih cukup baru, umumnya terbitan tahun 2022, sedikit yang terbit tahun 2020 atau 2019. tetapi dengan harga discount, murah banyak, mulai dari 16K sampai sekitar 165K.



Pertama, I Alone Can Fix It, tulisan Carol Leonnig dan Philip Rucker. Ini buku yang bercerita tentang Donald Trump Presiden Amerika Serikat (2017-2022). Buku baru yang terbit tahun 2022 setebal lebih 500 halaman ini, harganya sangatlah murah, cuma Rp43.000 saja.

Buku Kedua, Zucked; Waking Up to the Facebook Catastrophe karangan Roger McNamee yang banyak bercerita tentang perkembangan teknologi dan media sosial khususnya facebook dan Instagram. Buku setebal 336 halaman ini kubeli sangat murah, hanya Rp35.000. 

Ketiga, Align; A Leadership Blueprint for Aligning Enterprise Purpose, Strategy and Organization tulisan Jonathan Trevor harganya hanya 93.000 saja. Bagi yang tetap semangat mengasah pengetahuan dan kapasitas kepemimpinannya, bolehlah membaca buku ini. Ini tentang Blue Print Leadership yang memberikan pandangan mengenai perlunya penyatuan (aligning) dari tujuan organisasi dengan strategi yang pas sesuai dengan keberadaan sebuah organisasi. Benar, setiap pemimpin biasanya mengedepankan instincnya dan pengalamannya, tetapi seluruhnya perlu disatukan dengan piliha strategi yang pas untuk mewujudkan kinerja yang lebih baik.





Buku lain yang sedang tersedia di meja buku, antara lain; 
  1. A Very Stable Genius; Donald J. Trump's Testing for America tulisan Philip Rucker dan Carol Leonnic (winners of the Pulitzer Prize, terbitan Bloomsbury tahun 2020.
  2. Ghost Work; How to Stop Silicon Valley from Building a New Global Underclass tulisan Mary L. Gray dan Sidoharth Suri (2019).
  3. Management Singularity; How to Manage  Organizations when AI, Robots and Big Data Take Over Human Control karangan Tjeu Blommaert dan Stephan Vandenbroek (2019)
  4. We are Not Like Them; Not Every Story is Black or White karangan Christine Pride dan Jo Piazza dari HapperCollins Publisher (2021).
  5. The Success Factor; Developing The Mindset and Skillset for Peak Business Performance tulisan Ruth Gotian terbitan Kogan Page (2022).

Mari menikmati buku-buku ini. 

Tuesday, 13 September 2022

SEPEDAAN DI BINTARO

toto zurianto

Hari ini Selasa, 13 September 2022, aku bersama seorang kawan Mas Hamid Ponco Wibowo, memutuskan untuk melakukan Gowes Pagi di kawasan Bintaro menuju kawasan Alam Sutra dekat Serpong. Pas jam 7.30 pagi kami berjumpa di Tikum Fresh Market Emerelda Bintaro.

Selanjutnya melewati banyak perumahan bagus di sekitar Bintaro, antara lain Graha Bintaro, Discovery dan Emerelda sendiri, kami mengayuh sepeda tidak terlalu kencang di udara yang cerah, agak panas pada kondisi lalulintas yang sedang, tidak terlalu padat tetapi tetap harus hati-hati. Kira-kirta sekitar 1 jam menggowes, sampailah kami di Alam Sutra yang lingkungannya sudah tertata sangat bagus, rapi dan cukup bersih. Setelah mutar-mutar sekitar 1/2 jam dan sempat istirahat sekitar 10 menit, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Tikum di Fresh market Bintaro, kali ini mencoba jalan alternatif lain. Sambil mampir di rumah seorang kawan di Discovery, Bang Difi Ahmad Johansyah, kawan yang pernah sama bekerja di Bank Indonesia sekarang sudah pensiun dan bermukim di Bintaro.












Setelah ngobrol sekitar 15 menit, kami pamit melanjutkan perjalanan kembali dan sampai di Tikum sekitar Pukul 10.30 waktu yang pas untuk ngopi dan kongko.
Inilah nikmatnya bersepeda bagi kami, setelah menggenjot sekitar 3 jam, diakhiri dengan ngopi dan pisang goreng yang lezat, kali ini di Emerald Tree Resto dan Coffee Bar, tempat yang nyaman untuk istirahat sambil kongkow, kali ini kami berempat, bersama bang Ananda dan Bang Difi. Lumayan, bisa olah raga dan Silaturahim.


INDONESIA; BERBENAH ATAU DIAM SAJA?

toto zurianto

Selama sekitar sebulan ini, masyarakat Indonesia "terpaksa" harus mengkonsumsi berita tentang "Sambo" dan kepolisian yang membuat kita sampai kepada, apakah kita ingin berbenah atau diam saja? Berita awalnya, ada pengaduan seorang Jenderal Polisi (polisi berpangkat tinggi) kepada Kantor Polisi mengenai adanya "korban tewas" yang juga seorang polisi berpangkat Brigadir (termasuk polisi berpangkat rendah/tamtama), katanya ada tembak-tembakan sesama polisi di rumah dinas polisi.
Lalu singkat cerita, situasinya ternyata lebih parah dari itu, diduga terdapat rencana pembunuhan yang akhirnya membuat Kepolisian menetapkan beberapa anggota polisi menjadi "tersangka" termasuk Jenderal Polisi tersebut, juga istrinya.
Cerita ini meluas dan menyeret banyak orang, mulai dari Pejabat Polres Jakarta Selatan, Polda Metro, dan orang-orang yang ada di Barerskrim Polri. Masalahnya meluas yang membuat institusi kepolisian kini dianggap sebagai institusi yang membuat masyarakat menjadi tidak nyaman, takut menjadi korban.  

Cerita lain yang menarik perhatian masyarakat mengenai kesimpang-siuran pemerintah untuk menaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Soal kenaikan harga BBM pasti menarik karena BBM termasuk sebagai kebutuhan pokok di masyarakat yang mempunyai dampak luas terhadap harga barang-barang lain yang menjadi kebutuhan masyarakat, tentu saja terutama kebutuhan pokok. Lalu, dalam perkembangannya, pemerintah mengatakan telah menyiapkan Anggaran untuk Subsidi BBM sebesar Rp502 Trilyun. Banyak pemerhati yang mencoba melihat rancang APBN tahun 2022, ternyata tidak tercantum, atau kebetulan jumlah yang tercantum di APBN hanya sebesar Rp14 Trilyun. Lalu akhirnya pemerintah memutuskan untuk tetap menaikkan harga BBM dalam negeri, BBM Pertalite yang selama ini berada pada harga Rp6.750 per liter, kini menjadi Rp10.000 seliter. BBM Pertamax juga naek dari Rp12.500 seliter menjadi Rp14.500 satu liter. Masyarakat marah kemudian melakukan protes yang memicu demonstrasi yang terjadi hampir setiap hari.










Monday, 30 May 2022

RAPI JALI DAN PANTAI BATU KARAS

toto zurianto

BUKU RAPI JALI
Saya termasuk penggemar cerita Dewi Lestari, sejak zaman Super Nova, tetapi saya mulai menyukai Dee Lestari setelah membaca Perahu Kertas, Filosopi Kopi dan Madre. Saya suka sekali ketika Dee menyampaikan cerita-cerita masa lalu, misalnya cerita tentang si pembuat roti Madre yang begitu indah disampaikan, tidak saja tentang cara membuat Roti zaman doeloe, juga tentang orang-orangnya yang terlihat lebih sederhana, dengan alur yang sederhana enak dinikmati. Cerita Madre misalnya membuat saya membayangi bagaimana sebuah pabrik Roti zaman doeloe, apakah Roti Lauw, atau Tan Ek Tjoan yang sangat terkenal di Jakarta. 

Kini setelah cukup lama tidak membaca Bukunya Dee Lestari, sejak tahun lalu, kita bisa mengikuti Buku Rapi Jali yang dibagi dalam 3 bagian, Rapi Jali 1, Mencari. Kemudian Rapi Jali 2, Menjadi, dan akhirnya Rapi Jali 3, Kembali. Meskipun Rapi Jali ini sudah lebih dahulu hadir dalam bentuk digital, tapi saya selalu menunggu edisi cetak yang menurut saya, lebih enak dinikmati karena bukunya semakin lama semakin jelek setelah dibuka berulang-ulang, dibawa kemana-mana, kadang-kadang basah atau terlipat, atau jatuh. Buku edisi cetak juga sering menjadi alat untuk berkenalan sesama penggemar buku, terutama ketika kita meletakannya di atas meja ketika kita berada di sebuah tempat umum seperti di kedai kopi.






















GOWES PARA PENSIUNAN; OLAH RAGA DAN SILATURAHIM

toto zurianto

Hari Sabtu-Minggu 19-20 Maret 2022 beberapa waktu yang lalu, kami kedatangan Kelompok Pesepeda Seroja para Pensiunan Bank Indonesia ke pedepokan kecil kami di Villa Boncabe di Desa Tegalwaru Kecamatan Ciampea Bogor. Kelompok pesepeda Seroja ini memang luar biasa, pada usia mereka yang tidak muda lagi, rata-rata sudah sekitar 65 sampai 75 tahun, tetap penuh semangat dan mampu menaklukan perjalanan cukup berat sekitar 70-100 Kilometer dari berbagai pinggiran Jakarta menuju Bogor yang berada di kaki Gunung Salak.

Padahal biasanya, para Akik-akik ini, lebih banyak yang duduk manis di rumah sambil mengemong cucu sebagai sebuah tugas negara, mereka justru lebih suka melakukan olah raga yang relatif cukup berat untuk dilakukan pada usia mereka. Bersepeda, bukan hanya sebagai olah raga gaya hidup orang perkotaan, tetapi telah menjadi panggilan jiwa yang memberikan stimulasi dan energi untuk menjaga keseimbangan ketika mereka tidak lagi bekerja rutin di perkantoran. 

Ada sekitar 15 pesepeda Seroja bergerak sekitar Jam 06.00 pagi dari rumahnya masing-masing untuk berkumpul di beberapa Tikum (Titik Kumpul), antara lain dari kawasan Slipi, Pondok Indah, Bintaro, Pondok Aren, dan BSD menuju Tikum Gaplek di sekitar Pondok Cabe. Lalu untuk yang bermukim dari kawasan Jakarta Timur dan Bekasi, mereka berkumpul di Tikum Kali Malang, selanjutnya semuanya bergerak menuju Tikum di MacD Dramaga Bogor. Banyak para senior yang berpartisipasi, antara lain yang aku kenal dengan baik, seperti Pak Moerjono, Hatief Hadikoesoemo, Ayok Noor Cahyo, Amril Malintang, Ganjar Mestika, dan Haryono.  



Setelah gowes sekitar 4-5 jam, akhirnya sampailah mereka di Villa Boncabe Tegalwaru sekitar jam 11.00 saat mentari mulai panas, sebuah pencapaian yang luar biasa yang dilakukan pada usia di atas 60 tahun.

Villa Boncabe mulai kami kembangkan sejak akhir 2017 sebagai Padepokan Kecil dengan beberapa Villa, Taman, Tanaman, dan Peternakan pada lahan yang tidak terlalu besar. Kami, aku Toto Zurianto bersama Bang Ujang Hikmah Rinaldi, Bang Greatman Rajab, dan Mas Ari Ekoariantoro, secara perlahan menjadikan Villa Boncabe menjadi tempat yang nyaman untuk berkumpul, bergembira, dan beristirahat sambil menikmati alam pedesaan di Ciampea Ilir, terutama pada akhir pekan atau pada hari libur.
Sungguh indah pertemuan sesama alumni Bank Indonesia yang diisi dengan ngobrol ngalor ngidul di Rumah Joglo yang terbuka dengan semilir angin ditemani Teh dan Kopi, Bakwan dan Kelapa Muda dari Kebon sendiri



Gowes membuat Badan Segar dan Hati Sehat
Sering muncul pertanyaan, kenapa Bapak-bapak para senior yang sudah lama pensiun, suka mendalami hobby bersepeda. Sepanjang yang kuketahui, ketika masih aktif bekerja, hanya sedikit dari Bapak-bapak anggota Seroja, yang sering gowes. Ketika itu yang kuketahui hanya beberapa orang, seperti Pak Hatief Hadikoesoemo, Pak Wahjoedi dan Pak Haryono yang sering gowes, bahkan melakukan aktivitas gowes ke kantor B2W Bike to Work. Sedangkan Bapak-bapak yang lain biasa hanya sebagai pengembira yang naek sepeda hanya pada acara-acara tertentu. Lalu sekarang, ketika mereka sudah pensiun, banyak yang memilih hobby gowes, bahkan bukan lagi sekedar gowes atau B2W dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh. Kini, bapak-bapak yang tergabung dalam komunitas sepeda Seroja, mampu gowes untuk jarak tempuh yang cukup jauh, bisa sekitar 70 sampai 100 Kilometer. Mereka menyebutnya sebagai sebuah journey, perjalanan melewati perkampungan, sawah dan ladang, sungai dan hutan. Jadi tidak lagi hanya melewati jalan aspal yang mulus.

Inilah seni dan keindahan bersepeda yang dilakukan Bapak-bapak di Seroja Cycling Club pada pensiunan Bank Indonesia. Perjalanan melewati gunung lereng dan perkampungan, menjadi sebuah keindahan, kadang-kadang ahrus bermalam menginap di pelataran Mesjid-mesjid sederhana yang mereka sebut sebagai Hotel Syariah dengan berbekal tenda dan sarung serta "obat nyamuk bakar". Lalu pada kesempatan itu, tidak jarang mereka memberikan sumbangan ke masyarakat atau memberikan Tausyiah kepada masyarakat desa yang hidupnya sangat sederhana. Lalu, apa yang didapat dari aktivitas pergowesan tersebut? Salah satunya, kebersamaan sesama pensiunan serta badan dan jiwa yang sehat seperti ungkapan Mens sana in corpore sano yang berarti dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat dan kuat. Karena jasmani kita sehat, maka jiwa kitapun bisa sehat, maka pikirnpun akan menjadi sehat. Mungkin ini yang menjadi pandangan Bapak-bapak Seroja yang selalu ramai, penuh canda dan bergembira. Salah satu cara terbaik yang dipilih dalam menjalani masa pensiun, agar selalu lebih semangat, tidak loyo, atau sering merasa susah menjadi laskar yang tidak berguna lagi.



Kami memilih berkebun bersama
Sama seperti Bapak-bapak Pensiunan yang tergabung dalam kelompok pesepeda Seroja, kami di Villa Boncabe, sejak 2017, berpikir untuk menyiapkan kegiatan yang akan dilakukan selain bekerja rutin di kantor, sekaligus sebagai persiapan ketika masa pensiun menjelang.

Tidak terlalu lama mencari, akhirnya kami mendapatkan sebidang tanah di desa Tegalwaru, Ciampea Ilir, sekitar 6 Kilometer dari Kampus IPB Dramaga. Mula-mula, lokasi ini terasa agak jauh. Dulu, ketika kita keluar dari Pintu Tol Sentul Selatan, melalui Bogor Outer Ring Road (BORR), keluar di Kedung Halang, menyusuri Jalan Baru menuju Parung yang padat dengan kondisi jalan yang rusak parah. Syukurlah dalam waktu yang tidak terlalu lama, BORR tersambung hingga Simpang Yasmin, kemudian dari Simpang Yasmin menuju desa Tegalwaru, jarak sekitar 15 Kilometer, dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45-60 menit. Jadi dalam kondisi lalulintas normal, dari rumah kami di Cinere, untuk jarak sekitar 65 Kilometer, perjalanan menuju Villa Boncabe melalui Tol JORR, Tol Jagorawi dan Tol Bogor Outer Ringroad, bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 45 menit. Tapi kalau kita tidak melalui jalan Tol, perjalanan menuju Villa Boncabe bisa dilakukan melalui Jalan Pondok Cabe, Jalan Raya Sawangan, lewat Pasar Parung menuju Simpang Yasmin sepanjang sekitar 45 Kilometer, pagi hari sebelum Jam 11.00 bisa kita tempuh dalam waktu sekitar 1 jam 30 menit. Cukup cepat dan masih lancar. 



Langkah pertama di tahun 2017, membuat pagar keliling

Setelah mendapatkan lahan di desa Tegalwaru seluas sekitar 5.800 meter persegi, akhirnya kami sepakat membeli lahan yang lokasinya agak masuk ke perkampungan, cukup jauh dari jalan Raya Ciampea menuju Leuwiliang - Jasinga, sekitar 4 Kilometer di jalan pedesaan. Syukurnya meskipun jalannya cukup sempit yang menyulitkan kenderaan untuk berselisih, tetapi sudah pernah diaspal. Bahkan, ketika kami memutuskan untuk membeli tanah tersebut, ada bagian jalan yang sudah rusak parah, mendapatkan perbaikan dalam bentuk jalan beton sampai Desa Tegalwaru melalui proyek betonisasi jalan perkampungan.
Lahan seluas 5.800 meter tersebut langsung dipagar keliling, dibagi menjadi 4 kavling dengan membuat jalan di bagian tengah, masing-masing kami mendapatkan bagian seluas sekitar 1.250-1.350 meter persegi, lumayan bisa dibuat kebon, kolam, atau pondok kecil untuk tempat beristirahat.

 
Jalan besar ditengah-tengah, sekaligus sebagai batas lahan.

Sebelum seperti sekarang

Sedang menyiapkan rencana awal, apakah tanaman, Villa,
dan berbagai sarana lain, selalu dibahas bersama.

Berkembang menjadi seperti sekarang

Kini setelah sekitar 4 tahun, Villa Boncabe yang dulu hanya tanah kebon kosong, sedikit demi sedikit kami kembangkan. Mula-mula dibangun sebuah rumah limas kayu seperti yang banyak didirikan di Sumatera Selatan. Terilham ketika mengunjungi Kota Palembang, di Bandara ada rumah contoh yang cukup bagus yang bisa dipesan, dibawa ke Bogor dan dipasang dalam waktu yang cepat, rumah Knock-Down. Sekarang, Villa Boncabe sudah cukup lengkap, fasilitasnya sudah semakin lengkap dan memadai. Ke depan, akan semakin bagus lagi.

Rumah Limas Palembang, pertama kali dibangun di Villa Boncabe Rumah
sistem knock-down yang disiapkan di Palembang dibawa ke Boncabe dengan
truck, kemudian dibangun ditempat selama 2 minggu saja.



Kebon Sayur modern melalui sistem Hidroponik


Kini 






Suasana hijau sejuk dan mulai rapi di Villa Boncabe, Ciampea.





Gazebo tempat santai sambil memandang lembah dan sungai