Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Monday, 9 March 2009

MUSIC Indonesia Tahun 70-an

MENDENGAR MUSIK di Medan

Sekitar tahun 71, meskipun aku masih kelas V SD (Sekolah Dasar), aku mulai mengenal musik Pop Indonesia. Ketika itu, kami baru saja memiliki sebuah Tape Recorded (Tape) merek Sharp yang tentu saja sangat sederhana, menyebabkan terjadinya perubahan cepat dalam blantika musik di rumah kami. Sebelumnya kami memang telah mempunyai Pick-up merek Philips yang lumayan bagus, tetapi sebagian besar plat (?), atau LP (long play) atau Single yang kami miliki, berisi lagu-lagu barat tempo doeloe. Atau kebanyakan dari kami, lebih banyak mendengar radio (RRI), siaran Malaysia (RTM), atau beberapa radio amatir yang jumlahnya sangat terbatas (di kota Medan).

Melalui Tape tersebut, mula-mula kami hanya memiliki beberapa cassettes, kalau saya enggak keliru yang paling sering diputar adalah; Female Top Hits (seperti lagu the End of the World), lalu yang paling top adalah Koes Plus (volume 5) dengan lagu Nusantara, wow dahsyat musiknya, terutama gebukan drum-nya Murry yang hebat itu. aku tidak pernah lupa syairnya;

Kuharap kau tidak akan cemburu, Melihat hidupku
Hidupku bebas selalu kawanku, Tiada yang memburu oh.
Di Nusantara yang Indah rumahku, Kamu harus Tahu
Tanah permata tak kenal kecewa, di Khatulistiwa,


Dst..............

Lagu-lagu lain yang sangat kusuka dari album itu adalah Penyesalan, Relax, Musik di Sekelilingku, dan Sonya. Sekitar tahun 70-an, boleh di bilang sangat sulit mendapatkan album cassettes asli, kebanyakan studio rekaman hanya menjual plat atau Piringan Hitam (PH). Lalu kalau kita mau mendengarkan cassettes, maka kita harus merekamnya ke dalam bentuk cassettes yang hanya dilakukan di toko musik (mereka merekam musik dari piringan hitam ke bentuk cassettes) dengan harha sekitar Rp200 sampai Rp300 saja, tergantung jenis cassettes, apakah C-60 (durasi 60 menit) atau C-90 (durasi 90 menit). Paling enak, kita bisa memilih lagunya, lalu akan diberikan judul-judl lagu pada cassettes itu yang diketik pada kertas putih.

Beberapa lagu yang sempat kumiliki ketika itu, adalah album pertama the Mercy's yang berisi lagu terkenal "Tiada Lagi", Love, Untukmu, Baju Baru, dan "Kisah Seorang Pramuria" yang belakangan penciptanya diperdebatkan, apakah ciptaan Albert Sumlang (the Mercy's) atau musisi Black Brothers!

Pola rekaman cassettes seperti ini berlangsung terus bahkan sampai menjelang tahun 80-an, yang diakhiri dengan semakin banyaknya studio rekaman yang menerbitkan lagu-lagu dalam bentuk cassettes asli, bukan hanya Piringan Hitam, yang paling terkenal adalah AR (Atlantic Record). Hampir setiap muncul lagu baru, aku merekamnya, antara lain aku pernah memiliki lagu-lagu Koes Plus mulai Volume 1 sampai Volume 13, Panbers, Ivo's Group, AKA, Freedom of Rhapsodia, Gembell's, D'Lloyd's, dan lain-lain.

Menjadi penggemar cassettes (dan direkam sendiri), memang mengasyikkan! Itulah sekelumit kisah masa lalu yang diwarnai oleh teknologi yang masih sederhana. Tidak seperti zaman CD seperti sekarang, kita begitu mudahnya memilih lagu tertentu untuk kita dengarkan. Dulu, perlu di-rewind atau forward dengan meraba-raba! Dulu, setelah mendengarkan lagu Koes Plus yang kelima (lagu Musik Disekelilingku), cassettes-nya kubalik dari side-A ke side-B, dan yang muncul Panbers Volume 2 (?), lagu Pilu. Ini lagu juga dahsyat, dibawakan dalam nada tingginya Benny Panjaitan;

Pilu, rasa hatiku
sejak kau tinggalkan daku.
Sedih, hatiku sedih
kau pergi tanpa pesan

Kini hanya bayanganmu melintas dimataku
Hanyalah wajahmu tak kulupa seumur hidupku.

dst, dst.


Pilu ini satu album dengan Pelipur Lara dan Indonesia my lovely country yang begitu energik dan terkenal.


Toto Zurianto