Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Monday, 30 May 2011

Memimpin Tanpa Visi

toto zurianto


Apa yang kita lakukan ketika harga BBM tinggi? Tidak ada! Kini, dengan harga minyak mentah (crude oil) yang mencapai di atas US$100 per barel dan BBM non subsidi dijual seharga Rp 9.250 per liter di SPBU resmi, kita tetap tidak bisa melakukan apa-apa. Bagi para konsumen, pilihannya tinggal kekuatan, apakah masih mampu mempertahankan mobil yang harus mengkonsumsi BBM non subsidi, atau harus menjualnya dan membeli mobil yang dibolehkan memanfaatkan BBM subsidi seharga Rp4.500 per liter. Atau kita tidakpeduli, tetap membeli BBM bersubsidi untuk mobil mewah kita. Kecuali hanya menghimbau dan mempermalukan, tidak ada yang bisa melarang orang untuk membeli BBM lebih murah itu.
Selain itu, kitapun tetap menunggu sampai dimana ketahanan pemerintah untuk tetap mempertahankan harga murah dari BBM bersubsidi tersebut dengan memberikan subsidi yang jumlahnya semakin besar.
Hanya inilah kemampuan bangsa kita, pemerintah dan juga para pebisnis hebat kita, tidak pernah mencoba untuk memikirkan alternatif lain yang bisa menghantarkan kita keluar dari kemelut BBM yang sekarang bukan lagi menjadi andalan bagi penerimaan negara.
.
Kreatif ketika kesulitan
Kita pernah sangat jaya ketika ekonomi kita bergerak dengan dukungan penuh dari penghasilan migas (minyak dan gas), sekitar tahun 70-an sampai dengan pertengahan tahun 80-an. Lalu ketika harga minyak naik tajam di tahun 1983, dari sekitar US$23 per barel menjadi sekitar US$29, dan kemudian menjadi US$36 per barel di tahun 1986, kita terpaksa melakukan perubahan struktur ekonomi (pemerintah) dari lebih tergantung kepada migas, menjadi ke ekonomi swasta yang didukung oleh pendapatan pajak dengan reformasi perpajakan tahun 1985-86 dan dana masyarakat di perbankan (1986-1988).
Beberapa reformasi perekonomian yang kita lakukan ketika itu adalah dengan melakukan penyempurnaan transaksi arus barang (bea cukai), deregulasi perbankan (1 Juni 1983 dan Pakto 28 Oktober 1988), dan sektor perpajakan.
Lalu setelah itu, kini kitapun bukan lagi tercatat sebagai negara mengekspor migas karena lebih banyak yang diimpor dibandingkan yang diekspor. Tapi apa yang kita lakukan? Cadangan migas kita sama sekali tidak bisa diandalkan. Dulu, produksi minyak bumi mencapai 1,3 juta barel per hari. Kitapun dengan gagahnya bisa mempengaruhi pengaturan quota produksi minyak internasional, khususnya yang menjadi anggota negara pengekspor minyak OPEC. Setelah itu, tidak banyak kreativitas ekonomi yang kita lakukan. Padahal, banyak peluang yang bisa dilakukan ketika harga minyak cenderung terus mahal.
Yang kita ketahui adalah, pertama, harga minyak terus meroket. Dampaknya, harga BBM dalam negeri menjadi meningkat. Tidak ada yang dilakukan pemerintah untuk kasus ini, kecuali, berkeinginan untuk menghabiskan jenis BBM bersubsidi.

Melihat BBM alternatif
Kalau kita hanya menunggu saja, berharap harga minyak internasional turun kembali menjadi di bawah US$70 per barel, maka salah satu akibat yang mengerikan adalah apabila harga minyak justru semakin tinggi. Karena itu, kalau bangsa ini ingin keluar dari permasalahannya, terutama untuk mengatasi krisis BBM,pemimpinnya harus berani mencari alternatif lain untuk suatu penyelesaiannya yang menyeluruh.
Salah satunya seperti yang dilakukan Swedia, tetapi untuk alasan yang berbeda. Swedia tercatat sebaai salah satu negara paling berhasil yang melakukan konversi BBM yang berasal dari fosil yang tidak terbaharukan, menjadi BBM ethanol yang lebih bersahabat dengan lingkungan. Tahun 70-an, negara tersebut, seperti negara lain pada umumnya, lebih banyak memanfaatkan sumber energi fosil yang mencapai 77 persen dari keseluruhan.
Lalu dengan melakukan  transformasi ekonomi yang kuat, pada tahun 2008, mereka mampu menguranginya menjadi hanya 30 persen saja. Ini adalah kemajuan besar, tidak saja bahan energinya yang lebih mudah didapat, juga dampak kehancurannya yang semakin sedikit. Ethanol yang terbuat dari pohon tebu atau cellulose diperkirakan lebih sedikit menimbulkan emisi rumah kaca dibandingkan dengan BBM fosil, tingkat efisiensinya mencapai 85 sampai 90 persen.
Kegiatan yang dimulai oleh segelintir orang ini, mulai-mula berjalan tertatih-tatih. Salah seorang pelopor awalnya, Per Carstedt, mencoba membawa beberapa mobil yang digerakan BBM ethanol dari Brazil ke Swedia. Bersamaan dengan itu merekapun berhasil mempengaruhi sebuah stasiun bahan bakar untuk bisa menjual BBM ethanol.
Selanjutnya semakin banyak kenderaan berpenggerak BBM ethanol yang didatangkan dan semakin banyak pula stasion BBM ethanol yang didirikan di negeri itu. Hanya ada 40 stasion BBM ethanol yang berdiri di tahun 2000 di seluruh Swedia. Lalu meningkat menjadi 100 di tahun 2004, tahun 2005 menjadi 2 kali lebih banyak, lalu 400-an di tahun 2006. Tahun 2007 jumlahnya mencapai 1000 stasiun, atau sudah mencapai sekitar 25 persen dari jumlah seluruh stasion BBM di negara itu (Peter Senge at all, The Necessary Revolution, 2008).
Lalu betapa dahsyatnya kalau apa yang dilakukan Swedia, juga kita jalankan di Indonesia. Betapa mudahnya kita menanam jutaan bahkan milyaran batang pohon yang bisa menghasilkan BBM ethanol yang akan membantu kita untuk memenuhi kebutuhan energi BBM dan menjaga lingkungan agar lebih sehat.

Tantangan Kepemimpinan
Kelemahan utama kita untuk bisa keluar dari kemelut BBM sekaligus hidup dalam lingkungan yang lebih sehat adalah ketidakmampuan kita mendapatkan pemimpin yang memiliki visi ekonomi kuat dan jauh ke depan (visonary leaders). Entah kenapa meskipun memiliki level pendidikan tinggi, tamatan luar negeri, jago mengkalkulasi data, tetapi kita secara umum miskin keberanian. Terutama keberanian untuk menaklukkan tekanan politik yang sangat dahsyat untuk menjalankan proyek maha dahsyat ini.