Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Tuesday, 30 November 2010

Sebuah Cerita Pendek; "Aku dan Otakku"

toto zurianto




“Selamat pagi Otakku”, sapaku pagi ini. Meskipun masih jam 04,00 pagi, belum Subuh, aku yang terjaga dari tidur pulasku, tak ragu untuk segera bangkit. “Selamat Pagi juga” kata Otakku sambil senyum-senyum. Rupanya Otakku sudah lebih dahulu bangun beberapa saat yang lalu, tampaknya ia cukup relax dan siap untuk bekerja pada hari ini.

Begitulah suasana pagi hari di rumahku. Aku dan Otakku sama-sama gembira menyambut hari, bahkan sejak pagi-pagi sebelum subuh. Oh yaa, sekedar untuk kawan-kawan ketahui, Otakku ini termasuk sebagai partnerku paling setia, sudah lebih setengah abad ia menemaniku untuk melakukan aktivitas apa saja.

Bahkan kadang-kadang, aku terlihat terlalu memanfaatkannya untuk kepentinganku sendiri. Tapi apa boleh buat, dia juga sering mengatakan kepadaku, “Gunakanlah aku sebaik-baiknya”. Seolah-olah aku ini tuannya dan dia hanya seorang hamba. Tapi, diapun, kadang-kadang tidak bisa menerima kelakuanku. Terutama kalau aku memperlakukannya secara salah.

Setelah mandi dan Sholat subuh, kuajak Otakku untuk mulai menelusuri kegiatan hari ini. Ia bahkan terlihat gembira ketika kuajak untuk pergi ke kantor dengan naik sepeda, hari ini dengan sepeda lipatku yang setia. Sekitar jam 05.00, masih gelap dan dingin, kami berdua meninggalkan Cinere, dengan sepeda menuju kantorku di Jalan Thamrin, yang jauhnya sekitar 22 Kilometer dari rumah. Sambil bersiul kecil, kugowes sepeda Putih itu menelusuri jalan Kompleks Puri Cinere yang berbukit-bukit dengan tanjakan kecilnya.

Setiap saat aku meninggalkan kompleks, biasanya nafasku terasa agak berat, terutama pada 500 meter melewati pos Satpam yang jalannya agak mendaki. Kulihat para Satpam masih tertidur nyenyak. “Kasihan pak Satpam, mereka kelihatan terlalu letih” kataku. Mereka terlihat pulas dan tidak mendengar kami membuka Pintu pos.

Tetapi Otakku kelihatannya tidak setuju dengan pendapatku. Dia diam saja, mungkin dia marah padaku. Sepertinya dia mau membangunkan para Satpam yang tidur nyenyak itu. Kurasa dia benar. Bagaimana mungkin para Satpam bisa tidur nyenyak pada jam-jam genting seperti itu, sementara mereka sendiri bekerja dan digaji memang untuk tidak tidur.

Aku ingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu. Ketika itu terjadi pencurian mobil salah seorang warga kompleks pada waktu pagi, sekitar jam 04.00 – 05.00. Tentu saja pencurinya merasa sangat berterimakasih kepada Satpam-satpam yang membiarkan pintu pos jaga terbuka lebar. Ya sudahlah, aku diam saja, kurasa Otakku benar mengenai hal ini. Karena penjagaan menggunakan sistem shift, seharusnya tidak ada Satpam yang tidur ketika sedang bertugas jaga.

Namun, terlepas dari berbagai perbedaan pendapat antara Aku dan Otakku, bagaimanapun Otakku adalah partner paling setia yang tidak pernah berhenti membangkitkan semangatku untuk melakukan apa saja, termasuk terus menggowes walau terasa semakin berat. Aku benar-benar bersyukur, Tuhan telah memberikanku partner yang baik yang selalu siap membangun semangatku untuk berangkat kepekerjaanku.

Soal gowes meng-gowes ke kantor, jelas semuanya terjadi karena Otakku yang tidak pernah bosan mengingatkanku. Tepatnya sekitar setahun yang lalu, aku bersama seorang sahabat, Ruli yang tinggalnya sekitar 1 kilometer dari rumahku, sudah beberapa kali berniat untuk ke kantor dengan menaiki sepeda. Tentu saja, awalnya sangatlah tidak mudah.

Meskipun sudah banyak kawn-kawan lain yang ke kantor naik sepeda, tetap saja, mengawalinya merupakan tantangan yang paling sulit untuk kami wujudkan. Waktu itu, ketika semua persiapan gowes sudah kami canangkan, tiba-tiba, sekitar jam 3.30 pagi, turun hujan yang cukup deras di sekitar rumah kami. Bagaimana lagi, mana mungkin meng-gowes ketikas hujan lebat. Situasi tidak mestakung, kata Ruli. Mungkin gowesnya harus kita tunda. Meskipun sedang semangat tinggi, tapi apa boleh buat, jangan sampai setelah menggowes kami harus dirawat karena sakit. Aku setuju sama Ruli, tetapi otakku berkata lain. Aku masih ingat Otakku nyelutuk, “ini sih hujan kecil”, “sebentar lagi juga berhenti”. “basah-basah dikit sih kagak ape-ape” kata Otakku. Sialan, kataku dalam hati. “sombong banget nih otak!”.

Tapi, agaknya dia benar. Tidak berapa lama, hujan pun berhenti. Tentu saja jalanan masih cukup basah, dan pasti akan ada genangan di beberapa tempat. Akhirnya dengan sedikit memompa semangat untuk segera gowes, ku-sms Ruli untuk tetap melanjutkan rencana gowes hari itu. Kurasa itu adalah peristiwa yang sangat berkesan bagi kami. Kami berdua, aku dan Ruli akhirnya bertekad untuk gowes ke kantor kami di kawasan Jalan Thamrin. Alhamdulilah, sekitar satu jam seperampat, dengan menempuh kegelapan pagi dan dinginnya udara pagi dan dengan sedikit hujan kecil, serta menempuh genangan yang cukup banyak, kami “berhasil memulai” gowes bike to work untuk yang pertama kali dan tetap tetap mempertahankannya hingga hari ini.

Kurasa, Otakku telah memberikan jasa yang besar untuk mempertahankan keinginan dan menghilangkan keengganan dan kemalasan. “terimakasih ya Otakku”. Sambutan sangat meriah dengan ucapan congratulation dari teman-teman Bike to Work yang telah lebih dahulu ada. Peristiwa itu sendiri, selanjutnya banyak diikuti kawan-kawan lain untuk bersama-sama Bike to Work setiap Selasa dan Jum’at.

Tapi hari ini, hanya aku dan Otakku yang bersepeda ke kantor. Beberapa kawan lain dan Otak-otaknya ada keperluan dan alasan lain untuk tidak Gowes. Rekanku yang lain, Windo izin tidak masuk kantor. Ia, atas saran Otaknya, perlu ke Laboratorium untuk periksa darah, katanya kholesterol-nya sedang meningkat cukup tinggi sehingga perlu dipantau secara serius. Windo bersyukur diberikan Otak yang sangat cerdas yang begitu concern memperhatikan kesehatan sahabatnya itu. Sedangkan Ruli, pagi itu harus mengantarkan anaknya ke sekolah, karena ada olah raga setiap Jum’at pagi. Luar biasa ada sekolah SMP yang meminta muridnya sudah hadir sebelum jam 05.30 pagi untuk berolah raga. Ini benar-benar contoh yang baik dan patut ditiru, tidak saja oleh sekolah yang lain, tetapi termasuk oleh kantor-kantor yang belum memperhatikan pentingnya berolah raga untuk menjaga kebugaran dan kesehatan, serta disiplin. Karena hanya berdua, Aku dan Otakku yang gowes, perjalanan terasa lebih sepi tanpa diikuti oleh obrolan ringan yang biasanya sangat menyenangkan. Apalagi kalau kami sudah berbicara mengenai sepeda dengan segala asessorinya.  Jalananpun masih terlihat sedikit lebih sepi dibandingkan dengan hari biasa. Juga hal yang menyenangkan ketika gowes adalah program kulinernya. Biasanya kami singgah sebentar di Jalan Casabalanca untuk menikmati sarapan Bubur Ayam.

Pagi ini kami langsung menuju kantor, dan Alhamdulilah, sekitar jam 6 lewat seperempat, sudah sampai di Kompleks Kantor kami di Jalan Thamrin. Wah Gedung-gedung ini memang hebat kata Otakku, senang melihatnya. Setiap pagi ketika kami melewati pos penjagaan Parkir/Satpam, selalu ia mengucapkan kekagumannya kepadaku. Lihat pegawainya pada hebat dan rajin. Mereka memang benar-benar disiplin untuk mulai bekerja pada pukul 07.10 setiap hari, kata Otakku. Aku tidak berkomentar apa-apa karena dia selalu berkata seperti itu setiap hari, seperti sudah diatur oleh mesin. Setelah memarkir sepeda di tempat yang disediakan. Oh ya, kantorku memang hebat, dan tidak ragu untuk menyediakan tempat parkir sepeda di beberapa lokasi.

Tidak lama kemudian, kami langsung berjalan menuju ruang kerjaku di lantai 20 di salah satu Gedung di kompleks perkantoran yang besar dan hebat. Tapi disinilah Otakku mulai uring-uringan. Sama seperti hari-hari biasa. Otakku selalu enggan kuajak naik ke kantorku. “Bosan” katanya. “Kenapa”” tanyaku, sama seperti pertanyaan kemaren-kemaren. “Ya, tahu sendiri, aku tidak suka nganggur” katanya. “Aku bosan kekantor” katanya lebih keras. Inilah dialog yang akhir-akhir ini selalu terjadi antara aku dengan Otakku. Kami selalu bertengkar ketika aku harus melangkahkan kaki menuju ruang kerjaku.

Otakku selalu protes. Tidak lain karena dia merasa, aku kurang menggunakan dirinya selama waktu bekerja. Dia merasa, selama jam kantor, aku terlalu sedikit menggunakan Otakku. Banyak hal-hal yang kulakukan, menurut Otakku tidak masuk akal. Apa boleh buat, untuk yang satu ini, aku belum bisa berkompromi. Selalu terjadi perbedaan pendapat antara aku dengan Otakku. Ya terpaksa aku melangkahkan kaki hanya sendiri tanpa ditemani Otakku.

Kami memang selalu berbeda pendapat. Dan aku tidak ingin dia menguasaiku sehingga cenderung melahirkan pendapat yang kontroversial. Tidak mungkin aku harus terus menerus bertengkar dengannya. Sering dia mengguman yang bisa membuat dadaku sesak dan mukaku memerah. “Bodoh” katanya. “Aku tidak bisa bersahabat dengan orang yang bodoh dan tidak tegas” katanya. Apa boleh buat kataku dalam hati. Mungkin dia benar, tetapi, mana bisa aku selalu harus berbeda dan kontroversial di mata orang lain. Kata bosku, “Dalam hidup ini, ada hal-hal yang kita inginkan, tetapi tidak bisa kita lakukan”. “Ada juga hal-hal yang harus kita lakukan, meskipun tidak sesuai dengan keinginan dan hati nurani kita”. “Kita harus selalu melihat hasil akhir dari cita-cita yang akan kita tuju. Kalau sesuatu itu belum bisa kita jalankan sekarang, kita harus mencari jalan lain, tidak perlu harus bertentangan. Mungkin belum saatnya dilakukan sekarang. Kalau kita terlalu kontradiktif, jangan-jangan kita tidak akan bisa melakukannya sampai kapanpun”. “kita memerlukan strategi dan leadership yang kuat untuk mewujudkan suatu visi” demikian bosku menambahkan.

 “Bagaimanapun, tujuan akhir dari misi ini adalah keberhasilan kita untuk mewujudkannya”. “Apa gunanya kemenangan pribadi, kalau kita tidak mampu mewujudkan sasaran yang lebih besar?” Kata bosku menambahkan lebih keras seperti orang menghardik. Ya dia perlu berkata seperti itu kepadaku, karena, sudah berulang kali dia berkhotbah seperti itu, tetapi, aku masih terlihat bengong, tidak mengerti, dan tidak percaya. Tapi dalam hati aku berkata, bosku memang benar.

 Tentu saja, keberadaan kita tidak lah semata untuk melakukan kewajiban pada pekerjaan kita, tetapi bagaimana agar pimpinan kita juga mampu menerima sikap kita secara baik. Alangkah bahagianya aku memiliki bos-bos yang sangat baik.

Mereka memang orang-orang yang hebat dan sukses. Masih muda tetapi memiliki prestasi gemilang dengan jabatan yang cukup tinggi. Mereka sekaligus sangat bijak dan terlatih membaca keinginan orang. Beberapa diantara mereka adalah kawan-kawan yang sebaya denganku, dan kami sebenarnya termasuk satu angkatan masuk. Bahkan ada yang lebih muda, tetapi sudah mendapatkan posisi yang hebat. Luar biasa, mereka memang hebat. Aku sering memandang diriku yang suka ceroboh. Aku sering terlihat seperti orang yang mau menang sendiri. Terlalu bangga dengan kemampuan sendiri sehingga tidak terlalu meng-apresiasi pandangan orang lain. Tapi, Otakku memiliki pandangan lain.

Menurut Otakku, bos-bosku kebanyakan adalah orang-orang yang hanya pandai menjilat, tidak pernah berusaha memberikan yang terbaik kepada lembaga tempatnya bekerja secara sungguh-sungguh. Mereka adalah orang-orang yang berusaha untuk tidak menyampaikan pandangan yang kritis karena khawatir hal itu dapat menyakitkan atau menyinggung atasannya.

Tidak banyak orang di kantor kami yang berusaha melahirkan semangat inovatif. Hanya sedikit yang berusaha memberikan kontribusi bagi kemajuan organisasi sehingga menjadi lebih baik. Ah Otakku memang aneh. Mau menang sendiri. Seperti pagi ini, dia membiarkan ku melangkah sendiri. Dia hanya duduk-duduk tenang memperhatikanku. Kadang-kadang sedikit mencibir dan mentertawakanku. Bagi Otakku, bekerja seperti yang kulakukan, sesungguhnya tidak memerlukan bantuan Otak. Aku hanya bisa menarik nafas panjang. Sok banget nih Otak!