Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Monday, 23 May 2016

Film Indonesia; ADa APa DeNgAn CintA #2

toto zurianto

Film Indonesia kita sedang in, meramaikan panggung bioskop Indonesia. Jakarta terutama, film Indonesia mulai bisa bersaing. Bahkan dengan Film super Amerika terkenal. Bulai Mei ini, Ada apa dengan Cinta 2, tidak takut bersaing dengan Film Superhero Captain America yang terkenal. Di sebuah gedung bioskop, kita bisa menemukan, dari 6 theatre, hanya ada 2 Film yang diputar, Captai America dan Ada Apa dengan Cinta 2. Koq bisa? Memang bisa, dan itu juga cerita lama, ketika Film Indonesia menguasai seluruh bioskop nasional tahun 70-an, disamping Film drama India dan Film Silat Mandarin, Film Kung Fu  yang luar biasa.

Sekarang kita cukup bangga menyaksikan Ada Apa dengan Cinta 2 mampu menguasai pasar film kita. Bahkan bukan hanya Ada apa dengan Cinta 2. Juga Film My Stupid Boss yang sekarang mulai tayang di bioskop.

Ada beberapa hal yang membuat film kita mulai disukai penggemarnya. Pertama, themanya mulai membaik, tidak horor. Thema Percintaan memang sering old fashioned dan kuno. Tetapi dengan penanganan yang rapi, bisa dinikmati secara maksimal. Tidak kacangan, apalagi hanya sekedar pelampiasan nafsu atau sekedar film horor yang menjijikkan. Sekarang, apakah film drama atau komedi, lumayan bagus untuk dinikmati 90 menit tanpa membosankan. Seperti Ada Apa dengan Cinta 2, themanya biasa, tetapi bisa dinikmati. Ada sedikit konflik, tetapi lebih banyak hiburan menggembirakan. Penonton juga dimanjakan dengan travel Jogjakarta yang luar biasa. Termasuk mengunjungi Phuntuk Setumbu untuk menyaksikan mentari terbit dari sisi lain sekitar Candi  Borobudur. Termasuk wisata kuliner dan seduhan Kopi Indonesia yang indah dinikmati.

Disamping thema, soal teknik senematograpi dan penggarapan, juga semakin profesional. Penggarapan gambar sangat apik dan dengan tata cahaya yang bagus, tidak berlebihan tetapi cukup lembut. Teknik film memang semakin membaik. Banyak perubahan yang menbuat penonton mampu mengikuti alur cerita secara baik.

Lalu, dialognya juga lebih sederhana dan tidak berat. Penonton segala usia tidak perlu mengerutkan dahi untuk memahami alur cerita. Bagi yang tidak menonton AADC 1, tidak harus tersesat ketika hanya menyaksikan Ada Apa dengan Cinta 2. Semuanya berjalan mulus dan rapi. Perubahan cerita, tidak membuat orang tersesat dan bertanya.

Film Indonesia mulai memasuki babak baru. Nama-nama seperti Riri Reza dan Mirna Lesmana, sungguh sebuah jaminan dari sebuah kualitas. Termasuk nama-nama Melly Goeslaw yang menangani Original Sound Track dan Ilustrasi musik. Selamat Film Indonesia.
Post a Comment